Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Live Streaming Bisa Memicu Hubungan Parasosial

4 min read
5 Alasan Live Streaming Bisa Memicu Hubungan Parasosial
ilustrasi live streaming (pexels.com/Ivan S)
  • Frekuensi dan durasi menonton live streaming, yang sering dilakukan sendirian, membuat penonton makin fokus dan merasa dekat dengan sosok di layar.
  • Live streamer yang interaktif, sering tampil, serta menawarkan hadiah dapat membangun ketertarikan, harapan, ketergantungan, dan loyalitas penonton.
  • Popularitas serta jumlah penonton besar kerap membuat streamer dianggap layak dikagumi, meski reputasinya belum jelas dan berpotensi menimbulkan kekecewaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Meski istilah hubungan parasosial mulai terkenal belakangan, sebenarnya fenomena ini sudah ada sejak dahulu. Orang-orang merasakan ketertarikan yang kuat dan perasaan dekat dengan idolanya. Namun, seiring media yang makin berkembang hubungan parasosial juga tambah marak.

Apalagi di era live streaming, semua orang bisa sering muncul di depan kamera dan disaksikan banyak penonton kapan pun mereka mau. Emosi penonton perlahan-lahan dapat lekat dengan sosok yang kerap ditontonnya dalam live streaming. Terdapat satu sosok sebagai pusat perhatian dan lebih banyak orang yang menyaksikan.

Hubungan parasosial yang muncul seiring makin umumnya siaran langsung oleh masyarakat biasa dapat dipahami melalui alasan-alasan berikut. Ini bukan sesuatu yang bisa dipastikan positif atau negatif. Baik atau buruknya hubungan parasosial yang terbentuk sangat tergantung kemampuan tiap orang dalam mengendalikan cara mengekspresikan rasa sukanya terhadap idola.

  1. 1. Live streaming sudah seperti hiburan wajib

    live streaming
    ilustrasi live streaming (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Apa yang otomatis dilakukan olehmu saat ada waktu luang? Mungkin kamu sering membuka-buka smartphone lalu akhirnya menonton live streaming apa pun. Ini terus terulang setiap dirimu agak longgar.

    Bahkan dirimu dapat lupa waktu kalau sudah asyik menonton satu live streaming. Frekuensi serta durasimu mengakses live streaming sangat berpengaruh dalam menumbuhkan hubungan parasosial. Kamu yang menghabiskan banyak waktu di depan layar sambil menikmati live streaming akan merasakan hubungan khusus dengan orang yang selalu muncul di layar.

    Rasanya ada yang kurang kalau sehari saja mereka belum menyaksikan live streaming tersebut. Apalagi orang biasanya menyaksikan live streaming sendirian karena perangkat yang digunakan juga kecil. Ini menyebabkan tidak ada pemecah perhatian. Mereka sangat fokus ke siaran dan segala tentang live streamer terekam dalam ingatan lebih kuat.

  2. 2. Live streamer jago membangun interaksi dengan penonton

    live streaming
    ilustrasi live streaming (pexels.com/Artem Podrez)

    Sekarang dengan kamera di tangan dan akun media sosial, siapa pun bisa melakukan live streaming. Akan tetapi, seberapa kuat hubungan parasosial yang terbentuk sangat tergantung dari kemampuan live streamer. Tidak semua siaran langsung mencapai hasil yang sama.

    Jika live streamer garing selama siaran, tidak komunikatif, membosankan, dan cuma fokus ke keinginan ditonton tanpa peduli pada pemirsa tentu orang-orang juga malas. Konten live streaming-nya akhirnya cuma dilewatkan oleh pemirsa. Kalaupun orang menontonnya tak sampai akhir.

    Sebaliknya, live streamer yang pandai membangun interaksi dengan penonton akan terlihat sangat memikat. Daya tariknya melonjak. Orang-orang dari sekadar menonton karena tidak sengaja menjadi sering menunggu siarannya. Sama seperti artis pun ada yang punya banyak atau sedikit penggemar.

  3. 3. Anggapan semua orang yang muncul di kamera pantas diidolakan

    live streaming
    ilustrasi live streaming (pexels.com/Ben Khatry)

    Terkadang masyarakat terlalu naif dalam memandang popularitas serta figur yang pantas buat diidolakan. Terlepas seseorang punya prestasi nyata atau tidak, kalau dia sering muncul di media sosial maka bisa dinilai layak untuk diidolakan. Orang yang gak punya pengalaman di dunia hiburan pun dapat dianggap sama dengan selebritas papan atas.

    Live streaming memunculkan idola-idola baru di masyarakat. Konsentrasi tak lagi terpusat pada artis yang kerap tampil di layar kaca. Sebagian orang cepat terpukau dengan apa yang dilihatnya di layar gadget.

    Mereka seakan-akan tak perlu tahu lebih banyak tentang sosok live streamer tersebut. Kemunculannya yang sering sudah dianggap sebagai public figure yang pantas dipercaya dan disukai. Hubungan parasosial yang terbentuk antara penonton live streaming dengan live streamer bisa melampaui hubungan dengan artis papan atas yang jarang bahkan tidak pernah live streaming sekalipun prestasinya banyak.

  4. 4. Adanya bagi-bagi hadiah membentuk harapan dan ketergantungan

    live streaming
    ilustrasi live streaming (pexels.com/Kyle Loftus)

    Supaya tidak monoton, live streaming juga kerap diwarnai bagi-bagi hadiah. Bisa dalam bentuk top up e-wallet, uang tunai, atau merchandise. Semua itu menambah ketertarikan penonton. Orang menjadi seperti kecanduan untuk menyaksikannya.

    Meski hadiahnya tidak terlalu besar, rasanya tetap menyenangkan bagi mereka dijanjikan sesuatu oleh live streamer. Ini menjadi tambahan pemikat dibandingkan acara-acara yang hanya menempatkan orang-orang sebagai penonton. Tidak ada kemungkinan imbalan apa pun buat mereka.

    Kian royal orang yang melakukan live streaming, dirinya makin terlihat meyakinkan di mata penonton. Mereka menjadi jauh lebih mudah terpikat dan bersikap loyal terhadapnya. Sedikit imbalan dari kreator konten akan dibalas kesetiaan yang jauh lebih besar dari penontonnya.

  5. 5. Banyaknya jumlah penonton bikin makin kagum

    live streaming
    ilustrasi live streaming (pexels.com/Ron Lach)

    Meski semua orang sekarang dapat melakukan live streaming, kemampuan menjaring penonton bisa sangat berbeda. Ada siaran langsung yang tidak pernah sepi pemirsa. Jam berapa pun live streaming-nya, penonton tetap banyak sekali.

    Sebaliknya, ada pula live streaming yang sepi sekalipun berbagai usaha sudah coba dilakukan. Seperti siaran di jam tertentu, live streamer mencoba seinteraktif mungkin, dan sebagainya. Hubungan parasosial lebih mudah tercipta apabila live streaming-nya selalu ramai.

    Ini mengesankan orang yang melakukannya memang pantas dikagumi. Live streaming yang penontonnya konsisten banyak seolah-olah jaminan bahwa sosok dalam layar benar, baik, sukses, dan memikat. Banyaknya pemirsa menjadi salah satu ukuran kesuksesan siaran.

    Hubungan parasosial yang makin marak seiring era live streaming wajar terjadi, tapi tetap harus diwaspadai. Sosok live streamer yang bisa siapa saja dan belum punya reputasi jelas dapat menimbulkan kekecewaan kalau di kemudian hari ia tersangkut masalah. Pahami risiko tersebut bila kamu juga mulai mengidolakan live streamer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More