Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Mengapa Anak Muda Rentan Terjebak Doom Spending
ilustrasi belanja (unsplash.com/Andrej Lišakov)
  • Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif akibat stres atau kecemasan, yang memberi rasa lega sesaat namun berisiko menimbulkan masalah finansial bila terus berulang.
  • Anak muda rentan terjebak karena tekanan hidup, paparan media sosial, serta kemudahan akses belanja digital yang mendorong keputusan emosional tanpa pertimbangan kebutuhan.
  • Kurangnya perencanaan keuangan dan sulitnya membedakan keinginan dengan kebutuhan membuat pengeluaran sulit dikontrol, sehingga penting membangun kesadaran finansial sejak dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, istilah doom spending sering muncul dalam pembahasan mengenai kebiasaan mengelola keuangan. Doom spending adalah kecenderungan membelanjakan uang secara impulsif sebagai pelarian dari rasa cemas, stres, atau ketidakpastian terhadap masa depan. Kebiasaan ini dapat membuat seseorang merasa lega untuk sesaat, tetapi berisiko menimbulkan masalah finansial jika terus berulang.

Anak muda termasuk kelompok yang cukup rentan mengalami perilaku tersebut karena berada pada fase kehidupan yang penuh perubahan. Tekanan akademik, pekerjaan, hingga tuntutan sosial dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan saat menggunakan uang. Lebih lengkapnya, berikut beberapa alasan yang membuat anak muda lebih mudah terjebak dalam doom spending.

1. Merasa cemas terhadap kondisi masa depan

ilustrasi cemas (unsplash.com/Getty Images)

Ketidakpastian mengenai karier, kondisi ekonomi, atau rencana hidup dapat memicu rasa cemas yang terus muncul. Saat emosi tersebut sulit dikelola, berbelanja sering dipilih sebagai cara cepat untuk memperoleh rasa senang. Perasaan positif itu memang muncul, tetapi biasanya hanya bertahan dalam waktu singkat.

Setelah euforia belanja mereda, rasa cemas yang sama sering kembali muncul. Akibatnya, dorongan untuk kembali membeli barang menjadi semakin kuat. Siklus seperti inilah yang membuat doom spending sulit dihentikan apabila tidak disadari sejak awal.

2. Paparan media sosial yang terus menggoda

ilustrasi sosial media (unsplash.com/Austin Distel)

Media sosial dipenuhi berbagai konten yang menampilkan produk baru, tren gaya hidup, hingga promosi menarik. Paparan tersebut dapat memunculkan keinginan untuk ikut membeli meskipun sebenarnya barang itu belum dibutuhkan. Semakin sering melihat konten serupa, semakin besar pula dorongan untuk berbelanja.

Situasi menjadi lebih rumit ketika muncul rasa takut tertinggal tren atau ingin memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain. Keputusan membeli akhirnya lebih dipengaruhi oleh emosi daripada pertimbangan kebutuhan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat pengeluaran sulit dikendalikan.

3. Kemudahan akses belanja digital

ilustrasi aplikasi belanja online (unsplash.com/Getty Images)

Berbelanja kini bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit melalui ponsel. Berbagai metode pembayaran, promo, dan proses transaksi yang praktis membuat keputusan membeli terasa semakin mudah. Tanpa disadari, kemudahan tersebut juga dapat mengurangi waktu untuk mempertimbangkan apakah sebuah barang memang diperlukan.

Dorongan sesaat akhirnya lebih mudah berubah menjadi transaksi nyata. Apalagi jika ada potongan harga atau penawaran dengan batas waktu tertentu, seseorang bisa merasa harus segera membeli. Padahal, keputusan yang diambil secara tergesa-gesa sering berujung pada penyesalan.

4. Sulit membedakan keinginan dan kebutuhan

ilustrasi belanja online (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Saat mulai memiliki penghasilan sendiri, muncul keinginan untuk menikmati hasil kerja keras. Hal itu tentu tidak salah, tetapi masalah muncul ketika hampir setiap keinginan dianggap sebagai kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Akibatnya, pengeluaran juga menjadi semakin sulit dikontrol.

Membiasakan diri berhenti sejenak sebelum membeli dapat membantu menilai kembali tujuan dari pengeluaran tersebut. Dengan memberi waktu untuk berpikir, keputusan yang diambil akan lebih rasional. Cara ini tentu dapat mengurangi pembelian yang hanya didorong oleh emosi sesaat.

5. Belum memiliki perencanaan keuangan yang jelas

ilustrasi rencana keuangan (unsplash.com/Mika Baumeister)

Tanpa anggaran yang terarah, seseorang akan lebih mudah menggunakan uang sesuai keinginan pada saat itu. Kondisi ini membuat batas antara pengeluaran penting dan pengeluaran hiburan menjadi kabur. Lama-kelamaan, uang habis tanpa benar-benar disadari ke mana perginya.

Menyusun rencana keuangan membantu memberikan gambaran mengenai batas pengeluaran yang aman. Dengan mengetahui tujuan penggunaan uang setiap bulan, keputusan belanja akan lebih mudah dikendalikan. Kebiasaan ini juga membantu menjaga kondisi finansial tetap sehat dalam jangka panjang.

Doom spending tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari tekanan emosional hingga kemudahan berbelanja. Memahami penyebabnya menjadi langkah awal agar setiap keputusan finansial diambil dengan lebih sadar dan tidak sekadar mengikuti dorongan sesaat. Semakin baik kemampuan mengelola emosi dan keuangan, semakin kecil pula risiko terjebak dalam kebiasaan yang dapat merugikan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article