Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Kesalahan Berkebun yang Paling Sering Disesali, Hindari dari Awal

6 Kesalahan Berkebun yang Paling Sering Disesali, Hindari dari Awal
ilustrasi gardening, berkebun (unsplash.com/Jonathan Kemper)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti enam kesalahan umum dalam berkebun yang sering disesali, seperti menanam terlalu banyak tanaman, memilih jenis berperawatan tinggi, hingga mengabaikan ukuran tanaman saat dewasa.
  • Pakar berkebun Stacy Ling menyarankan pemula untuk memulai dari skala kecil dan memilih tanaman lokal agar lebih mudah dirawat serta tahan terhadap perubahan cuaca.
  • Ditekankan pentingnya perencanaan sejak awal—mulai dari pemilihan tanaman, penataan area tanam, hingga pemberian label—agar kebun tetap sehat, rapi, dan efisien dalam jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berkebun memang jadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus bikin rileks. Melihat tanaman tumbuh subur tentu memberikan kepuasan tersendiri, apalagi kalau hasilnya bisa dinikmati setiap hari.

Meski terlihat sederhana, berkebun sebenarnya membutuhkan perencanaan yang matang agar tanaman bisa berkembang dengan baik. Banyak orang baru menyadari kesalahan yang mereka lakukan setelah tanaman telanjur rusak atau bahkan mati.

Kabar baiknya, sebagian besar kesalahan tersebut sebenarnya bisa dicegah sejak awal jika kamu memahami hal-hal mendasar dalam berkebun. Yuk, kenali beberapa kesalahan yang paling sering disesali para pekebun agar kamu bisa menghindarinya sejak langkah pertama.

1. Memulai dengan terlalu banyak tanaman

Seseorang mengenakan kemeja kotak merah dan sarung tangan berkebun sedang merawat tanaman berbunga ungu di kebun hijau.
ilustrasi gardening, berkebun (pexels.com/Helena Lopes)

Semangat berkebun sering kali membuat seseorang ingin menanam banyak jenis tanaman sekaligus. Rasanya semua tanaman terlihat menarik untuk dicoba, mulai dari bunga, sayuran, hingga tanaman hias yang sedang populer. Sayangnya, keputusan ini justru sering berujung pada rasa kewalahan saat harus merawat semuanya.

Pakar berkebun Stacy Ling menjelaskan bahwa banyak pemula mencoba melakukan terlalu banyak hal dalam waktu bersamaan sehingga akhirnya merasa frustrasi. Sebaiknya kamu memulai dari skala kecil dengan beberapa tanaman yang gampang dirawat dan sesuai dengan kondisi iklim tempat tinggalmu. Setelah semakin terbiasa memahami kebutuhan tanaman, barulah kamu bisa menambah koleksi secara bertahap.

2. Memilih tanaman yang membutuhkan perawatan tinggi

Tanaman bonsai dengan bunga putih mekar ditanam dalam pot hias berwarna gelap di area taman yang hijau dan rapi.
ilustrasi tanaman bonsai (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Gak sedikit orang membeli tanaman hanya karena tampilannya cantik tanpa mencari tahu cara perawatannya. Padahal, beberapa tanaman membutuhkan penyiraman lebih sering, pemupukan rutin, atau perlindungan ekstra dari hama dan penyakit. Kalau gak siap memberikan perhatian tersebut, tanaman akan lebih mudah mengalami masalah.

Menurut penjelasan Stacy Ling, tanaman asli yang memang berasal dari wilayah tempat kamu tinggal umumnya jauh lebih mudah dipelihara. Tanaman seperti ini sudah beradaptasi dengan kondisi tanah, curah hujan, dan perubahan suhu di daerah setempat sehingga gak membutuhkan banyak air, pupuk, maupun pengendalian hama. Hasilnya, kebun pun menjadi lebih tahan terhadap perubahan cuaca dan lebih mudah dirawat dalam jangka panjang.

3. Menanam spesies yang bersifat invasif

Tanaman wisteria berwarna ungu tumbuh merambat di pagar kawat di bawah langit cerah dengan latar pepohonan hijau dan bangunan.
ilustrasi tanaman wisteria, invasif (pexels.com/Tito Zzzz)

Banyak orang mengira semua tanaman yang dijual di pasaran pasti aman ditanam di halaman rumah. Kenyataannya, gak selalu demikian. Beberapa spesies justru tergolong invasif dan bisa menyebar dengan cepat hingga mengganggu pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya.

Karena itu, ada baiknya kamu mencari informasi terlebih dahulu sebelum membeli tanaman baru. Cari tahu apakah tanaman tersebut memang cocok ditanam di daerahmu dan gak berpotensi merusak ekosistem setempat. Kebiasaan sederhana ini bisa mencegah masalah yang mungkin baru terasa beberapa tahun kemudian ketika tanaman mulai tumbuh semakin besar.

4. Mengabaikan ukuran tanaman saat sudah dewasa

Pohon cherry blossom bermekaran dengan bunga pink di halaman depan rumah berwarna cokelat pada hari cerah di musim semi.
ilustrasi pohon cherry blossom, halaman rumah, taman rumah (pexels.com/Caio)

Bibit atau tanaman muda memang terlihat kecil sehingga banyak orang menanamnya terlalu dekat dengan rumah, pagar, atau jalur listrik. Saat masih berukuran mungil, penempatannya memang tampak pas dan rapi. Namun, kondisinya bisa berubah drastis ketika tanaman mulai tumbuh sesuai ukuran dewasanya.

Stacy Ling menyarankan agar setiap pekebun selalu memperhatikan informasi tinggi dan lebar maksimum tanaman sebelum menanamnya. Informasi tersebut biasanya tersedia pada label tanaman atau kemasannya. Jika lahannya terbatas, kamu bisa memilih varietas berukuran kecil supaya gak perlu repot memangkas atau memindahkan tanaman di kemudian hari.

5. Menanam terlalu banyak jenis tanaman secara acak

Taman rumah dengan berbagai tanaman hias berwarna-warni dan patung malaikat di antara bunga-bunga yang sedang bermekaran.
ilustrasi taman rumah, gardening, tanaman hias (unsplash.com/Roger Starnes Sr)

Memiliki banyak variasi tanaman memang membuat kebun terasa lebih hidup. Namun, mencampurkan terlalu banyak jenis tanaman dalam satu area justru bisa menyulitkan proses perawatan sehari-hari. Aktivitas seperti membersihkan gulma, memangkas tanaman, atau memberi pupuk menjadi lebih rumit karena setiap tanaman memiliki kebutuhan yang berbeda.

Selain lebih sulit dirawat, susunan tanaman yang terlalu acak juga membuat tampilan kebun terlihat kurang harmonis. Akan lebih baik jika kamu menanam beberapa tanaman sejenis dalam satu kelompok. Selain memberikan kesan lebih rapi dan menarik, cara ini juga mempermudah proses perawatan karena kebutuhan setiap kelompok tanaman relatif sama.

6. Gak memberi penanda pada tanaman

Seorang pria mengenakan kemeja putih sedang berkebun di taman kecil dengan tanaman hijau dan tomat di kotak tanam kayu.
ilustrasi gardening, berkebun (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Kesalahan terakhir yang sering disesali adalah gak memberi tanda atau label pada tanaman. Masalah ini biasanya baru terasa beberapa bulan kemudian ketika tanaman memasuki masa dorman atau daunnya menghilang. Akibatnya, kamu bisa lupa lokasi tanaman tersebut dan berisiko menggali atau menanam sesuatu tepat di atasnya.

Supaya hal itu gak terjadi, biasakanlah memberi label sederhana pada setiap tanaman, terutama yang baru ditanam. Kalau gak mau memasang banyak penanda di kebun, kamu juga bisa membuat catatan atau peta sederhana mengenai posisi setiap tanaman. Cara ini akan sangat membantu ketika musim tanam berikutnya tiba dan kamu ingin menata kebun dengan lebih mudah.

Berkebun memang penuh proses belajar, bahkan bagi orang yang sudah lama menekuninya. Gak semua tanaman akan tumbuh sempurna, tapi banyak kesalahan sebenarnya bisa dihindari jika kamu merencanakan kebun dengan baik sejak awal.

Mulai dari memilih tanaman yang sesuai hingga memberi label pada setiap tanaman, langkah-langkah sederhana tersebut dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya perawatan. Jadi, sebelum mulai menanam, pastikan kamu menghindari enam kesalahan di atas agar kebun tetap sehat, indah, dan menyenangkan untuk dirawat dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More