Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Minum yang Sesuai Hydration Science Saat Ramadan, Sehat!
ilustrasi seseorang minum air putih (freepik.com/shurkin_son)

Pernah gak sih kamu merasa sudah minum banyak saat berbuka, tapi tetap saja kepala terasa berat dan tubuh kurang segar keesokan harinya? Banyak orang mengira yang penting adalah jumlah airnya, padahal cara minum juga menentukan seberapa efektif tubuh menyerap cairan. Saat Ramadan, pola hidrasi berubah total karena kamu gak bisa minum sepanjang hari. Di sinilah hydration science jadi relevan banget untuk dipahami. Bukan cuma soal 'yang penting 8 gelas', tapi bagaimana strategi minumnya supaya tubuh tetap optimal.

Tubuh kamu sebenarnya punya sistem canggih untuk mengatur keseimbangan cairan. Ginjal, hormon, hingga elektrolit bekerja sama menjaga agar sel-sel tetap terhidrasi. Kalau kamu minum terlalu banyak sekaligus, sebagian cairan justru bisa cepat dibuang lewat urine. Sebaliknya, kalau kamu terlalu sedikit minum atau hanya fokus di satu waktu, risiko dehidrasi meningkat. Jadi, yuk kita bahas lima cara minum yang lebih selaras dengan cara kerja tubuh kamu selama Ramadan.

1. Bagi asupan cairan secara bertahap, bukan sekaligus

ilustrasi seseorang minum air putih (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Salah satu kesalahan paling umum adalah langsung minum dalam jumlah besar saat azan magrib berkumandang. Rasanya memang haus banget, jadi ingin meneguk sebanyak mungkin. Tapi dari sisi hydration science, minum terlalu banyak dalam waktu singkat membuat ginjal bekerja ekstra dan membuang kelebihan cairan dengan cepat. Akibatnya, hidrasi gak bertahan lama.

Coba bagi asupan cairan kamu dalam beberapa sesi, misalnya saat berbuka, setelah makan, sebelum tarawih, setelah tarawih, dan menjelang tidur. Dengan pola bertahap, tubuh punya waktu untuk menyerap cairan lebih efektif. Volume darah tetap stabil, dan sel-sel tubuh mendapatkan suplai air secara konsisten. Cara ini juga membantu mencegah rasa begah karena lambung gak 'kaget' menerima banyak cairan sekaligus.

2. Jangan abaikan elektrolit, bukan cuma air putih

ilustrasi seseorang minum air putih (freepik.com/pressfoto)

Air putih memang penting, tapi hidrasi optimal juga melibatkan elektrolit seperti natrium, kalium, dan magnesium. Elektrolit membantu mengatur distribusi cairan di dalam dan luar sel. Kalau kamu hanya minum air dalam jumlah besar tanpa asupan elektrolit yang cukup, keseimbangan cairan bisa kurang optimal. Inilah mengapa makanan saat berbuka dan sahur punya peran besar.

Kamu bisa mendapatkan elektrolit alami dari buah seperti kurma dan pisang, serta sayuran dan sup hangat. Sedikit garam dalam makanan juga membantu retensi cairan yang sehat. Gak perlu minuman isotonik berlebihan jika pola makanmu sudah seimbang. Prinsipnya, hidrasi yang baik adalah kombinasi cairan dan mineral, bukan sekadar volume air.

3. Perhatikan warna urine sebagai indikator sederhana

ilustrasi seseorang minum air putih (pexels.com/Anna Shvets)

Hydration science gak selalu rumit dan penuh angka. Ada cara sederhana yang bisa kamu pakai setiap hari, yaitu melihat warna urine. Jika warnanya bening pucat atau kuning sangat muda, biasanya hidrasi kamu cukup baik. Kalau warnanya kuning pekat atau lebih gelap, itu bisa jadi tanda kamu kurang cairan.

Memantau warna urine membantu kamu menyesuaikan strategi minum tanpa harus menghitung secara detail. Misalnya, jika pagi hari warnanya terlalu gelap, berarti asupan cairan malam sebelumnya kurang optimal. Kamu bisa memperbaikinya di malam berikutnya. Cara sederhana ini membuat kamu lebih sadar terhadap sinyal tubuh sendiri.

4. Hindari minuman tinggi gula dan kafein berlebihan

ilustrasi seseorang buka puasa (pexels.com/Michael Burrows)

Saat berbuka, godaan minuman manis memang sulit ditolak. Sirup, es teh manis, atau minuman kekinian terasa menyegarkan setelah seharian puasa. Namun, minuman tinggi gula dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat lalu turun drastis. Fluktuasi ini bisa membuat kamu merasa lebih lelah dan justru lebih haus.

Kafein juga punya efek diuretik ringan yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil. Kalau kamu minum kopi atau teh dalam jumlah besar di malam hari, cairan bisa lebih cepat keluar dari tubuh. Bukan berarti kamu harus menghindarinya sepenuhnya, tapi batasi jumlahnya dan imbangi dengan air putih. Fokuslah pada minuman yang benar-benar mendukung hidrasi, bukan sekadar memanjakan lidah sesaat.

5. Optimalkan sahur sebagai fondasi hidrasi siang hari

ilustrasi seseorang makan sahur (pexels.com/Thirdman)

Banyak orang terlalu fokus minum saat berbuka, tapi lupa bahwa sahur adalah momen penting untuk menyiapkan tubuh menghadapi puasa. Minum air yang cukup saat sahur membantu menjaga volume cairan di awal hari. Namun, tetap lakukan secara bertahap dan gak berlebihan dalam satu waktu. Kombinasikan dengan makanan yang mengandung air seperti buah dan sayur.

Selain itu, pilih makanan dengan indeks glikemik yang lebih stabil agar tubuh gak cepat kehilangan energi dan cairan. Protein dan serat membantu memperlambat pencernaan, sehingga rasa haus gak terlalu cepat muncul. Dengan strategi sahur yang tepat, tubuh kamu punya 'cadangan' yang lebih baik untuk menghadapi jam-jam panjang tanpa minum. Hidrasi yang baik dimulai sebelum matahari terbit, bukan hanya setelah terbenam.

Menjaga hidrasi saat Ramadan bukan tentang memaksakan diri minum sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Tubuh kamu bekerja dengan ritme dan mekanisme yang perlu dihormati. Dengan membagi asupan cairan, memperhatikan elektrolit, dan memilih jenis minuman yang tepat, kamu bisa tetap segar meski berpuasa seharian. Hidrasi yang cerdas terasa bedanya, bukan cuma di tubuh, tapi juga di fokus dan energi.

Ramadan sebenarnya bisa jadi momen untuk lebih mindful terhadap kebutuhan tubuh. Kamu jadi lebih sadar kapan merasa haus, bagaimana respons tubuh terhadap minuman tertentu, dan apa yang benar-benar membuat kamu merasa bugar. Jadi, daripada sekadar mengejar angka delapan gelas, coba dengarkan sinyal tubuhmu. Dengan strategi yang lebih ilmiah dan terencana, puasa tetap lancar tanpa drama dehidrasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team