Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Jenis Bullying Digital yang Sering Terjadi di Kantor, Wajib Tahu!
ilustrasi perempuan membaca pesan (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Bullying digital di kantor dapat muncul lewat pengabaian pesan kerja berulang, sehingga seseorang kesulitan mendapat respons dan menjalankan tugasnya.
  • Pengucilan terjadi saat pekerja sengaja tidak dimasukkan ke grup atau percakapan penting, terutama berdampak pada koordinasi kerja remote dan hybrid.
  • Sindiran pasif-agresif serta mempermalukan rekan di grup besar berbeda dari evaluasi kerja, terutama jika berulang, menyerang pribadi, dan menekan seseorang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa grup kantor tetap ramai, tetapi pesanmu seperti gak pernah benar-benar dianggap? Informasi penting justru kamu tahu dari obrolan pribadi, sementara beberapa keputusan sudah dibuat tanpa melibatkanmu. Pola seperti ini bisa menjadi bentuk bullying digital di kantor yang sering sulit dikenali karena terjadi lewat hal-hal kecil.

Komunikasi kerja memang sekarang banyak bergantung pada layar ponsel. Satu grup WhatsApp bisa menentukan siapa yang tahu informasi lebih dulu dan siapa yang akhirnya cuma menerima hasilnya. Yuk, simak beberapa bentuk perundungan digital yang bisa muncul di lingkungan kerja.

1. Sengaja mengabaikan pesan kerja di WhatsApp

ilustrasi mengirim pesan (magnific.com/rawpixel-com)

Kamu sudah mengirim pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan, tetapi pesanmu terus dilewati. Orang lain bisa mendapat balasan cepat untuk pertanyaan yang hampir sama. Pola seperti ini bikin komunikasi kerja terasa berat, apalagi saat pekerjaanmu ikut bergantung pada respons tersebut.

Jika terjadi berulang dan hanya diarahkan kepada orang tertentu, masalahnya bukan lagi sekadar telat membalas. Pengabaian digital bisa menjadi bentuk exclude yang membuat seseorang sulit bekerja. Simpan konteks percakapan dan gunakan jalur komunikasi resmi jika pola tersebut mulai mengganggu pekerjaan.

2. Sengaja tidak dilibatkan dalam grup chat kantor

ilustrasi grup chat kantor (pexels.com/Mikhail Nilon)

Grup chat kantor toxic gak selalu dipenuhi pertengkaran terbuka. Tanda lainnya justru terlihat ketika informasi penting dibicarakan di grup tertentu, sementara kamu sengaja gak dimasukkan atau diberi tahu belakangan. Ini lebih mengganggu pekerja remote atau hybrid karena chat menjadi bagian penting dari ruang kerja.

Pengucilan WA kantor bisa membuat seseorang kehilangan informasi yang sebenarnya dibutuhkan untuk bekerja. Bukan cuma soal gak diajak, tetapi akses yang dibuat berbeda tanpa alasan jelas. Jika terjadi terus, catat informasi yang terlewat dan tanyakan kebutuhan akses secara profesional.

3. Melempar sindiran pasif-agresif lewat chat

ilustrasi membaca pesan (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Kalimat seperti pujian yang terasa menyindir sering muncul ketika komunikasi berlangsung lewat teks. Pesan pendek juga mudah dibuat seolah bercanda, padahal isinya menyoroti kesalahan seseorang di depan rekan kerja. Karena gak ada intonasi, penerima akhirnya harus menebak maksud sebenarnya.

Sindiran berulang dapat menciptakan tekanan yang berbeda dari kritik kerja biasa. Kritik membahas pekerjaan dan memberi ruang memperbaiki, sedangkan sindiran cenderung menyerang orangnya. Saat membalas, arahkan percakapan kembali pada fakta pekerjaan agar batas komunikasi tetap jelas.

4. Sengaja meninggalkan seseorang dari percakapan kerja

ilustrasi perempuan menggunakan handphone (pexels.com/Los Muertos Crew)

Melihat keputusan penting dibahas dalam chat kecil, lalu hasilnya tiba-tiba muncul di grup utama bisa terasa janggal. Jika pola itu berulang dan orang yang sama terus tertinggal, bentuk pengucilan digital mulai terlihat. Situasinya makin rumit ketika keputusan tersebut berkaitan langsung dengan tugas orang yang gak dilibatkan.

Dalam kerja hybrid, akses informasi adalah bagian dari koordinasi. Ketika akses itu sengaja dibatasi, seseorang bisa terlihat kurang terlibat padahal memang gak diberi ruang mengikuti pembahasan. Meminta rangkuman keputusan dan memastikan pihak terkait dilibatkan bisa menjadi langkah praktis.

5. Mempermalukan rekan kerja di ruang digital

ilustrasi tertawa dengan rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Kesalahan kerja bisa dibahas tanpa harus menjadikan seseorang bahan tontonan. Namun, dalam beberapa kasus, koreksi justru sengaja disampaikan di grup besar dengan nada mengejek atau menyudutkan. Pola seperti ini bisa masuk ke bentuk cyberbullying kerja ketika dilakukan berulang untuk mempermalukan atau menekan seseorang.

Perbedaan antara evaluasi dan perundungan bisa dilihat dari cara serta tujuannya. Evaluasi seharusnya membantu pekerjaan menjadi lebih baik, bukan membuat seseorang kehilangan rasa aman saat berkomunikasi. Jika komentar menyerang pribadi, simpan bukti dan pertimbangkan jalur pelaporan di tempat kerja.

Bullying digital di kantor sering sulit dikenali karena bentuknya menyatu dengan rutinitas komunikasi. Kamu gak harus menganggap semua chat yang bikin gak nyaman sebagai perundungan, tetapi pola yang berulang layak diperhatikan. Memahami bentuknya bisa membantu kamu membedakan masalah komunikasi biasa dari perlakuan yang memang perlu ditindaklanjuti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article