Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tanda Kamu Jadi Pelaku Bullying di Kantor Tanpa Sadar, Hati-hati!

3 min read
5 Tanda Kamu Jadi Pelaku Bullying di Kantor Tanpa Sadar, Hati-hati!
ilustrasi tertawa dengan rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)
Share Article

Bercanda di kantor memang sering jadi cara paling mudah mencairkan suasana. Namun, candaan yang terasa biasa buatmu bisa saja membuat rekan kerja memilih diam atau menjauh. Situasi seperti ini patut diperhatikan, terutama ketika pola yang sama terus berulang.

Menjadi pelaku bullying di kantor gak selalu dimulai dari niat menyakiti orang lain. Sikap yang dianggap lucu, akrab, atau sekadar spontan bisa berubah menjadi tekanan bagi rekan kerja. Yuk simak tanda-tanda yang perlu kamu cek sebelum candaan melewati batas.

  1. 1. Kamu sering menjadikan satu orang sebagai bahan candaan

    Seorang perempuan tertawa lepas dengan ekspresi bahagia dalam ilustrasi, karya BSM Rental di Pexels.
    ilustrasi perempuan tertawa (pexels.com/BSM Rental)

    Nama orang yang sama mungkin paling sering muncul ketika obrolan mulai ramai. Kamu tahu kebiasaan, penampilan, kesalahan kerja, atau kehidupan pribadinya sehingga bahan bercanda terasa gampang ditemukan. Masalahnya, frekuensi yang terus berulang bisa membuat candaan terasa seperti penandaan terhadap satu orang.

    Kamu mungkin merasa hubungan kalian cukup dekat untuk melakukan itu. Namun, kedekatan gak otomatis membuat semua candaan terasa aman bagi penerimanya. Coba perhatikan apakah orang tersebut ikut tertawa dengan nyaman atau justru hanya tersenyum, diam, lalu mengalihkan pembicaraan.

  2. 2. Kamu menganggap reaksi tersinggung sebagai terlalu sensitif

    Seorang pria dan perempuan berdiskusi tegang di kantor, dengan rekan kerja lain duduk di belakang mereka.
    ilustrasi berdebat dengan rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

    Ketika seseorang keberatan, respons pertamamu mungkin justru menjelaskan bahwa itu cuma bercanda. Kamu lalu menyebutnya terlalu sensitif, baper, atau gak bisa diajak bercanda. Pola ini membuat masalah bergeser dari perilaku yang dilakukan menjadi reaksi orang yang menerimanya.

    Padahal, niat dan dampak bisa menjadi dua hal yang berbeda. Dalam komunikasi kerja, candaan menyinggung rekan kerja tetap perlu dievaluasi meski maksud awalnya gak buruk. Mendengarkan keberatan tanpa langsung membela diri bisa membantu kamu melihat bagian yang selama ini luput.

  3. 3. Kamu sering memberi komentar kecil yang merendahkan

    Ilustrasi perundungan di kantor dengan seorang pekerja menghadapi tekanan dari rekan kerja di lingkungan profesional.
    ilustrasi bullying di kantor (pexels.com/Yan Krukau)

    Komentarmu mungkin terdengar sepele karena disampaikan sambil tertawa. Misalnya, mengomentari cara bicara, pakaian, kemampuan, usia, atau latar belakang seseorang berulang kali. Jika komentar semacam itu terus diarahkan pada orang tertentu, bentuknya bisa masuk ke pola microaggression kerja.

    Hal kecil yang terjadi berulang dapat mengubah suasana kerja tanpa terasa dramatis. Rekanmu mungkin tetap bekerja seperti biasa, tetapi mulai membatasi cerita atau interaksi denganmu. Karena itu, perhatikan bukan hanya kata-kata yang keluar, tetapi juga pola hubungan yang terbentuk setelahnya.

  4. 4. Kamu ikut menertawakan kesalahan orang di depan banyak orang

    Sejumlah rekan kerja duduk berkumpul di ruang kantor, berbincang dan berinteraksi dalam suasana kerja santai.
    ilustrasi berkumpul dengan rekan kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Kesalahan kerja memang bisa menjadi bagian dari proses belajar. Namun, menjadikannya tontonan di depan tim membuat posisi orang tersebut semakin sulit. Apalagi jika kamu ikut menyebarkan cerita setelah kejadian, meski awalnya hanya ingin membuat suasana lebih santai.

    Humor yang melibatkan kegagalan orang lain punya dampak berbeda ketika disampaikan di ruang publik. Posisi sebagai rekan kerja membuatmu punya pilihan untuk meredakan situasi, bukan memperpanjang rasa malu. Jika kesalahan memang perlu dibahas, fokuskan pembicaraan pada pekerjaan dan langkah perbaikannya.

  5. 5. Kamu baru merasa bercanda setelah melihat orang lain ikut melakukannya

    Ilustrasi seseorang tertawa lepas dengan ekspresi ceria, menggambarkan suasana gembira dan penuh kebahagiaan.
    ilustrasi orang tertawa (magnific.com/magnific)

    Perilaku toxic di kantor sering terasa normal ketika dilakukan ramai-ramai. Kamu mungkin ikut tertawa karena rekan lain sudah lebih dulu melontarkan komentar tentang seseorang. Tanpa sadar, kehadiranmu ikut membuat perilaku tersebut terlihat wajar dan sulit dihentikan.

    Refleksi paling berguna justru muncul ketika kamu melihat peranmu di dalam kelompok. Kamu gak harus menjadi orang yang paling keras untuk ikut menciptakan lingkungan yang gak nyaman. Mulailah dengan berhenti menimpali candaan yang merendahkan dan mengubah arah obrolan ketika sudah melewati batas.

    Menjaga etika komunikasi di kantor bukan berarti harus kehilangan selera humor. Kamu tetap bisa bercanda tanpa menjadikan kelemahan, identitas, atau kesalahan seseorang sebagai bahan hiburan. Cek kembali caramu berkomunikasi, karena rasa aman rekan kerja juga terbentuk dari hal-hal kecil yang kamu lakukan setiap hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More