ilustrasi scroll ponsel (pexels.com/Charlotte May)
Media sosial memang memberi ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan untuk berkomentar tidak selalu berarti setiap orang perlu memberikan komentar terhadap segala sesuatu. Budaya internet yang mendorong orang untuk ikut memberikan opini dapat membuat kehidupan pribadi orang lain terasa seperti konsumsi publik.
Hal ini semakin rumit ketika kesalahan seseorang dianggap sebagai alasan bagi siapa pun untuk ikut menghakimi. Satu kritik bisa berubah menjadi ratusan komentar, lalu berkembang menjadi ejekan terhadap fisik, keluarga, atau kehidupan pribadi yang sebenarnya tidak berkaitan dengan masalah awal. Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar menyampaikan pendapat, tetapi bagaimana budaya komentar dapat membuat batas antara kritik, penghakiman, dan perundungan semakin sulit dibedakan.
Cyberbullying memang bisa dilakukan oleh orang yang sengaja ingin menyakiti orang lain. Namun, penyebarannya tidak selalu membutuhkan niat yang sama dari semua orang. Budaya viral, algoritma, kebiasaan ikut meramaikan, jarak di balik layar, dan dorongan untuk selalu berkomentar dapat membuat sebuah serangan berkembang jauh melampaui titik awalnya.
Oleh karena itu, memahami budaya internet juga berarti memahami bagaimana kita sendiri bisa ikut menentukan apakah sebuah perundungan berhenti di satu layar atau terus menyebar ke ribuan layar lainnya.