Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kesalahan Menerapkan Stoikisme yang Bikin Kamu Jadi Gak Peduli

3 min read
5 Kesalahan Menerapkan Stoikisme yang Bikin Kamu Jadi Gak Peduli
ilustrasi perempuan tenang (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Stoikisme bukan berarti cuek atau pasrah; seseorang tetap perlu menyampaikan perasaan, batas, dan tanggung jawab atas tindakannya meski hasil akhir tak bisa dikendalikan.
  • Mengelola emosi tidak sama dengan menekannya. Rasa marah, sedih, dan kecewa boleh diakui, lalu direspons secara sadar tanpa membiarkannya menguasai keputusan.
  • Prinsip kendali tidak membenarkan menghindari konflik, mengabaikan orang lain, atau bertahan dalam hubungan merugikan; kepedulian dan perlindungan diri tetap penting.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Stoikisme belakangan sering dipakai sebagai pegangan untuk menghadapi berbagai masalah. Saat seseorang mengecewakan, bikin kesal, atau bertindak di luar harapan, respons yang muncul bisa saja cukup sederhana, yaitu memilih untuk gak terlalu memikirkannya. Sikap tenang seperti ini memang terlihat dewasa, tetapi belum tentu menunjukkan bahwa kamu sudah memahami stoikisme dengan tepat.

Masalahnya, ketenangan dan sikap gak peduli punya batas yang cukup tipis. Menerima sesuatu yang gak bisa dikendalikan bukan berarti kamu harus berhenti peduli pada orang lain atau mengabaikan keadaan sekitar. Yuk simak beberapa kesalahan stoikisme yang justru bisa bikin penerapannya melenceng dari tujuan awal.

  1. 1. Mengira gak peduli adalah tanda sudah menerima keadaan

    ilustrasi perempuan mendengarkan
    ilustrasi perempuan mendengarkan (pexels.com/Anna Shvets)

    Ketika seseorang mengecewakanmu, kamu mungkin memilih diam dan berkata bahwa semuanya berada di luar kendali. Kamu gak lagi menanyakan alasan, menyampaikan keberatan, atau mencoba memperbaiki hubungan. Sikap ini memang terasa tenang, tetapi bisa saja sebenarnya kamu sedang menghindari percakapan yang gak nyaman.

    Dalam penerapan stoikisme, menerima keadaan bukan berarti membiarkan semua hal berlalu begitu saja. Kamu tetap bisa memilih respons yang masuk akal, termasuk menyampaikan batas dan perasaan dengan tenang. Menerima hasil akhirnya berbeda dengan melepaskan tanggung jawab terhadap tindakanmu.

  2. 2. Menahan emosi sampai terlihat seperti gak punya perasaan

    ilustrasi orang mengobrol
    ilustrasi orang mengobrol (magnific.com/magnific)

    Saat marah, sedih, atau kecewa, kamu mungkin langsung mengingat bahwa emosi gak akan mengubah keadaan. Akhirnya, semua perasaan ditahan karena dianggap mengganggu ketenangan yang sedang dibangun. Padahal, mengenali emosi berbeda dengan membiarkan emosi mengambil alih keputusan.

    Salah satu miskonsepsi stoik adalah menganggap orang yang tenang harus selalu terlihat datar. Stoikisme mengajarkan pengelolaan respons, bukan kewajiban untuk menghapus rasa sedih atau marah. Kamu boleh merasa kecewa, lalu menentukan tindakan tanpa membiarkan rasa kecewa mengendalikan semuanya.

  3. 3. Menganggap masalah orang lain bukan urusanmu

    ilustrasi membantu rekan kerja
    ilustrasi membantu rekan kerja (magnific.com/DC Studio)

    Teman sedang kewalahan, tetapi kamu memilih gak ikut campur karena merasa masalah itu bukan kendalimu. Kamu mungkin hanya memberi nasihat singkat, lalu kembali mengurus hidup sendiri tanpa melihat kebutuhan orang tersebut. Dalam situasi tertentu, jarak seperti ini memang sehat, tetapi bukan berarti setiap bentuk kepedulian harus dihentikan.

    Kesalahan stoikisme muncul ketika prinsip tentang kendali dipakai untuk membenarkan ketidakpedulian. Kamu gak bisa mengatur masalah orang lain, tetapi kamu masih bisa menawarkan bantuan atau mendengarkan. Perbedaan kecil ini penting karena kepedulian gak selalu berarti mengambil alih hidup seseorang.

  4. 4. Menjadikan ketenangan sebagai alasan menghindari konflik

    ilustrasi bertengkar dengan teman
    ilustrasi bertengkar dengan teman (pexels.com/Liza Summer)

    Kamu mungkin merasa sudah lebih dewasa karena gak membalas sindiran atau memperpanjang perdebatan. Namun, memilih diam terus-menerus juga bisa membuat masalah yang sebenarnya perlu dibahas semakin menumpuk. Ketenangan yang sehat seharusnya membantu kamu berbicara lebih jernih, bukan membuatmu menghilang dari situasi.

    Dalam penerapan stoikisme, kamu tetap punya kendali atas cara menyampaikan keberatan. Kamu bisa tegas tanpa menghina, menolak tanpa merendahkan, dan berbeda pendapat tanpa harus meledak. Jadi, ukuran ketenangan bukan seberapa sedikit kamu bereaksi, melainkan seberapa sadar kamu memilih respons.

  5. 5. Menggunakan stoikisme untuk membenarkan hubungan yang gak sehat

    ilustrasi pasangan silent treatment
    ilustrasi pasangan silent treatment (magnific.com/Drazen Zigic)

    Kamu bertahan dalam hubungan yang melelahkan karena merasa harus menerima orang lain apa adanya. Setiap perilaku yang menyakitkan kemudian dianggap sebagai sesuatu yang perlu ditoleransi demi menjadi pribadi yang lebih kuat. Padahal, menerima kenyataan gak berarti kamu harus terus berada dalam kondisi yang merugikan.

    Stoikisme gak mengharuskan kamu pasrah terhadap semua perlakuan orang lain. Kamu tetap punya kendali untuk menetapkan batas, mengambil jarak, atau mengakhiri hubungan yang terus merusak keseharianmu. Penerimaan seharusnya membuat keputusanmu lebih jernih, bukan membuatmu kehilangan keberanian untuk melindungi diri.

    Stoikisme bisa membantu kamu menghadapi keadaan dengan kepala lebih dingin. Namun, tenang bukan berarti mati rasa, dan menerima bukan berarti membiarkan semuanya terjadi. Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk tetap peduli tanpa kehilangan kendali atas dirimu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More