ilustrasi hobi, kolektor, koleksi mainan (unsplash.com/Anthony Roberts)
Mengoleksi barang pada dasarnya merupakan hobi yang normal dan gak selalu berkaitan dengan gangguan psikologis. Selama dilakukan secara terencana serta gak mengganggu aktivitas sehari-hari, kegiatan tersebut justru dapat memberikan rasa puas, memperkaya pengetahuan, dan menjadi sarana menyalurkan minat pribadi. Karena itu, seseorang gak bisa langsung disebut hoarder hanya karena memiliki banyak koleksi.
Sebaliknya, hoarding disorder sering kali membawa dampak yang lebih luas, bukan hanya bagi penderitanya tapi juga keluarga yang tinggal serumah. Sebuah tinjauan penelitian dalam Journal of Psychiatric and Mental Health Nursing menunjukkan bahwa hoarding disorder dapat menurunkan kualitas hidup, memicu tekanan emosional, serta meningkatkan konflik di dalam keluarga. Oleh karena itu, para peneliti menekankan bahwa penderita membutuhkan dukungan dan penanganan yang tepat, bukan sekadar menerima stigma atau penilaian negatif dari lingkungan sekitar.
Walaupun sama-sama menyimpan banyak barang, hoarder dan kolektor memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Kolektor mengumpulkan barang secara terencana, memilih koleksi dengan tujuan yang jelas, dan tetap mampu menjaga fungsi tempat tinggalnya.
Sebaliknya, hoarding disorder merupakan kondisi kesehatan mental yang dapat memengaruhi kualitas hidup, hubungan dengan keluarga, hingga aktivitas sehari-hari. Memahami perbedaan ini akan membantumu melihat seseorang secara lebih objektif dan menghindari kesalahan dalam memberi label. Dengan begitu, kamu juga bisa menunjukkan empati yang lebih tepat kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan dukungan.