9 Langkah Cegah Hoarding Disorder, Jangan Memendam Masalah

- Hoarding disorder adalah gangguan mental yang membuat seseorang menumpuk barang tak terpakai hingga mengganggu kebersihan dan kesehatan tempat tinggal.
- Artikel ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan, berbagi masalah saat stres, serta aktif bergerak agar tidak terjebak dalam perilaku menimbun barang.
- Sembilan langkah pencegahan termasuk hidup minimalis, rutin membuka jendela, menyediakan banyak tempat sampah, dan melibatkan diri dalam kegiatan pengelolaan sampah.
Hoarding disorder merupakan gangguan mental yang membuat seseorang cenderung menumpuk barang tak terpakai, bahkan jelas-jelas sampah, di tempat tinggalnya. Seperti dalam beberapa video viral yang menunjukkan rumah atau kamar kos-kosan joroknya minta ampun. Segala sampah bekas kemasan makanan dan minuman menumpuk di lantai.
Gangguan ini memang membutuhkan penanganan serius dari ahli jiwa. Namun, kamu yang sampai hari ini tidak begitu pun, bukan tak mungkin pelan-pelan mengarah pada hoarding disorder. Dalam situasi tertentu seperti stres atau mager berlebihan, gangguan ini dapat muncul.
Oleh sebab itu, dirimu jangan cuma asyik menonton video viral tentang seseorang yang menderita hoarding disorder. Kamu juga perlu secara sadar serta aktif mencegah hal serupa terjadi padamu. Berikut langkah-langkah cegah hoarding disorder yang bisa dimulai dari hal sederhana.
1. Kalau stres karena masalah jangan dipendam sendiri

Kamu tidak pernah benar-benar sendirian di dunia ini. Dirimu punya banyak teman dan saudara. Bahkan ketika kamu berada di tempat umum seperti ruang tunggu pun, percakapan yang menyinggung persoalanmu bisa dimunculkan bila dirimu mau.
Solusi bukan satu-satunya yang dicari. Akan tetapi, perasaan lebih lega karena ada orang untuk berbagi. Jangan terlalu tertutup tentang masalah hidupmu daripada tekanan dalam diri bertambah besar sampai tidak terkendali.
2. Pahami pentingnya kebersihan tempat tinggal

Kamu mungkin merasa sejak kecil orangtuamu sudah bawel sekali soal kebersihan. Dirimu berperilaku jorok sedikit saja langsung diomeli dan disuruh membersihkan. Memang sepenting itu kebersihan di tempat tinggal. Kamu makan, tidur, buang air, juga belajar atau bekerja di rumah. Tempat tinggal yang kotor menjadi sarang penyakit dan bikin suasana hati buruk.
3. Dorong diri untuk aktif bergerak

Tekanan mental bukan satu-satunya penyebab hoarding disorder. Kamu bisa pelan tapi pasti menjadi kian jorok apabila kelewat mager. Dirimu menaruh pakaian kotor ke keranjang cucian saja, malas.
Akhirnya baju kotor cuma dilempar ke sana-kemari. Begitu juga, setiap kotak keramik menjadi tempat pembuangan sampah. Sudahi gaya hidup mager yang separah ini. Taruh gadgetmu, bikin daftar apa yang mesti dilakukan sekarang dan nanti, lalu laksanakan.
4. Sediakan lebih dari satu tempat sampah

Intinya sih, kamu mesti dibuat merasa semudah mungkin untuk membuang sampah pada tempatnya. Jika tempat sampah gak ada atau hanya ada satu dan letaknya jauh, pasti menjadi pembenaran untukmu membuang apa pun secara sembarangan. Di area dalam rumahmu dapat menyediakan tempat sampai lebih dari satu.
Seperti setiap kamar, dapur, ruang tamu, dan ruang tengah. Kemudian halaman belakang serta depan. Model tempat sampah sebaiknya juga menarik agar dirimu lebih termotivasi buat menggunakannya. Bukan banyak tempat sampah cuma jadi pajangan, sedangkan kotoranmu tetap berserakan.
5. Langganan tukang sampah atau ikut bank sampah

Dengan berlangganan sampah, kamu mengeluarkan uang yang gak sedikit per bulannya. Tidak mungkin dirimu mau terus membayar apabila tukang sampah gak mengangkut sampah dari rumahmu. Ini mendorongmu untuk rajin mengeluarkan sampah.
Kamu juga bisa menjadi nasabah bank sampah bila sudah ada di kotamu. Beda dengan dirimu yang berlangganan pada tukang sampah, sebagai nasabah bank sampah malah dibayar. Sampahmu ditukar dengan sejumlah uang. Ini pun meningkatkan semangatmu untuk membuang sampah.
6. Cukup sering mengundang tamu ke rumah

Kehadiran orang lain berguna untuk menambah kesadaranmu tentang pentingnya merapikan rumah atau kamar kos. Sedikit banyak kamu pasti merasa gak enak apabila tamu melihat rumahmu yang jorok. Mengundang tamu setiap akhir pekan pun sudah cukup agar dirimu lebih rajin beres-beres.
7. Hidup minimalis

Penderita hoarding disorder memang tidak sama dengan seorang kolektor. Orang yang gemar mengoleksi barang akan mengumpulkan benda-benda tertentu saja. Pun kondisinya masih sangat baik meski jadul.
Sering kali barang masih punya nilai jual yang lumayan. Bukan sekadar sampah yang bertahun-tahun tidak dikeluarkan. Akan tetapi, kegemaran terus membeli dan menyimpan barang hingga tidak jelas kegunaannya dapat mempermudah kamu terjebak hoarding disorder ketika ada faktor pemicu seperti depresi.
8. Kerap membuka jendela lebar-lebar

Dari beberapa video viral terkait hoarding disorder, kamu bisa melihat satu kesamaan. Selain tumpukan sampah dalam ruangan, jendela juga selalu tertutup. Kalau pintu lebih kerap ditutup, masih wajar.
Sebab pintu terbuka dapat mengundang orang jahat masuk dengan sangat mudah. Jendela, meski terbuka, relatif lebih aman. Orang dengan hoarding disorder berusaha menyembunyikan tumpukan sampah mereka.
Oleh sebab itu, rutinlah membuka jendela kamar kos atau rumah lebar-lebar. Seakan-akan kamu mengatakan kepada dunia bahwa kamu tidak sedang menyembunyikan sampah apa pun di balik penampilanmu sehari-hari yang rapi. Ini juga membangun kesadaran mengenai adanya orang yang bisa melihat kejorokanmu dari luar, sehingga perilakumu lebih terkontrol.
9. Lawan rasa sayang tiap hendak membuang barang gak terpakai

Kamu perlu terus mengingatkan diri saat berhadapan dengan benda-benda yang sesungguhnya tak lebih dari sampah. Semua itu bukan emas batangan atau sesuatu yang berharga lainnya. Kamu gak bakal memakainya kembali.
Lebih baik sampah disingkirkan supaya rumah bersih dan lebih lega. Soal gelas plastik bekas minuman, misalnya. Suatu saat dirimu butuh buat acara, juga bisa membeli gelas plastik baru. Apalagi jenisnya memang sekali pakai dan tidak aman digunakan berulang kali.
Jika langkah cegah hoarding disorder sudah dilakukan, namun seseorang sudah telanjur mengalaminya, tentu butuh penanganan yang lebih intensif dari psikolog atau psikiater. Maka dari itu, jangan menyepelekan persoalan bersih-bersih tempat tinggal. Jangan sampai cuma soal waktu untukmu juga suka menimbun sampah.