Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Salah Kaprah 'Adulting' yang Bikin Hidup Terasa Sulit Dijalani
ilustrasi berpikir, merenung, melihat pemandangan, sendirian (magnific.com/wirestock)
  • Adulting bukan kemampuan tunggal yang harus dikuasai sempurna; tiap orang punya kekuatan dan kelemahan berbeda, sehingga pengembangan diri bisa dilakukan bertahap.
  • Kebingungan, bertanya, mencari informasi, serta merasa canggung saat menghadapi urusan dewasa merupakan bagian dari proses belajar, bukan tanda ketidakmampuan.
  • Keberanian bertindak tak bergantung pada sifat ekstrover atau rasa percaya diri penuh; pengalaman dan informasi sederhana yang dibagikan dapat membantu diri sendiri maupun orang lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi orang dewasa sering kali terasa seperti harus sudah tahu segala hal, mulai dari mengatur uang, pekerjaan, sampai mengambil keputusan penting sendiri. Padahal, gak ada buku panduan lengkap yang otomatis bikin kamu jago menjalani kehidupan setelah memasuki usia dewasa, lho.

Kamu mungkin melihat orang lain tampak sangat teratur dan percaya diri, lalu menganggap mereka pasti lebih hebat dalam menghadapi berbagai urusan hidup. Tanpa sadar, anggapan seperti ini justru bisa membuatmu merasa tertinggal atau kurang kompeten. Padahal, ada beberapa salah kaprah soal adulting yang sebenarnya bikin kehidupan terasa jauh lebih sulit daripada seharusnya.

1. Mengira adulting adalah satu kemampuan yang harus dikuasai semuanya

ilustrasi budgeting (vecteezy.com/Ekachai Lohacamonchai)

Salah satu kesalahpahaman tentang adulting adalah menganggap kemampuan menjadi orang dewasa sebagai satu paket yang harus kamu kuasai sekaligus. Misalnya, seseorang yang hebat dalam pekerjaan dianggap pasti jago mengatur keuangan, mengurus rumah, bernegosiasi, atau mengambil keputusan penting. Padahal, kemampuan setiap orang sebenarnya gak merata dan bisa punya kelebihan sekaligus kekurangan di bidang yang berbeda. Jadi, jangan langsung menganggap dirimu gak becus hanya karena ada urusan tertentu yang belum kamu kuasai.

Kamu mungkin sangat pintar mengatur pekerjaan, tapi masih sering bingung ketika harus mengurus administrasi atau bernegosiasi dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang terlihat sangat lihai mengurus berbagai urusan sehari-hari belum tentu punya kemampuan profesional yang sama kuatnya denganmu. Daripada terlalu fokus pada kemampuan yang masih menjadi kelemahan, kamu bisa memanfaatkan kekuatan yang sudah kamu punya sambil perlahan memperbaiki bagian yang masih tertinggal. Dengan begitu, adulting gak lagi terasa seperti ujian yang menuntutmu sempurna di semua bidang.

2. Mengira adulting yang hebat harus selalu terlihat "rapi"

ilustrasi menelepon (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Kamu mungkin membayangkan orang yang jago menjalani kehidupan dewasa sebagai sosok yang selalu tahu harus melakukan apa. Mereka terlihat punya jawaban untuk setiap masalah, tahu siapa yang harus dihubungi, dan bisa menyelesaikan berbagai urusan tanpa terlihat kebingungan. Padahal, banyak hal dalam kehidupan orang dewasa punya semacam “kurikulum tersembunyi” yang baru kamu pahami setelah benar-benar mengalaminya. Artinya, wajar kalau kamu harus bertanya, mencari informasi, menelepon orang lain, atau mencoba beberapa cara sebelum akhirnya menemukan solusi.

Misalnya, ketika ingin membeli kendaraan, memperbaiki rumah, memahami kontrak, atau mencari pekerjaan sampingan, kamu mungkin harus bertanya kepada banyak orang terlebih dahulu. Proses tersebut memang bisa membuatmu merasa seperti orang yang gak tahu apa-apa, tapi sebenarnya kamu sedang melakukan sesuatu yang penting. Kamu sedang mengumpulkan informasi yang memang gak selalu tersedia secara jelas sejak awal. Jadi, jangan menganggap proses yang berantakan sebagai tanda bahwa kamu gagal menjadi orang dewasa, ya, karena justru dari proses itulah banyak kemampuan baru terbentuk.

3. Mengira cuma orang ekstrover yang jago bertanya

ilustrasi komunikasi (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ketika berhadapan dengan situasi yang terasa canggung, kamu mungkin berpikir bahwa hanya orang yang percaya diri dan mudah bergaul yang mampu menghadapinya. Padahal, adulting sering kali justru membutuhkan keberanian untuk bertanya meski kamu merasa gak enak atau takut dianggap merepotkan. Contohnya, kamu bisa meminta waktu untuk membaca kontrak sebelum menandatanganinya atau meminta penjelasan lebih detail ketika saran seorang profesional terasa belum sesuai dengan kebutuhan. Kamu juga berhak meminta bukti atau dokumentasi ketika merasa perlu memastikan sesuatu.

Kemampuan menghadapi situasi seperti ini gak hanya berasal dari sifat ekstrover atau kemampuan berbicara dengan lancar. Sifat hati-hati, teliti, dan terbiasa memperhatikan detail juga bisa menjadi kekuatan yang sangat berguna ketika kamu harus mengambil keputusan. Bahkan, pengalaman yang kamu dapatkan setelah bertahun-tahun berinteraksi dengan orang lain bisa membuatmu lebih siap menghadapi situasi yang awalnya terasa canggung. Jadi, kalau kamu bukan tipe orang yang suka banyak bicara, bukan berarti kemampuan adulting-mu lebih rendah, lho.

4. Mengira orang lain lebih percaya diri menjalani adulting

ilustrasi berpikir, menulis, pusing, catatan (magnific.com/benzoix)

Pernah melihat seseorang yang rela membandingkan beberapa pilihan sebelum mengambil keputusan, lalu berpikir, “Kok dia bisa yakin banget, ya?” Padahal, tindakan yang terlihat percaya diri belum tentu dilakukan tanpa rasa gugup atau ragu, lho. Seseorang bisa saja merasa gak nyaman ketika harus meminta beberapa penawaran harga, berkonsultasi dengan beberapa profesional, atau mempertanyakan keputusan yang sudah dibuat orang lain. Bedanya, mereka tetap melakukan hal tersebut meskipun sebenarnya merasa canggung.

Misalnya, kamu perlu memperbaiki sesuatu di rumah dan memutuskan meminta penawaran dari beberapa penyedia jasa. Setelah menemukan harga yang paling cocok, kamu bahkan bisa kembali bernegosiasi untuk mendapatkan syarat yang lebih menguntungkan. Dari luar, tindakan tersebut memang terlihat seperti dilakukan oleh orang yang sangat percaya diri, padahal bisa saja kamu juga merasa gak enak saat melakukannya. Jadi, jangan menunggu sampai merasa percaya diri dulu untuk bertindak, ya, karena keberanian dalam adulting sering kali muncul setelah kamu berani mengambil langkah tersebut.

5. Mengira semua orang sudah tahu apa yang kamu tahu

ilustrasi teman (pexels.com/Arina Krasnikova)

Semakin banyak pengalaman yang kamu punya, semakin banyak pula pengetahuan kecil yang sebenarnya bisa membantu orang lain. Sayangnya, kamu mungkin sering menganggap informasi tersebut terlalu sederhana untuk dibagikan karena berpikir orang lain pasti sudah mengetahuinya. Padahal, pengalaman setiap orang berbeda sehingga hal yang menurutmu biasa saja bisa jadi justru merupakan informasi baru bagi orang lain. Kebiasaan menganggap semua orang sudah tahu juga bisa membuat banyak tips berguna berhenti di kepalamu sendiri.

Coba bayangkan ketika kamu mengetahui cara mendapatkan penawaran yang lebih baik, memahami suatu layanan, atau menghindari kesalahan tertentu setelah mengalaminya sendiri. Informasi seperti itu mungkin terlihat sepele, tapi bisa menghemat waktu, tenaga, bahkan uang orang lain. Kamu gak perlu takut dianggap sok tahu hanya karena membagikan pengalaman, selama kamu menyampaikannya sebagai informasi yang mungkin berguna. Sebaliknya, kamu juga bisa mendapatkan manfaat karena orang lain mungkin punya pengalaman berbeda yang ternyata bisa membantumu.

Pada akhirnya, adulting bukan tentang menjadi orang yang selalu tahu jawaban atau mampu menyelesaikan semua masalah dengan sempurna. Kamu punya kombinasi kemampuan yang berbeda dengan orang lain, termasuk kekuatan yang mungkin selama ini kamu anggap terlalu sederhana atau bahkan gak penting. Rasa canggung, bingung, dan ragu juga gak otomatis berarti kamu gak mampu menjalani kehidupan sebagai orang dewasa, ya.

Daripada terus membandingkan kemampuanmu dengan orang lain, lebih baik mulai mengenali kekuatan yang sudah kamu punya. Gunakan kemampuan tersebut ketika ada kesempatan untuk mengambil langkah baru ataupun ketika harus menghadapi masalah yang tak terduga. Kamu gak harus menjadi versi paling kompeten dari dirimu setiap saat, kok, karena menjadi orang dewasa juga berarti tahu kapan harus belajar, bertanya, dan menggunakan kekuatan yang kamu miliki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article