Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Urusan Uang Sering Merusak Pertemanan? Ini Alasannya

Kenapa Urusan Uang Sering Merusak Pertemanan? Ini Alasannya
Ilustrasi dompet berisi uang (freepik.com/rawpixel.com)
  • Urusan uang menguji kepercayaan pertemanan; utang yang tak dibayar atau kesepakatan yang diabaikan dapat memicu kekecewaan lebih besar daripada nominalnya.
  • Perbedaan kebiasaan finansial, pembagian tagihan, serta nilai dan prioritas pengeluaran bisa membuat salah satu pihak merasa diperlakukan tidak adil atau dimanfaatkan.
  • Rasa sungkan membicarakan uang membuat kekesalan menumpuk; konflik yang terjadi dapat mengubah cara teman saling memandang dan sulit dipulihkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa hubungan pertemanan tiba-tiba berubah hanya karena urusan uang? Mulai dari utang yang tak kunjung dibayar, patungan yang tidak jelas, sampai kebiasaan salah satu teman yang sering minta ditraktir, masalah kecil seperti ini ternyata bisa menjadi sumber konflik. Awalnya mungkin terasa sepele dan masih bisa ditoleransi. Namun, kalau terus berulang, rasa kesal dan kecewa bisa menumpuk tanpa disadari.

Urusan uang memang cukup sensitif karena bukan hanya berkaitan dengan nominal, tetapi juga menyangkut kepercayaan dan rasa saling menghargai. Seseorang mungkin tidak terlalu mempermasalahkan uang Rp20 ribu atau Rp50 ribu, tetapi bisa merasa kecewa ketika temannya tidak menunjukkan itikad untuk mengembalikannya. Dari sinilah hubungan yang tadinya akrab bisa berubah menjadi canggung. Lantas, kenapa urusan uang sering merusak pertemanan?

  1. 1. Uang berkaitan erat dengan rasa percaya

    ilustrasi uang (vecteezy.com/Miftachul Huda)
    ilustrasi uang (vecteezy.com/Miftachul Huda)

    Ketika seseorang meminjam uang kepada teman, sebenarnya ada kepercayaan yang ikut dipertaruhkan. Pihak yang meminjam berharap uangnya akan dikembalikan sesuai kesepakatan, sedangkan pihak yang meminjam dipercaya untuk memenuhi janjinya. Masalah mulai muncul ketika salah satunya tidak menepati kesepakatan. Terlebih jika orang tersebut menghilang, sulit dihubungi, atau terlihat tetap bisa mengeluarkan uang untuk hal lain.

    Dalam situasi seperti ini, rasa kecewa bisa terasa lebih besar daripada nominal uang yang belum dikembalikan. Teman yang merasa diabaikan mungkin mulai mempertanyakan kepercayaan dalam hubungan tersebut. Sebab, kalau soal uang saja tidak bisa dipercaya, bagaimana dengan hal lainnya?

  2. 2. Setiap orang punya kebiasaan finansial yang berbeda

    ilustrasi makan siang dengan teman sekantor (pexels.com/fauxels)
    ilustrasi makan siang dengan teman sekantor (pexels.com/fauxels)

    Ada orang yang sangat perhitungan dalam mengelola uang, sementara yang lain lebih santai. Ada yang selalu mencatat pengeluaran sampai nominal kecil, tetapi ada juga yang menganggap utang Rp20 ribu atau Rp30 ribu bukan masalah besar. Perbedaan kebiasaan tersebut sebenarnya wajar. Hanya saja, perbedaan itu bisa menimbulkan konflik ketika dua orang harus mengatur uang bersama.

    Contohnya saat makan bersama. Satu orang mungkin merasa semua tagihan sebaiknya dibagi rata, sementara yang lain hanya memesan makanan seharga setengah dari total tersebut. Kalau tidak dibicarakan, hal kecil seperti ini lama-lama bisa mengganjal di hati. Bukan karena nominalnya besar, melainkan karena masing-masing merasa diperlakukan tidak adil.

  3. 3. Ada rasa sungkan untuk membicarakan uang

    ilustrasi berbicara dengan teman (unsplash.com/NONRESIDENT)
    ilustrasi berbicara dengan teman (unsplash.com/NONRESIDENT)

    Di banyak tempat, uang masih menjadi topik yang cukup sensitif untuk dibicarakan. Banyak orang merasa tidak enak menagih utang karena takut dianggap pelit atau terlalu perhitungan. Akhirnya, orang memilih diam.

    Padahal, diam bukan berarti masalah selesai. Utang yang tidak dibicarakan bisa membuat seseorang menyimpan kesal sendirian. Di sisi lain, orang yang berutang mungkin merasa semuanya baik-baik saja karena tidak pernah ditagih. Ketika akhirnya masalah tersebut dibicarakan, emosi yang keluar bisa jauh lebih besar karena sudah menumpuk sejak lama.

  4. 4. Masalah uang bisa membuat seseorang merasa dimanfaatkan

    ilustrasi teman (unsplash.com/Surface)
    ilustrasi teman (unsplash.com/Surface)

    Ini salah satu alasan mengapa konflik finansial dalam pertemanan terasa begitu personal. Bayangkan ketika kamu berkali-kali mentraktir teman, meminjamkan uang, atau membantu membayar sesuatu. Awalnya mungkin dilakukan dengan tulus. Namun, kalau hanya kamu yang terus mengeluarkan uang sementara teman tidak menunjukkan usaha yang sama, lama-lama bisa muncul perasaan dimanfaatkan.

    Apalagi jika teman tersebut sebenarnya mampu membayar, tetapi selalu mencari alasan untuk menghindar. Pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi tentang uang. Ada perasaan bahwa hubungan tersebut tidak berjalan dua arah.

  5. 5. Uang dapat memunculkan perbedaan nilai dan prioritas

    ilustrasi uang (vecteezy.com/Ivan Ahmad Jauhari)
    ilustrasi uang (vecteezy.com/Ivan Ahmad Jauhari)

    Dua orang bisa menjadi teman baik meskipun memiliki kondisi finansial yang sangat berbeda. Namun, perbedaan tersebut kadang mulai terasa ketika uang masuk ke dalam hubungan. Seseorang mungkin terbiasa nongkrong di restoran mahal, sedangkan temannya sedang berusaha menghemat pengeluaran. Kalau salah satu terus mengajak mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan, hubungan bisa terasa melelahkan.

    Begitu juga ketika ada teman yang menganggap meminjam uang sebagai hal biasa, sementara bagi orang lain utang adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Perbedaan cara memandang uang seperti ini sering kali baru terasa ketika mulai ada masalah. Padahal, sebelumnya perbedaan tersebut mungkin tidak pernah mengganggu hubungan pertemanan.

  6. 6. Konflik uang bisa mengubah cara seseorang melihat temannya

    ilustrasi perempuan sedang bertengkar (pexels.com/Liza Summer)
    ilustrasi perempuan sedang bertengkar (pexels.com/Liza Summer)

    Setelah terjadi masalah finansial, hubungan pertemanan sering kali tidak kembali seperti sebelumnya. Teman yang sebelumnya dianggap dapat dipercaya mungkin mulai dipandang berbeda setelah memiliki utang yang belum dibayar. Sebaliknya, orang yang terus ditagih bisa merasa temannya terlalu perhitungan atau tidak memahami kondisinya. Padahal, bisa jadi kedua pihak sebenarnya sama-sama tidak bermaksud menyakiti.

    Sayangnya, ketika rasa percaya sudah terganggu, memperbaikinya tidak selalu mudah dan membutuhkan waktu. Hubungan mungkin bisa kembali membaik setelah masalah uang diselesaikan. Namun, rasa tidak nyaman yang sempat muncul terkadang masih tersisa.

    Pada akhirnya, uang memang bisa menjadi sumber konflik dalam pertemanan, tetapi sering kali masalah sebenarnya adalah kepercayaan, komunikasi, dan rasa saling menghargai. Karena itu, menjaga batasan soal uang bukan berarti hubungan pertemanan menjadi tidak tulus. Kadang, justru batasan yang jelas membuat sebuah pertemanan bisa bertahan lebih lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More