Tanpa Disadari, Ini 5 Tipe MBTI yang Paling Rentan Jadi Workaholic

- INTJ memiliki target jangka panjang dan sering lembur tanpa istirahat, perlu belajar berhenti sejenak.
- ISTJ merasa sulit bilang cukup dan cenderung merasa bersalah kalau berhenti bekerja, butuh menetapkan batas kerja yang jelas.
- ENTJ suka tantangan dan sering mengabaikan waktu istirahat, padahal performa jangka panjang terjaga dengan manajemen energi yang baik.
Dunia kerja sekarang menuntut serba cepat, produktif, dan penuh target. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang tanpa sadar jadi terlalu tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa istirahat. Menariknya, kecenderungan ini sering kali berkaitan dengan tipe kepribadian, termasuk MBTI.
Beberapa tipe MBTI memang dikenal punya dorongan kuat untuk terus bekerja, mengejar hasil, dan merasa puas saat produktif. Kalau gak diimbangi dengan manajemen waktu dan self care yang baik, kebiasaan ini bisa berubah jadi workaholic. Nah, di artikel ini kamu bakal kenal lima tipe MBTI yang paling rentan mengalami hal tersebut.
1. INTJ

INTJ dikenal sebagai pribadi yang visioner dan sangat terstruktur. Mereka punya target jangka panjang yang jelas dan rela mengorbankan waktu demi mencapai tujuan tersebut. Buat INTJ, bekerja keras adalah investasi logis untuk masa depan, jadi lembur sering terasa wajar.
Masalahnya, INTJ sering lupa mendengarkan kebutuhan tubuh dan emosinya sendiri. Mereka bisa terus memaksa diri bekerja karena merasa selalu ada hal yang bisa diperbaiki. Kalau kamu INTJ, penting banget belajar berhenti sejenak dan menyadari bahwa istirahat juga bagian dari strategi sukses.
2. ISTJ

ISTJ punya rasa tanggung jawab yang sangat tinggi terhadap tugas dan aturan. Mereka merasa puas saat semua pekerjaan selesai tepat waktu dan sesuai standar. Karena itu, ISTJ sering mengambil lebih banyak beban kerja demi memastikan semuanya berjalan sempurna.
Sayangnya, sifat ini bikin ISTJ susah bilang cukup. Mereka cenderung merasa bersalah kalau berhenti bekerja sementara tugas masih ada. Kalau kamu ISTJ, coba mulai menetapkan batas kerja yang jelas supaya hidup gak cuma soal kewajiban.
3. ENTJ

ENTJ adalah tipe yang berorientasi pada hasil dan kepemimpinan. Mereka suka tantangan, target besar, dan posisi strategis dalam pekerjaan. Bagi ENTJ, kerja keras adalah cara untuk membuktikan kapasitas diri dan memimpin dengan contoh nyata.
Karena dorongan ambisi yang kuat, ENTJ sering mengabaikan waktu istirahat. Mereka bisa merasa gelisah saat gak produktif dan terus memikirkan pekerjaan bahkan di luar jam kerja. Padahal, performa jangka panjang justru lebih terjaga kalau energi dikelola dengan baik.
4. INFJ

INFJ mungkin terlihat tenang, tapi mereka punya komitmen emosional yang besar terhadap pekerjaannya. Saat merasa pekerjaannya bermakna dan berdampak bagi orang lain, INFJ bisa bekerja tanpa kenal waktu. Mereka ingin memberikan hasil terbaik sesuai nilai yang diyakini.
Masalah muncul ketika INFJ terlalu larut dalam tanggung jawab moral tersebut. Mereka sering menomorduakan diri sendiri demi orang lain atau tujuan besar. Kalau kamu INFJ, ingat bahwa menjaga diri sendiri juga penting agar tetap bisa memberi dampak positif.
5. ESTJ

ESTJ adalah tipe yang tegas, terstruktur, dan fokus pada efisiensi. Mereka suka mengatur sistem kerja agar berjalan optimal dan sering jadi tulang punggung tim. Dalam prosesnya, ESTJ kerap mengambil alih banyak tugas demi memastikan semua beres.
Kebiasaan ini membuat ESTJ sulit lepas dari pekerjaan. Mereka merasa harus selalu sigap dan bertanggung jawab, bahkan saat seharusnya istirahat. Kalau kamu ESTJ, belajar mendelegasikan dan percaya pada tim bisa membantu mengurangi beban kerja berlebih.
Menjadi pekerja keras sebenarnya bukan hal buruk, apalagi kalau sesuai dengan kepribadian dan tujuan hidup kamu. Namun, saat kerja mulai mengorbankan kesehatan fisik, mental, dan kehidupan pribadi, di situlah risiko workaholic muncul. Mengenali kecenderungan dari tipe MBTI bisa jadi langkah awal untuk lebih sadar diri.
Apa pun tipe MBTI kamu, keseimbangan tetap kunci utama. Kerja keras boleh, ambisi juga penting, tapi jangan lupa menikmati hidup di luar pekerjaan. Semoga artikel ini membantu kamu lebih mengenal diri sendiri dan membangun pola kerja yang lebih sehat.


















