7 Trik Mengatasi Sensory Overload Saat Naik Transportasi Publik

- Sensory overload terjadi saat otak menerima rangsangan lingkungan berlebihan, memicu sulit fokus, mudah kesal, keinginan menjauh dari keramaian, hingga kelelahan saat naik transportasi publik.
- Kenali pemicu seperti kebisingan, kerumunan, cahaya, atau aroma agar bisa memilih waktu dan posisi perjalanan yang lebih nyaman serta mengurangi distraksi digital.
- Gunakan headphone atau earplug secara aman, fokus pada hal menenangkan, ambil jeda bila memungkinkan, dan siapkan comfort kit sesuai kebutuhan sensorik pribadi.
Pernah merasa kepala mendadak penuh ketika berada di tempat yang ramai? Suara percakapan bercampur dengan klakson, musik, notifikasi ponsel, cahaya yang terlalu terang, dan orang-orang yang berlalu-lalang bisa terasa melelahkan jika semuanya datang dalam waktu bersamaan. Bahkan, perjalanan menggunakan transportasi publik yang sebenarnya biasa saja bisa terasa jauh lebih menguras energi ketika tubuh dan pikiran sudah lelah.
Sensory overload terjadi ketika otak menerima lebih banyak rangsangan dari lingkungan daripada yang terasa mampu diproses dengan nyaman. Pengalamannya bisa berbeda pada setiap orang, mulai dari sulit berkonsentrasi, mudah merasa kesal, ingin menjauh dari keramaian, hingga merasa sangat lelah. Karena itu, mari kita simak tujuh trik mengatasi sensory overload yang bisa diterapkan saat berada di transportasi publik.
1. Kenali pemicu yang paling mudah membuatmu kewalahan

ilustrasi ekspresi wanita yang sedang mengalami kecemasan (unsplash.com/Valeriia Miller) Sebelum mencari cara mengatasinya, coba perhatikan terlebih dahulu hal apa yang paling mengganggu. Apakah suara kendaraan yang terlalu keras, kerumunan orang, cahaya yang menyilaukan, aroma tertentu, atau kombinasi dari semuanya? Mengenali pemicu bisa membantu kamu mempersiapkan diri sebelum berada di tempat ramai.
Kamu tidak harus menghindari semua situasi yang membuat tidak nyaman. Cukup cari tahu kondisi seperti apa yang biasanya membuatmu lebih cepat kewalahan. Dengan begitu, kamu bisa menentukan strategi yang sesuai, misalnya memilih waktu perjalanan yang lebih sepi atau membawa benda yang membantu membuatmu merasa nyaman.
2. Pilih posisi yang terasa lebih nyaman

ilustrasi seorang pria yang duduk di bangku taman (pexels.com/Keira Burton) Saat menggunakan bus, kereta, atau transportasi publik lainnya, posisi tempat duduk atau berdiri bisa membuat perbedaan. Jika memungkinkan, pilih area yang tidak terlalu dekat dengan sumber suara keras atau arus orang yang terlalu padat. Bagi sebagian orang, duduk di dekat jendela juga dapat membantu karena ada ruang visual yang lebih stabil untuk diperhatikan.
Memang tidak selalu ada pilihan tempat terbaik, terutama ketika kendaraan sedang penuh. Dalam kondisi tersebut, fokuslah pada apa yang masih bisa dikendalikan. Kamu bisa mengatur posisi tubuh agar terasa lebih nyaman, mengurangi distraksi visual, atau memilih satu titik untuk dipandang agar tidak terus memproses begitu banyak gerakan di sekitar.
3. Kurangi rangsangan yang tidak diperlukan

ilustrasi seorang wanita yang menunggu di dekat kereta api yang berjalan (pexels.com/Jeffrey Czum) Ketika lingkungan sudah terasa terlalu ramai, cobalah mengurangi input lain yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya, berhenti scrolling media sosial selama perjalanan, menonaktifkan notifikasi, atau menurunkan tingkat kecerahan layar. Hal-hal kecil tersebut dapat mengurangi jumlah informasi yang harus diperhatikan secara bersamaan.
Bayangkan otak seperti meja kerja yang sudah penuh. Menambahkan satu informasi lagi mungkin terasa sepele, tetapi ketika semuanya menumpuk, ruang untuk memprosesnya semakin sedikit. Karena itu, mengurangi beberapa rangsangan sederhana bisa menjadi cara untuk memberi sedikit ruang bagi pikiran.
4.. Gunakan headphone atau earplug dengan bijak

ilustrasi seorang pria menggunakan headphone di public area (unsplash.com/Ciocan Ciprian) Jika suara merupakan salah satu pemicu utama, headphone atau earplug bisa membantu mengurangi jumlah suara yang masuk. Kamu bisa memilih musik yang familiar, suara yang menenangkan, atau bahkan tidak memutar apa pun jika hanya ingin mengurangi kebisingan.
Namun, tetap perhatikan situasi sekitar, terutama ketika berada di jalan atau menggunakan transportasi publik. Jangan sampai suara terlalu keras atau penggunaan perangkat membuatmu tidak bisa mendengar pengumuman penting maupun memperhatikan keadaan di sekitar. Tujuannya bukan sepenuhnya mengisolasi diri, melainkan membuat tingkat suara terasa lebih nyaman.
5. Fokus pada satu hal yang menenangkan

ilustrasi suasana gerbong dalam transportasi kereta (unsplash.com/arda tutkun) Ketika berada di tengah keramaian, kita mungkin tanpa sadar mencoba memperhatikan semuanya sekaligus. Cobalah memilih satu hal yang terasa familiar dan nyaman untuk menjadi titik fokus. Misalnya, mendengarkan satu lagu, memperhatikan napas, membaca buku, atau memainkan benda kecil yang terasa nyaman.
Teknik ini bukan berarti harus memaksa diri untuk langsung tenang. Tujuannya lebih sederhana, yaitu mengalihkan sebagian perhatian dari banyak rangsangan menuju satu hal yang lebih mudah diproses. Jika menggunakan teknik pernapasan, lakukan secara natural dan hentikan jika justru membuatmu merasa tidak nyaman.
6. Beri diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak

ilustrasi suasana gerbong dalam transportasi kereta (unsplash.com/Zoshua Colah) Kalau mulai merasa kewalahan, tidak ada salahnya mencari tempat yang lebih tenang jika situasinya memungkinkan. Keluar sebentar dari kerumunan, berdiri di area yang lebih sepi, atau menunggu beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan bisa menjadi bentuk self-care yang sederhana.
Kamu tidak perlu menunggu sampai benar-benar merasa tidak nyaman untuk mengambil jeda. Mengenali tanda-tanda awal seperti mulai sulit fokus, mudah tersinggung, atau merasa ingin segera meninggalkan tempat tersebut dapat membantumu mengambil tindakan lebih awal.
7. Siapkan comfort kit sebelum bepergian

ilustrasi memasukkan perlengkapan ke dalam tas (pexels.com/Ivan Samkov) Jika kamu cukup sering mengalami sensory overload, menyiapkan beberapa benda yang membuat perjalanan terasa lebih nyaman bisa membantu. Isinya tidak perlu banyak. Earplug, headphone, masker, air minum, kacamata hitam, permen, atau benda kecil yang nyaman disentuh bisa menjadi pilihan sesuai kebutuhanmu.
Persiapan seperti ini juga dapat memberikan rasa aman karena kamu tahu ada beberapa hal yang bisa digunakan ketika lingkungan mulai terasa terlalu intens. Namun, pilih hanya benda yang memang berguna bagimu. Tidak perlu mengikuti daftar orang lain karena kebutuhan sensorik setiap orang berbeda.
Menghadapi keramaian bukan soal memaksa diri untuk selalu tahan dengan semua rangsangan. Kita boleh mencari cara agar lingkungan terasa lebih nyaman bagi diri sendiri. Mulai dari memilih posisi yang lebih tenang, mengurangi suara dan distraksi, sampai memberi waktu untuk berhenti sejenak, semuanya bisa menjadi langkah kecil yang membantu.
Setiap orang juga memiliki batas sensorik yang berbeda. Jadi, tidak perlu membandingkan respons diri dengan orang lain. Yang terpenting adalah mengenali apa yang membuatmu nyaman, mempersiapkan diri ketika diperlukan, dan memberi izin kepada diri sendiri untuk mengambil jeda ketika dunia di sekitar terasa terlalu ramai.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























