Proses sortir hasil donasi pakaian ke Bersibersi Lemari (IDN Times/Adyaning Raras)
Jauh sebelum mendirikan sebuah yayasan, Aisyah adalah seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusi. Terjun langsung menghadapi fenomena di lapangan, membukakan matanya bahwa ada masalah besar yang luput dari perhatian banyak orang.
Tidak banyak orang yang tahu dan merasakan langsung bagaimana dilemanya seorang orangtua penyandang disabilitas akan masa depan anak mereka. Aisyah mengaku, setiap musim penerimaan rapor menjadi momen yang paling berat secara emosional untuknya.
“Kalau saya meninggal, anak-anak gimana ya, Mbak?” begitu pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh para orangtua murid kepada Aisyah.
Aisyah mengatakan, “Dari situ, udah resah sebetulnya. Kayak, iya juga ya, mereka habis lulus ngapain ya? Mungkin kita mikir kerja, tapi sebanyak apa sih lapangan kerja untuk penyandang disabilitas?”
Keresahannya sebagai seorang guru makin menguat ketika pandemik melanda di tahun 2020. Seluruh proses belajar mengajar berpindah secara daring. Kenyataannya, sistem ini kurang efektif untuk mereka yang kesulitan memahami perangkat internet.
“Di situ aku mikir, aku mau ngumpulin anak-anak deh buat belajar. Sebetulnya, dari aku kuliah, sering ngumpulin anak-anak tetangga untuk belajar, anak-anak disabilitas. Cuma waktu pandemik, aku makin seriusin karena aku mikir ya tetangga-tetangga aku aja tuh yang disabilitas, gak ada kegiatan, ngapain gitu,” tuturnya.
Bersamaan dengan kepeduliannya yang mulai tumbuh terhadap isu lingkungan, terutama limbah pakaian, ia mengajak anak-anak binaannya membuat keterampilan sederhana dari baju-baju bekas, seperti gantungan kunci, pouch, scrunchie, dan lain-lain. Dari kombinasi dua keresahan itulah, nama Bersibersi Lemari pertama kali muncul ke permukaan.
Bersibersi Lemari merupakan program donasi pakaian bekas. Limbah pakaian ini akan diolah menjadi sesuatu yang lebih berdampak. Gak cuma mendukung gaya hidup berkelanjutan, program ini juga menjadi sarana untuk memberdayakan teman-teman penyandang disabilitas.
Aisyah tidak menyangka bahwa donasi pakaian terus-menerus berdatangan. Jumlah pengikut di media sosial melonjak hingga muncul berbagai permintaan kolaborasi. Hal inilah yang mendorong Aisyah untuk menjadikan gerakan yang awalnya komunitas ini, bertransformasi menjadi yayasan pada tahun 2023.