Anak binaan Yayasan Teman Hebat Berkarya (IDN Times/Adyaning Raras)
Bukan hal yang mudah untuk Aisyah dan tim meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disabilitas. Ia mengaku masih banyak tantangan yang harus dihadapi mulai dari stigma masyarakat, tuduhan dari lingkungan sekitar, hingga krisis yang dialami oleh yayasan
“Di sini, banyak disabilitas kurang mampu atau yang bahkan orangtuanya aja gak gak gelas. Itu yang sulit banget. Kadang, mereka butuh uang, tapi akses buat kerjanya susah. Kerjanya udah oke, tapi gak ada yang mengantar. Ya, hal-hal seperti itulah,” jelasnya.
Aisyah sangat menyayangkan belum adanya lingkungan yang mendukung bagi penyandang disabilitas. Ketika sudah mendapatkan pembinaan di yayasan, belum tentu mereka bisa sepenuhnya mandiri ketika kembali ke dunia luar dan masuk ke dunia kerja. Tidak semua orang bisa memahami seperti apa cara kerja penyandang disabilitas.
“Kita bangun yayasan dari nol, gak ada bantuan pemerintah,” ucapnya.
Itu sebabnya, butuh perjuangan yang gak main-main untuk bisa terus menghidupkan Yayasan Teman Hebat Berkarya. Setiap roda operasional digerakkan secara mandiri dari penjualan karya, bazar, maupun dana hibah.
Bahkan, ada masanya Aisyah mengajar les privat di luar pekerjaannya untuk menutupi kebutuhan operasional komunitas yang ia bangun. Tujuannya begitu tulus, Aisyah hanya ingin teman-teman penyandang disabilitas lebih dianggap dan punya peluang kerja yang sama dengan orang lain.
“Riil merasa berdarah-darah banget. Mungkin beberapa perusahaan ada yang tahu, kita dulu dari rumah sepetak sampai tiga petak, sampai rumah segini. Pindah ke sini pun karena dapat dana CSR,” ceritanya.
Mirisnya, ia masih menerima fitnah berat dari lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengaku pernah dituduh menjalankan aliran sesat sampai melakukan pelecehan terhadap anak-anak yang diajarkan. Banyak ujaran pahit yang datang kepadanya karena ketidaktahuan warga terhadap apa yang ia kerjakan.
“Kita pernah dituduh, ‘Itu aliran apa sih kok ada cowok-cowok besar?’ Kita yang ngajar cewek-cewek, terus pintunya dikunci karena suaranya terlalu besar dan kita pernah dapat kritik. Aku pernah dipanggil, dibilang, ‘Mbak ngelecehin anak-anak kan di dalam?’,” keluhnya.
Lanjutnya, “Wah, itu aku nangis. Puncaknya sampai aku mikir, 'Ibu tahu gak? Saya tuh, kalau saya lebih milih, saya bisa lho jadi guru di sekolah internasional di inklusi. Duduk-duduk aja, bisa punya ABCD,' Saya cuma mau berbuat baik di masyarakat, terus saya dapetin ini."
Tekanan demi tekanan selalu mampir dan bahkan sempat membuat kegiatan yayasan berhenti beberapa bulan. Namun, ada satu hal yang membuatnya masih bertahan hingga kini, yaitu bayang-bayang nenek dan om yang menjadi alasannya untuk melangkah. Aisyah merasa memang inilah jalan hidup yang harus ia lanjutkan.
“Saya masih bertahan karena yang saya pikirin malah anak-anak ini nanti mau ke mana,” ujarnya.