Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jatuh Bangun Aisyah Winna Putri Ubah Luka Jadi Pemberdayaan Disabilitas
Aisyah Winna Putri, founder Yayasan Teman Hebat Berkarya (IDN Times/Adyaning Raras)
  • Aisyah Winna Putri mendirikan Yayasan Teman Hebat Berkarya dari keresahan sebagai guru SLB dan kepedulian terhadap limbah tekstil, memberdayakan penyandang disabilitas lewat program daur ulang pakaian.
  • Pengalaman pribadi bersama om yang hidup dengan skizofrenia mengubah pandangan Aisyah tentang disabilitas, menjadikannya motivasi untuk menciptakan ruang edukasi dan kemandirian bagi mereka.
  • Meski menghadapi stigma, tuduhan, dan keterbatasan dana, Aisyah terus memperjuangkan kesetaraan kesempatan kerja serta mengajak masyarakat memahami disabilitas dengan empati dan tanpa belas kasihan berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rumah kontrakan sederhana di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur, pagi itu tampak syahdu dengan suara mesin jahit. Rumah ini bukan rumah biasa, melainkan tempat di mana Aisyah Winna menumbuhkan mimpi bagi para penyandang disabilitas.

Di balik pagar berwarna abu-abu itu, tampak tumpukan limbah tekstil yang menggunung. Tak ada ruang yang benar-benar kosong. Hampir setiap sudutnya penuh oleh karung dan tumpukan pakaian bekas. Namun, bagi Aisyah Winna, pemilik Yayasan Teman Hebat Berkarya, semua itu adalah awal dari sebuah perubahan.

Melalui langkah sederhana yang dimulai dari rumah kontrakannya, Aisyah membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap tak berguna, masih bisa memiliki kehidupan kedua. Ini juga menjadi tempat perjuangannya membukakan pintu agar para penyandang disabilitas bisa berkarya dan belajar. 

Aisyah hanyalah bagian dari segelintir orang yang percaya bahwa penyandang disabilitas punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Dari guru SLB, keresahan membawa Aisyah membangun Yayasan Teman Hebat Berkarya yang berfokus pada pendidikan dan pemberdayaan disabilitas usia dewasa.

1. Keresahannya sebagai guru Sekolah Luar Biasa melahirkan gerakan Bersibersi Lemari

Proses sortir hasil donasi pakaian ke Bersibersi Lemari (IDN Times/Adyaning Raras)

Jauh sebelum mendirikan sebuah yayasan, Aisyah adalah seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusi. Terjun langsung menghadapi fenomena di lapangan, membukakan matanya bahwa ada masalah besar yang luput dari perhatian banyak orang.

Tidak banyak orang yang tahu dan merasakan langsung bagaimana dilemanya seorang orangtua penyandang disabilitas akan masa depan anak mereka. Aisyah mengaku, setiap musim penerimaan rapor menjadi momen yang paling berat secara emosional untuknya. 

“Kalau saya meninggal, anak-anak gimana ya, Mbak?” begitu pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh para orangtua murid kepada Aisyah.

Aisyah mengatakan, “Dari situ, udah resah sebetulnya. Kayak, iya juga ya, mereka habis lulus ngapain ya? Mungkin kita mikir kerja, tapi sebanyak apa sih lapangan kerja untuk penyandang disabilitas?”

Keresahannya sebagai seorang guru makin menguat ketika pandemik melanda di tahun 2020. Seluruh proses belajar mengajar berpindah secara daring. Kenyataannya, sistem ini kurang efektif untuk mereka yang kesulitan memahami perangkat internet.

“Di situ aku mikir, aku mau ngumpulin anak-anak deh buat belajar. Sebetulnya, dari aku kuliah, sering ngumpulin anak-anak tetangga untuk belajar, anak-anak disabilitas. Cuma waktu pandemik, aku makin seriusin karena aku mikir ya tetangga-tetangga aku aja tuh yang disabilitas, gak ada kegiatan, ngapain gitu,” tuturnya.

Bersamaan dengan kepeduliannya yang mulai tumbuh terhadap isu lingkungan, terutama limbah pakaian, ia mengajak anak-anak binaannya membuat keterampilan sederhana dari baju-baju bekas, seperti gantungan kunci, pouch, scrunchie, dan lain-lain. Dari kombinasi dua keresahan itulah, nama Bersibersi Lemari pertama kali muncul ke permukaan.

Bersibersi Lemari merupakan program donasi pakaian bekas. Limbah pakaian ini akan diolah menjadi sesuatu yang lebih berdampak. Gak cuma mendukung gaya hidup berkelanjutan, program ini juga menjadi sarana untuk memberdayakan teman-teman penyandang disabilitas.

Aisyah tidak menyangka bahwa donasi pakaian terus-menerus berdatangan. Jumlah pengikut di media sosial melonjak hingga muncul berbagai permintaan kolaborasi. Hal inilah yang mendorong Aisyah untuk menjadikan gerakan yang awalnya komunitas ini, bertransformasi menjadi yayasan pada tahun 2023. 

2. Ada 'luka' yang menjadi alasan mengapa Aisyah mendalami dunia pendidikan luar biasa

Anak binaan Yayasan Teman Hebat Berkarya (IDN Times/Adyaning Raras)

Menekuni pendidikan sarjana dan magister di bidang pendidikan luar biasa ini bukan lahir dari idealismenya semata. Justru, ada cerita di baliknya yang menjadi alasan kuat mengapa Aisyah memilih menekuni bidang ini.

“Masuk Pendidikan Luar Biasa (PLB) itu sebenarnya bukan keinginanku tapi keinginan orangtua. Kebetulan ibu aku guru, tapi bukan guru SLB. Guru SD. Aku maunya kuliah di bidang kesehatan, ahli gizi, tapi gak lolos-lolos. Ibu bilang jadi guru aja, guru yang ini juga sama kayak kamu, sukanya ngerawat orang,” ceritanya kepada IDN Times saat ditemui di Yayasan Teman Hebat Berkarya, Jakarta Timur, pada Rabu (24/6/2026).

Ada kisah panjang di balik setiap keputusannya. Aisyah bercerita bahwa ia memiliki om yang didiagnosa mengalami Skizofrenia. Yang lebih mengejutkan, ia mengakui bahwa hidup bersama sang om justru diwarnai rasa benci, bukan kasih sayang. Saat itu, ia hanyalah orang awam yang belum mengenal apa arti dibalik setiap perilaku unik omnya.

“Aku pernah bawa teman datang ke rumah, terus numpang makan. Itu dia (om) marah-marah. Kata dia, ini tuh bukan warteg. Bagi dia, yang makan di rumah harus orang rumah, bukan orang luar. Dulu juga pernah ada di momen aku pas SMA, kabur dari rumah karena halusinasi omku tiba-tiba muncul sampai nonjok temanku. Mulai dari itu, aku jadi malu dan trauma bawa teman ke rumah,” kata Aisyah.

Ketidakpahaman dan minimnya edukasi pernah membawanya ke titik terjauh. Ia melaporkan om ke pihak berwajib. Namun ketika masuk bangku perkuliahan di Universitas Negeri Jakarta, Aisyah perlahan menyadari bahwa apa yang dialami oleh omnya adalah bagian dari dunia disabilitas. Kesadaran itu yang kemudian mengubah cara pandangnya terhadap dunia yang dialami oleh para penyandang disabilitas.

3. Mendirikan Yayasan Teman Hebat Berkarya merupakan caranya untuk menyembuhkan ‘luka’

Anak binaan Yayasan Teman Hebat Berkarya (IDN Times/Adyaning Raras)

“Aku sempat sebel sama diriku sendiri, menyesali kenapa aku baru tahu ini sekarang. Waktu om meninggal dua tahun lalu, aku sempat nangis kejer. Aku telat banget tahu tentang dia (om). Aku baru tahu kenapa dulu dia sering ngomong sendiri, ngomong sendiri gak jelas. Padahal ya, karena dia punya dunia sendiri,” ucapnya.

Ada penyesalan yang dirasakan oleh Aisyah. Ia tidak bisa mengenali bahwa setiap kebiasaan unik yang dilakukan omnya justru bagian dari potensi diri yang sebenarnya bisa dikembangkan. Sebagai keluarga yang merasa tidak teredukasi dengan hal-hal tersebut, Aisyah merasa yayasan yang ia dirikan merupakan caranya untuk mengobati ‘luka’ tersebut. 

“Dengan cara aku membangun (yayasan) ini, aku bisa bantu keluarga-keluarga lain yang mungkin ekonominya di bawah rata-rata dan gak paham gimana cara menangani anaknya. Ini karena terjadi padaku pribadi yang gak teredukasi. Makanya, kalau ada perundungan tentang disabilitas, aku rasa karena mereka itu gak paham seperti apa disabilitas dan gimana caranya berinteraksi,” sambung Aisyah.

Terlepas dari apa pun tantangannya, salah satu hal yang membuatnya terus bertahan adalah perkataan neneknya. Setiap kumpul keluarga, Aisyah kerap mendengar neneknya yang resah tentang nasib hidup omnya ketika ia sudah meninggal.

Ia melanjutkan, “Berarti keresahan semua orangtua penyandang disabilitas itu sama. Dia gak tahu anaknya akan gimana ke depan. Semungkin-mungkinnya punya adik, kakak, keluarga, kasih kayaknya gak sama seperti orangtua. Gak semua orang bisa memperlakukannya dengan sama juga.”

Maka dari itu lewat yayasannya, Aisyah berharap ia bisa mengubah stigma negatif tentang penyandang disabilitas. Ia juga ingin para penyandang disabilitas dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah punya keterampilan dan kemandirian diri.

4. Dari komunitas menjadi yayasan yang bergerak memberikan program Bina Diri dan Vokasional

Hasil upcycle anak binaan Yayasan Teman Hebat Berkarya (IDN Times/Adyaning Raras)

Gerakan Bersibersi Lemari muncul saat pandemik di tahun 2020. Berawal dari sebuah komunitas kecil di Jakarta Timur, kemudian berkembang menjadi Yayasan Teman Hebat Berkarya pada Desember 2023.

Lahirnya Yayasan Teman Hebat Berkarya ini dari kenyataan bahwa penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan dan stigma negatif. Akses terhadap peluang ekonomi yang layak juga belum sepenuhnya terbuka. Tak jarang, mereka masih menerima diskriminasi karena minimnya keterampilan.

Pengalaman pribadi tentang omnya membuka pikiran Aisyah bahwa mereka sebenarnya punya potensi yang besar apabila mendapatkan pelatihan keterampilan yang tepat. Untuk itu, Aisyah kemudian melebarkan sayap dari komunitas menjadi yayasan dengan menghadirkan banyak program yang bertujuan menjembatani kesenjangan tersebut seperti Bina Diri (kemandirian dasar seperti berpakaian dan merawat diri) dan Vokasional (keterampilan kerja).

“Disabilitas itu punya program pembelajaran Individu. Jadi, setiap individu gak bisa disamaratakan. Mungkin berbeda dengan kurikulum di sekolah karena kita melihat dalam enam bulan. Kalau sudah oke, maka dia bisa ke Vokasional. Tapi kalau belum, kita ngobrol dengan orangtua,” kata Aisyah.

Saat ini, Yayasan Teman Hebat Berkarya menaungi sekitar tujuh puluhan teman-teman penyandang disabilitas dengan empat puluhan di antaranya yang aktif dalam rentang usia 15-40 tahunan. Permintaan yang terus meningkat membuat Aisyah bahkan sempat membatasi penerimaan anggota baru karena keterbatasan kapasitas pengajar dan ruang.

Unit vokasional BersiBersi Lemari gak cuma soal mengolah baju bekas. Anak-anak binaan dibagi sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari menyortir, menjahit dengan mesin atau tangan, menjadi admin media sosial, menjaga bazar, hingga menjadi model dalam kegiatan fashion show. Semua diolah menjadi produk upcycle yang bisa dijual. Pakaian bekas yang masih layak juga bisa dijual kembali. Selain itu, ada pula Dapur Teman Hebat, unit produksi makanan dan minuman, serta program penjualan langsung di pasar tradisional yang melibatkan anak-anak binaan bersama orangtua mereka.

"Ada kemandirian ekonomi dari program-program yang kita bangun, meski mungkin gajinya jauh dari UMR. Tapi setidaknya, orangtua bangga dan bersyukur anaknya bisa menghasilkan uang, walaupun nominalnya mungkin gak banyak gitu,” sebutnya

Yayasan Teman Hebat Berkarya juga punya kegiatan untuk berbagai kebahagiaan lewat #BahagiaBareng. Ini termasuk upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disabilitas.

5. Perjuangan yang 'berdarah-darah' dari stigma hingga tuduhan

Anak binaan Yayasan Teman Hebat Berkarya (IDN Times/Adyaning Raras)

Bukan hal yang mudah untuk Aisyah dan tim meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disabilitas. Ia mengaku masih banyak tantangan yang harus dihadapi mulai dari stigma masyarakat, tuduhan dari lingkungan sekitar, hingga krisis yang dialami oleh yayasan

“Di sini, banyak disabilitas kurang mampu atau yang bahkan orangtuanya aja gak gak gelas. Itu yang sulit banget. Kadang, mereka butuh uang, tapi akses buat kerjanya susah. Kerjanya udah oke, tapi gak ada yang mengantar. Ya, hal-hal seperti itulah,” jelasnya.

Aisyah sangat menyayangkan belum adanya lingkungan yang mendukung bagi penyandang disabilitas. Ketika sudah mendapatkan pembinaan di yayasan, belum tentu mereka bisa sepenuhnya mandiri ketika kembali ke dunia luar dan masuk ke dunia kerja. Tidak semua orang bisa memahami seperti apa cara kerja penyandang disabilitas.

“Kita bangun yayasan dari nol, gak ada bantuan pemerintah,” ucapnya.

Itu sebabnya, butuh perjuangan yang gak main-main untuk bisa terus menghidupkan Yayasan Teman Hebat Berkarya. Setiap roda operasional digerakkan secara mandiri dari penjualan karya, bazar, maupun dana hibah.

Bahkan, ada masanya Aisyah mengajar les privat di luar pekerjaannya untuk menutupi kebutuhan operasional komunitas yang ia bangun. Tujuannya begitu tulus, Aisyah hanya ingin teman-teman penyandang disabilitas lebih dianggap dan punya peluang kerja yang sama dengan orang lain.

“Riil merasa berdarah-darah banget. Mungkin beberapa perusahaan ada yang tahu, kita dulu dari rumah sepetak sampai tiga petak, sampai rumah segini. Pindah ke sini pun karena dapat dana CSR,” ceritanya.

Mirisnya, ia masih menerima fitnah berat dari lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengaku pernah dituduh menjalankan aliran sesat sampai melakukan pelecehan terhadap anak-anak yang diajarkan. Banyak ujaran pahit yang datang kepadanya karena ketidaktahuan warga terhadap apa yang ia kerjakan.

“Kita pernah dituduh, ‘Itu aliran apa sih kok ada cowok-cowok besar?’ Kita yang ngajar cewek-cewek, terus pintunya dikunci karena suaranya terlalu besar dan kita pernah dapat kritik. Aku pernah dipanggil, dibilang, ‘Mbak ngelecehin anak-anak kan di dalam?’,” keluhnya.

Lanjutnya, “Wah, itu aku nangis. Puncaknya sampai aku mikir, 'Ibu tahu gak? Saya tuh, kalau saya lebih milih, saya bisa lho jadi guru di sekolah internasional di inklusi. Duduk-duduk aja, bisa punya ABCD,' Saya cuma mau berbuat baik di masyarakat, terus saya dapetin ini."

Tekanan demi tekanan selalu mampir dan bahkan sempat membuat kegiatan yayasan berhenti beberapa bulan. Namun, ada satu hal yang membuatnya masih bertahan hingga kini, yaitu bayang-bayang nenek dan om yang menjadi alasannya untuk melangkah. Aisyah merasa memang inilah jalan hidup yang harus ia lanjutkan.

“Saya masih bertahan karena yang saya pikirin malah anak-anak ini nanti mau ke mana,” ujarnya.

6. Empati sejatinya lahir dari keterlibatan langsung dan kesediaan untuk mendengarkan sudut pandang orang lain

Aisyah Winna Putri, founder Yayasan Teman Hebat Berkarya (instagram.com/aisyahwinna)

Menurut Aisyah, masyarakat juga harus tahu dan bisa membedakan pemberian bantuan untuk membangun kemandirian atau melemahkan. Banyak orangtua berpikir, “Kasihan anak saya”. Padahal, penyandang disabilitas perlu mengasah keterampilan dan kemandirian mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika berhadapan dengan penyandang disabilitas, Aisyah berharap bahwa masyarakat umum bisa memperlakukan sewajarnya seperti halnya kepada siapa pun. Tanya apabila butuh bantuan, bukan langsung mengambil alih tanpa persetujuan.

Ia menerangkan, “Sebenarnya fasilitas dan dukungan (yang diperlukan oleh penyandang disabilitas). Dukungan sosial yang oke itu maksudnya keluarga mendukung dengan melek informasi, tahu kebutuhan anaknya, dan gak denial. Kadang, ada orang-orang yang susah, masih denial dengan kondisi anaknya.”

Itu sebabnya, ia merasa sebenarnya miskonsepsi dalam masyarakat itu muncul karena ketiadaan interaksi atau minimnya interaksi. Banyak persepsi terbentuk dari asumsi-asumsi yang ada tanpa ada keterlibatan langsung. Bagi Aisyah, empati itu akan tumbuh seiring dengan adanya pengalaman.

“Kita harus ngobrol dulu sama mereka, tahu gimana kehidupannya sampai akhirnya membantu. Bukan menggurui dan langsung masuk ke hidup mereka. Orang-orang perlu belajar sudut pandang orang lain,” katanya.

7. Tantangan sebagai perempuan yang penuh dengan stigma

Aisyah Winna Putri, founder Yayasan Teman Hebat Berkarya (instagram.com/aisyahwinna)

Punya begitu banyak peran bukan hal yang mudah bagi perempuan. Aisyah pun tidak menampik bahwa kenyataannya menjalani kehidupan sebagai perempuan itu penuh tantangan. 

“Aku jujur kayak ngerasa, ‘Oh, ternyata jadi perempuan tuh riil luar biasa banget sih ya’.  Makanya, mungkin jadi perempuan, terus jadi aktivis di luar, bangun rumah tangga itu tuh kayak emang harus dapetin support system juga sih dari keluarga, terus mungkin dari suami gitu ya. Karena gak gampang, kita bisa burnout di dua tempat gitu. Aku selalu mikir perempuan-perempuan yang hari ini emang bersuara di luar tuh, ya emang harus dapetin tempat nyaman ketika pulang gitu,” katanya.

Ia pun tak lepas dari stigma negatif dari lingkungan keluarganya sendiri. Ia merasa masih banyak orang menilai keberhargaan perempuan hanya dari status pernikahannya.

“Dulu waktu belum nikah, aku dapat stigma kayak ‘Gak mungkin ada laki-laki yang mau sama kamu. Udah ngurusin hidup orang, aktif sana-sini”, tuturnya.

“Aku sempat mau S2 ke luar negeri, tapi karena anak satu-satunya, jadi gak diizinin. Dibilang, ‘Perempuan tuh berkarya melulu, laki-laki gak ada yang mau’. Aku berpikir kenapa selalu dihubungin sama laki-laki? Padahal hidup gak selalu tentang laki-laki,” pungkasnya.

Namun, Aisyah memilih tidak terjebak dalam standar tersebut. Ia meyakini bahwa hal baik yang ia lakukan justru memperbesar kesempatannya untuk mendapatkan pasangan yang benar-benar memahami nilai hidupnya. Bukan pasangan yang menuntutnya hidup dalam lingkup ekspektasi sosial yang sempit.

8. Mimpi dan harapannya untuk mengubah cara pandang bangsa

Aisyah Winna Putri, founder Yayasan Teman Hebat Berkarya (instagram.com/aisyahwinna)

Baru sekitar enam tahun perjalanannya dimulai dari sebuah komunitas menjadi yayasan. Aisyah punya banyak mimpi besar yang belum terwujud. Selama ini, mungkin kita sering melihat ada teman-teman disabilitas yang menjadi barista. Aisyah justru ingin punya butik yang memajang karya hasil daur ulang pakaian anak-anak binaannya.

Disabilitas dan pakaian bekas mungkin dua hal yang kerap dipandang sebelah mata. Namun, apa yang dilakukan oleh Aisyah Winna, tim, dan para penyandang disabilitas bisa menunjukkan bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Di luar permasalahan ekonomi dan lapangan kerja, Aisyah juga ingin masyarakat terus meningkatkan kesadaran tentang cara memandang penyandang disabilitas. Berangkat dari rasa hormat, bukan belas kasihan yang meremehkan.

Pesan itulah yang ingin ia titipkan kepada siapa pun yang mendengarkan kisahnya. Cerita Aisyah Winna menjadi pengingat bahwa ‘luka’ pribadi pun bisa diubah menjadi sumber kekuatan untuk membangun hal-hal besar di kemudian hari.

Seorang guru yang resah dengan kehidupan murid-muridnya ini, menjelma menjadi sosok yang menerangi kehidupan orang lain. Perjalanan Aisyah Winna Putri bersama timnya di Yayasan Teman Hebat Berkarya masih panjang. Namun di balik kisah ini, ia masih punya semangat untuk terus mendukung kemandirian ekonomi para penyandang disabilitas. 

Editorial Team

Related Article