Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kisah Widuri Retno Ningrum Temukan Panggilan Hidup Setelah Menjadi Ibu

Kisah Widuri Retno Ningrum Temukan Panggilan Hidup Setelah Menjadi Ibu
Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Intinya Sih
  • Teguran kecil dari guru anaknya membuat Widuri Retno menyadari pentingnya memahami perkembangan anak dan memulai perjalanan baru sebagai praktisi Montessori serta pendidik bagi para orangtua.
  • Selama pandemi, Widuri menempuh diploma Montessori online, membangun Our Meaningful Journey, mengajar ratusan anak, dan memperluas komunitas ibu-anak sambil menerapkan Positive Discipline serta Fitrah Based Education.
  • Widuri menekankan bahwa pendidikan dan bakat harus digali sepanjang hidup; perempuan perlu terus belajar, menemukan misi hidupnya, dan menjadi teladan pembelajar bagi anak-anak mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Di balik suatu pencapaian, ada ruang penuh cerita yang menyimpan berbagai alasan. Bagi sebagian orang, perubahan hidup bukan soal sesuatu yang besar. Terkadang, satu kalimat kecil bisa menjadikan hidup seseorang berbeda 180 derajat. Ada momen kecil dalam hidup Widuri Retno yang mengubahkan pemikiran dan pandangannya sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu.

Momen itu datang dalam wujud teguran. Bukan dari pasangan atau rekan kerja melainkan seorang guru. Teguran ituah yang membuatnya menyadari akan panggilan hidupnya sebagai seorang ibu sekaligus pendidik. Inilah kisah Widuri Retno Ningrum, seorang ibu yang memberanikan dirinya memulai hal baru untuk kebaikan anaknya. Dari Widuri, kita bisa belajar bahwa perempuan punya yang tak terbatas dan tak tergantikan oleh apa pun.


1. Satu teguran yang mengubah pandangan seorang perempuan dan ibu

Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)

Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan akan berjalan esok hari, lusa, dan seterusnya. Begitu pun dengan Widuri, perempuan asal Surabaya ini tidak pernah berpikir bahwa ia akan menjadi seorang praktisi Montessori dan membuka usaha sendiri.

Sebelum membangun Our Meaningful Journey (kelas parenting), Widuri adalah lulusan Sastra Jerman yang mencoba peruntungan di berbagai bidang kerja. Namun, belum ada satu pekerjaan cocok dan bisa membuat hidup makin bermakna.

“Saya diajak lanjut S2 sama teman-teman. Saya bilang, ‘Gak ah, aku mau kerja aja. Aku gak bakal sekolah lagi, udah capek, aku gak mau belajar, maunya cari duit aja!” gitu. Saya selalu bilang gak mau lanjut sekolah,” ceritanya kepada IDN Times secara daring pada Sabtu (23/5/2026).

Namun, peran baru sebagai orangtua membukakan mata dan pikirannya tentang berbagai kesempatan baru. Sebanyak apa pun pengalaman kerjanya tetap membuat Widuri merasa kurang berilmu sebagai ibu. Ada rasa keingintahuan dan hasrat untuk terus belajar.

Ia mencoba mengambil baby class untuk anaknya yang belum berusia setahun. Seperti halnya kebanyakan ibu lakukan, Widuri mendampingi, mengarahkan, membantu. Tapi justru, itulah yang menjadi masalah.

“Waktu itu bukan saya merasa clueless tentang dunia anak sehingga saya banyak ngasih instruksi ke anak. Nah sama gurunya dapat teguran yang saya ingat banget, ‘Ibu, anaknya itu udah pinter banget lho. Ibu mungkin dikurangin ya ngasih instruksinya” karena menurut mereka kayak gak bagus gitu,” jelasnya.

Teguran kecil itu sangat melekat dalam pikirannya. Ia pulang membawa pertanyaan besar sebagai orangtua.

“Itu ngena di hati saya. Saya merasa, ‘Wah ternyata saya tuh gak ngerti apa-apa tentang perkembangan anak, tentang cara mendidik anak’. Terus saya merasa pengin belajar,” sambungnya. 

Dari teguran itulah, perjalanan panjang kariernya dimulai. Mulai ikut berbagai kelas-kelas parenting secara online hingga membawanya berkenalan dengan dunia Montessori, yang menjadi fokus utamanya saat ini.

Tiap orang selalu punya hak untuk memilih. Kisah Widuri merupakan bukti bahwa jurusan kuliah gak bisa jadi penentu bagaimana kehidupanmu akan berjalan ke depan. Justru, keputusan besarnya untuk mendalami dunia Montessori menunjukkan bagaimana keberanian untuk melangkah sekecil apa pun itu akan memberikan perubahan.

2. Widuri menemukan 'oase' di tengah beratnya masa pandemik

Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)

Tahun 2020 menggoyahkan segala sektor bisnis apa pun. Pandemik merupakan masa yang berat untuk siapa pun, tak terkecuali Widuri. Namun, pandemik jugalah yang membukakan jalan bagi Widuri untuk mengambil diploma Montessori secara online. Sebuah keputusan yang terasa nekat tetapi makin membukakan banyak peluang dan penawaran baru dalam hidupnya.

Berbekal nekat dan kepercayaan dari orang-orang sekitar, Widuri mulai sering membagikan sharing di media sosial. Bukan hanya itu, ia juga kerap mengisi kulwap atau kuliah whatsapp, mengajar online di berbagai komunitas, dan bekerja sama dengan brand-brand, membuat webinar, membuka kelas offline pertamanya di tahun 2023 sampai sekarang.

Ia menyadari, “Mungkin ini salah satu misi hidup saya, kayaknya saya akan berkontribusi di pendidikan anak usia dini. Kayak merasa itu panggilan jiwa saya.”

Meskipun tidak ada pengalaman mengajar di sekolah formal, Widuri mulai membuka kelas Montessori hanya berbekal ilmu yang ia punya dan dukungan dari teman-teman yang merelakan anak mereka menjadi kelompok belajar pertama secara offline di Our Meaningful Journey.

Sempat ada keraguan dan ketakutan tapi Widuri tetap melakukan berbagai trial and error sepanjang membuka kelas Montessori dan parenting ini. Dari hanya lima anak sampai sekarang sudah ratusan anak murid. Dari ruang tamu, kini Widuri sudah punya tempat sendiri untuk Our Meaningful Journey.

Gak berhenti di Montessori, Widuri juga mendalami Fitrah Based Education, yaitu pendekatan Islami yang menyesuaikan stimulasi dengan tahapan fitrah usia anak. Serta Positive Discipline yang ia terapkan juga kepada murid-muridnya. Selain kelas parenting di Our Meaningful Journey, Widuri juga membuka kelas anak @kelasmainseru.sby dan kelas untuk calistung (baca, tulis, hitung).

“Positive Discipline itu lebih ke metode cara kita apa ya membuat anak disiplin tanpa kekerasan. Jadi kan biasanya orang-orang tuh mikir bahwa disiplin itu ya harus dengan keras gitu ya, tegas gitu. Tegas kan bukan berarti keras tapi kita membantu anak-anak disiplin secara mandiri dari dalam dirinya gitu. Dalam arti Positive Discipline itu ya kita tegas tapi juga bisa lembut gitu. Itu ada teori-teori sendiri yang menurut saya juga selaras dengan Fitrah Based Education dan juga Montessori,” paparnya.

Di tahun 2019, Widuri bersama ketiga temannya membuat komunitas ibu dan anak (@seplaydate) di Surabaya. Dari 20 orang saja, kini sudah ada 300 lebih anggota dalam komunitas yang tiap bulannya aktif mengadakan playdate. 

3. Miskonsepsi soal Montessori, bukan soal alat mahal

Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)

Dari sekian banyak metode pembelajaran dan perkembangan anak, Widuri jatuh hati dengan dunia Montessori. Selama ini, Widuri melihat banyak orang fokus pada alat-alat yang mahal padahal Montessori bisa dilakukan di rumah tanpa membeli alat-alat mahal.

“Montessori sendiri itu kan sebetulnya sebuah metode yang menstimulasi anak itu secara holistik. Jadi enggak cuma kognitifnya aja gitu kan, gak cuma motorik atau sensorik, tapi keseluruhan dari mental atau jiwanya si anak sendiri itu juga sangat kita perhatikan gitu,” jelasnya.

Yang orang-orang kurang sadari, Montessori erat kaitannya dengan practical life skills. Contohnya anak yang belajar menuang air, melipat baju, menyiapkan baju sendiri, membantu orangtua.

“Jadi sebenarnya, orang gak sadar aja kalau itu Montessori. Saya merasa bahwa orang-orang zaman dulu itu pintar-pintar. Sudah terbiasa dengan stimulasi secara tidak langsung. Jadi plus-nya, Montessori bisa dilakukan oleh siapa pun dari kalangan mana pun tanpa harus membeli aparatus-aparatus mahal,” katanya.

Menurut Widuri, Montessori mengajarkan atau menyiapkan anak untuk bisa hidup lebih mandiri. Ketika anak mandiri maka mereka bisa mengeluarkan sisi kekuatannya atau potensi yang ada di dalam dirinya dengan optimal.

“Montessori bukan menyiapkan anak untuk bisa calistung di sekolah atau pintar di sekolah. Tapi menyiapkan anak untuk bisa hidup mandiri dan menghadapi masa depan dengan cara yang baik,” ucapnya.

Sebuah pesan yang tampaknya sederhana, tapi punya implikasi yang sangat luas bagi orangtua Indonesia yang kerap merasa bahwa pendidikan berkualitas hanya bisa dibeli dengan harga mahal.

Tak jarang, Widuri masih menemui orang-orang yang kurang paham dengan metode ini. Ini menjadi tantangannya sebagai praktisi Montessori sekaligus parenting educator.

“Beberapa orangtua sempat ada yang protes, ‘Miss kok gak diajarin menulis? Atau, kok gak diajarin baca, berhitung?’. Padahal, kita sedang menyiapkan pondasinya dulu dengan cara bermain, berkegiatan sehari-hari dengan mandiri, dengan senang. Rata-rata memang murid yang cepat belajar calistung adalah anak-anak yang sudah mandiri, yang sudah bagus fondasinya,” terang Widuri.

Di Kelas Main Seru, Widuri membagi kelasnya berdasarkan usia: kelas bermain pagi untuk anak usia 2,5–4 tahun, dan kelas calistung sore atau malam untuk anak usia 4–7 tahun. Setiap aktivitas dirancang bukan sekadar untuk mengisi waktu, melainkan untuk mengembangkan kemandirian dan kemampuan berpikir kritis sejak dini.


4. Tiap orangtua perlu mencari tahu parenting seperti apa yang cocok dengan anak mereka

Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)

Meski memiliki banyak ilmu seputar parenting, Widuri tetap merasa kesulitan. Sebagai pendidik, terkadang ia merasa ada beban ketika tidak mempraktekkan teori-teori tersebut kepada dirinya sendiri.

“Nah, tapi saya juga menyadari bahwa mungkin gak semua teori itu cocok di setiap parenting atau pola asuh seseorang. Metode parenting kan banyak banget, kalau kita ngomongin metode A, B, C mungkin cocok di kita tapi belum tentu cocok di orang lain. Jadi, saya akhirnya lebih memaklumi dan fleksibel melihat sudut pandang orang lain,” katanya.

Dalam perannya sebagai orangtua pun, Widuri mengaku ia terus berupaya mencoba berbagai hal, mencari yang terbaik untuk anaknya. Ia menjadikan ‘kesulitan’ ini sebagai motivasi untuk menjadi orangtua yang lebih baik setiap harinya.

“Saya merasa bahwa teori itu kadang tidak bisa diterapkan bukan karena teorinya salah, tapi karena diri kita sendiri itu mungkin masih ada luka-luka masa lalu,” terangnya.

Terkadang teori parenting itu tidak bisa diterapkan bukan karena teorinya yang salah atau gak cocok sama kita, tapi kita masih ada luka-luka masa kecil yang belum tuntas gitu dengan diri kita sendiri.

Widuri melanjutkan, “Saya pun merasa demikian. Jadi, kadang saya berusaha menerapkan teori ini kok berat. Ternyata ada inner child-inner child yang saya harus tuntaskan.”

Itulah mengapa dalam praktiknya, ia gak hanya memberikan pengajarak tetapi juga edukasi kepada orangtua murid. Tujuannya agar apa yang diterapkan saat kelas juga bisa diterapkan oleh orangtua masing-masing di rumah.


5. Di luar dunia Montessori, Widuri mendalami sesuatu yang lebih personal yaitu Talent Mapping

Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)

Menurutnya, penting untuk terus menambah ilmu dengan sertifikasi-sertifikasi yang mendukung pekerjaannya. Di samping Montessori, Widuri merupakan praktisi Talent Mapping, salah satu metode asesmen minat bakat.

“Orang itu kan selalu mikir ‘Aku gak punya bakat deh!’ karena mikirnya bakat itu cuman bakat fisik dalam arti seperti olahraga, tari, nyanyi. Itu kan bakat fisik yang kelihatan gitu ya secara apa ya, secara kasat mata tuh udah kelihatan itu bakat gitu. Tapi ternyata kalau di Talent Mapping itu lebih ke bakat sifat di mana kita itu punya kekuatan potensi-potensi di dalam diri yang akan menuju ke misi hidup kita,” terang Widuri.

Ketika seseorang bahagia menjalani hidupnya atau pekerjaannya sekarang, bisa jadi ia sudah menggunakan bakat sifat itu. Pasalnya, manusia punya tujuh bakat utama dan tujuh bakat pendamping. Itulah yang membuat Widuri merasa pekerjaannya sekarang lebih bermakna karena sebagian besar bakatnya mengarah ke panggilan jiwa untuk menjadi praktisi pendidikan anak usia dini.

Talent Mapping bukan sekadar untuk orang dewasa yang sedang mencari arah. Menurutnya, talent mapping juga ilmu penting bagi orangtua untuk lebih memahami anak mereka? Bukan soal apa saja yang anak bisa lakukan tapi apa yang dimiliki anak untuk bisa menunjang kehidupannya.

Usia pra-remaja sekitar 10-15 tahun merupakan suai yang tepat untuk anak mengeksplor banyak hal dalam hidupnya. Sayangnya, hidup di era digital ini membuat anak lebih terpaku dengan hal-hal yang mereka temukan di dunia maya.

“Secara gak sadar banyak orangtua itu yang mengubur atau memadamkan minat bakat anak,” ucapnya.

Di sinilah peran orangtua menjadi krusial. Widuri menyarankan prinsip 3K: Kaya Kegiatan, Kaya Wawasan, Kaya Gagasan. Dengan tiga prinsip ini, orangtua menciptakan ruang yang cukup luas bagi anak untuk mengeksplorasi siapa dirinya. Tanpa terburu-buru memberi label dan tidak memaksakan "minat" yang sesungguhnya bukan minat anak.


6. Terlepas dari usia, perempuan harus tetap belajar dan menemukan misi hidupnya

Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)

Semua yang dilakukan Widuri bukan tanpa sebab. Perjalanan eksplorasi bakat juga gak berhenti di masa pra-remaja. Di usia dewasa pun akan ada waktunya untuk setiap orang bisa menemukan kekuatan atau potensi diri mereka.

Widuri mengatakan bahwa ia juga tidak langsung tahu apa yang menjadi bakat atau kemampuannya. Ketertarikannya terhadap dunia pendidikan anak-anak pun baru diketahui setelah menjadi ibu. Artinya, gak ada kata terlambat untuk memulai hal-hal baru.

“Itulah kenapa saya punya komunitas ibu dan anak. Selain memfasilitas playdate, saya selalu empower ibu-ibu bahwa gak ada yang terlambat. Kalau memang, contohnya kita mua sertifikasi memasak, mau sertifikasi apa pun di usia sekarang itu gak apa-apa banget,” kata Widuri.

Baginya, bakat sangat berhubungan dengan misi hidup. Manusia terlahir di dunia bukan tanpa alasan. Bukan sekadar makan dan hidup melainkan ada misi yang harus dilakukan. Justru, seorang ibu bisa menjadi contoh nyata untuk anak-anaknya bahwa proses belajar itu terjadi seumur hidup dan gak akan berhenti.

“Ibu-ibu sekarang kalau merasa bahwa dirinya gak produktif, yuk, dicari apa yang bikin kamu bermanfaat untuk sekitar. Gak usah dalam skala besar. Kita dalam keluarga aja atau orang sekitar, kita bikin sesuatu yang enjoy dan bermanfaat. Saya selalu empower ibu-ibu untuk gak ada kata terlambat buat belajar,” lanjutnya.

Sebabnya, ia memandang perempuan yang hebat itu gak pernah berhenti belajar. Mereka adalah long life learner yang menjadi madrasah utama untuk anak-anaknya. Baginya, anak-anak yang hebat juga akan lahir dari ibu-ibu yang suka belajar dan terus berprogres lebih baik setiap harinya.

“Menurut saya, perempuan itu hebat ketika mereka gak lelah dan terus mau belajar. Minimal untuk keluarga dan dirinya sendiri. Ketika ada keinginan itu maka yang lain pasti mengikuti. Ada rasa ingin terus lebih baik, ingin terus belajar, dan gak mudah puas dengan apa yang mereka ketahui saat ini,” tuturnya.

Widuri adalah bukti nyata dari definisi itu. Dari yang awalnya tidak ingin melanjutkan sekolah tapi kini berencana mengambil S2 di bidang pendidikan anak. Peran ibu menjadi pemicu kuatnya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Dari perjalanan Widuri ini menunjukkan bahwa praktisi parenting pun tetaplah manusia biasa yang terkadang gagal, belajar, dan masih berjuang. Ia tidak malu mengakui hal itu untuk memotivasi orang lain juga bahwa perubahan besar dalam hidup gak selalu dimulai dari hal-hal besar.

Sebuah teguran, pertanyaan kecil, memunculkan keberanian yang membawa semangat untuk perempuan lain. Melalui kisahnya, ia seperti mengingatkan bahwa anak-anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna melainkan orangtua yang mau terus berusaha dan belajar menjadi lebih baik.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More