Demi Malaikat Kecilku, Aku Harus Berperang dengan COVID-19

Aku sanggup mengorbankan hidupku demi membawa kehidupan yang baru, tapi aku tak sanggup menahan perihnya kerinduan saat jauh dari anakku. Pandemik yang melanda dunia selama setahun ini, dengan kejam membentangkan jarak di antara kami. Ia tak hanya melukaiku secara fisik, tapi juga mematahkan hatiku.
Aku harus menikam kerinduan ini setiap detik, sebab egois sekali rasanya jika aku mendambakan pertemuan dengan anakku. Namun, sebagai seorang ibu, aku tahu aku tak boleh lemah apalagi menyerah, agar anak-anakku kelak mengingatku, sebagai manusia yang paling piawai menyembunyikan luka.
Aku memulai tulisan ini dengan harapan, agar semua ibu di dunia ini, khususnya di Indonesia, yang tengah berjuang melawan virus COVID-19, bisa kuat dan tabah sampai akhir. Selamat membaca!
1. Pertama kalinya setelah setahun, virus ini mampir juga ke rumah kami

Masih jelas di ingatanku, pada bulan Juli lalu ibuku menggigil hebat, dan mengaku sekujur tubuhnya terasa sakit. Saat merasa ada yang janggal dengan kondisinya, ibuku memintaku menjauhkan anakku darinya. Betul saja, esoknya ibuku terkonfirmasi positif COVID-19, di usia yang sudah setengah abad, dan kurangnya pengetahuan ibuku tentang virus ini, membuatnya ketakutan setengah mati.
Bagaimana tidak? Hampir setiap hari berita duka selalu terdengar di telinga kami, ditambah keberadaan bayiku di rumah, yang tak kalah membuat khawatir semua orang. Sambil menangis, ia memintaku dan bayiku segera meninggalkan rumah, dan tinggal sementara di rumah mertuaku, karena ibuku harus isolasi mandiri selama 14 hari.
2. Ternyata kali ini, Tuhan mengirim aku untuk menemani ibuku

Ya, daripada takut akan bahaya dari virus ini. Kita justru lebih takut membawa musibah yang sama pada orang lain. Di hari aku jatuh sakit dengan gejala yang sama dengan ibuku, aku pun segera melakukan tes usap antigen, dan hasilnya pun positif. Saat aku tahu jika aku juga terpapar COVID-19, hal pertama yang aku lakukan saat itu, tentu saja meninggalkan rumah mertuaku, dan menjauhkan diri dari anakku untuk menjalani isolasi mandiri.
Sepanjang perjalanan aku menangis, ketakutanku akan menularkan virus ini pada orang lain sangat besar, terutama pada bayi kecilku. Kekhawatiran luar biasa itu kututupi dengan doa yang tak putus kukirim untuknya. Di saat kedua tanganku tak mampu meraihnya, Aku yakin Tuhan dengan segala kekuasaannya pasti menjaga anakku, jauh lebih baik dari caraku menjaganya.
3. Tuhan mengirim lebih banyak orang untuk menemani ibuku yang kesepian

Ternyata virus ini senang bermain-main di rumah kami, bagaimana tidak? Tak cukup aku dengan ibuku, kali ini ayah dan kakakku juga turut berperang melawan virus COVID-19. Daripada sedih, peristiwa ini justru terasa jenaka. Setiap hari saling memberi semangat, berjemur bersama sambil mendengarkan musik, hingga makan bersama. Hari-hari kami dalam pengasingan ini jadi terasa lebih berwarna. Kami melewati kedukaan ini dengan ceria, meski kami tahu kondisi kami sedang tidak baik-baik saja.
Usai mengalaminya sendiri, aku tak henti-hentinya berharap, agar tak ada lagi yang merasakan ketidaknyamanan yang kami rasakan. Aku juga berharap tak ada lagi ibu di luar sana yang harus merasakan kepahitan, karena berpisah dengan anak-anaknya.
4. Pesan-pesan singkat penambah imunitas

Meski jarak membentang, tak bisa menghalangi cinta. Pesan dukungan dan doa dari orang-orang baik tak henti-hentinya menghibur kami. Kadang berisi perhatian, kekhawatiran, tawaran bantuan bahkan sekadar candaan. Pesan itu seakan menjadi asupan vitamin tak langsung, yang perlahan namun pasti memperbaiki kondisi kesehatan kami.
Bukan rahasia lagi, warga negara Indonesia memang terkenal ramah, guyub, dan rukun, hal itu seakan sudah menjadi identitas Indonesia di mata dunia. Dengan banyaknya orang yang peduli satu sama lain di masa pandemik ini, semakin ringan rasanya langkah kita semua menuju #IndonesiaPulih.
Meski tak ada perjumpaan dengan siapa pun sepanjang menjalani isolasi mandiri, tapi kepedulian orang-orang di sekitar kami sangat terasa, meski hanya lewat pesan singkat penuh motivasi yang mereka kirim ke HP kami.
5. Akhirnya, kami menang!

Di hari ke-15, kami sekeluarga melakukan tes usap antigen usai menjalani isolasi mandiri. Dan hari itu menjadi awal yang baru bagi kami. Tes usap antigen yang menunjukkan hasil negatif itu membawa kami memasuki dunia baru. Setelah ini tak ada lagi yang boleh meremehkan nikmatnya sehat, dan lebih mensyukuri hal-hal kecil lainnya yang terkadang luput dari perhatian kita.
Tamat sudah drama bergenre horor yang menjelma jadi komedi di rumah kami sendiri.
Hari ke-15 menjadi hari paling membahagiakan, karena akhirnya aku bisa kembali berkumpul bersama malaikat kecilku.
Hari itu aku menjemput anakku. Dengan penuh cinta dan rasa lega kubisikkan di telinganya "Nak, ibumu baru saja menang melawan 'monster' yang ditakuti banyak orang".
Aku jadi teringat pesan Presiden Jokowi "Disiplin dalam bertindak, tidak gentar menghadapi rintangan, selalu peduli dan siap berkorban untuk sesama, adalah jiwa dan karakter yang kita butuhkan, di era pandemi COVID-19".
Berkaca pada pengalamanku sebagai penyintas COVID-19, bagaimana sigapnya orang-orang di sekitar kami memberi bantuan, menghibur, hingga mendoakan kami. Menjadi keyakinanku bahwa #IndonesiaPulih pasti terwujud, jika kita melangkah bersama, bahu membahu, dan selalu kooperatif. Meski tak mudah, aku yakin Indonesia akan menang dalam peperangan ini.