Kebiasaan membaca pesan tanpa langsung memberikan respons sebenarnya dapat terjadi dalam beberapa situasi. Keterlambatan membalas pesan tidak selalu berarti seseorang sengaja mengabaikan lawan bicara. Penelitian mengenai perilaku pengguna aplikasi pesan instan menunjukkan bahwa beban informasi, tekanan waktu, dan kondisi psikologis dapat memengaruhi kecenderungan seseorang untuk menunda balasan.
5 Alasan Kita Sering Membuka Chat Tapi Tidak Langsung Membalas

- Membaca chat tanpa langsung membalas tidak selalu berarti mengabaikan; beban informasi, tekanan waktu, dan kondisi psikologis dapat mendorong penundaan respons.
- Pesan serius atau cerita pribadi sering membutuhkan waktu, perhatian, dan pertimbangan agar jawaban tidak terburu-buru atau kurang tepat.
- Chat juga bisa terlupakan saat dibuka di waktu tidak tepat, ketika banyak pesan masuk, atau saat penerima bingung menentukan respons; urgensi memengaruhi ekspektasi balasan.
Take a Deeper Reads

Pernah membuka WhatsApp atau Direct Massage (DM) dan membaca pesan yang masuk tetapi tidak langsung membalas? Awalnya mungkin hanya berniat menjawab beberapa menit kemudian. Namun, setelah melakukan aktivitas lain, pesan tersebut justru terlupakan.
Lantas, apa saja alasan seseorang membuka chat tetapi tidak langsung membalasnya?
1. Ingin membalas ketika pikiran sudah siap

Ilustrasi orang sedang fokus menggunakan smartphone. (pexels/craig adderley) Membaca sebuah pesan dan menyusun jawaban merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang mungkin memiliki cukup waktu untuk membaca pesan, tetapi belum tentu memiliki kondisi yang tepat untuk memberikan respons.
Hali ini sering terjadi ketika pesan berisi persoalan yang cukup serius atau membutuhkan penjelasan panjang. Daripada memberikan jawaban secara terburu-buru, seseorang mungkin lebih memilih menundanya sampai memiliki waktu dan perhatian yang lebih baik.
Penelitian Jing Li, Shiqi Zhang, dan Wenting Ao dalam Computers in Human Behavior menunjukkan bahwa beban informasi, beban tugas, dan tekanan waktu dapat meningkatkan kecemasan terhadap informasi. Kondisi tersebut berkaitan dengan perilaku seperti membaca pesan tanpa membalas dan menunda respons.
Jadi, pesan yang sudah dibaca belum tentu sengaja diabaikan. Bisa saja seseorang sedang menunggu waktu yang lebih tepat untuk menjawab.
2. Isi pesan membutuhkan jawaban yang tidak sembarangan

Ilustrasi seseorang sedang menggunakan smartphone sambil berada di depan komputer (pexels/vladislav smigelski) Tidak semua pesan dapat dijawab dengan "iya", "oke", atau emoji. Ada percakapan tertentu yang membutuhkan pertimbangan sebelum seseorang menentukan respons.
Contohnya, ketika seorang teman menceritakan masalah pribadi dan meminta pendapat. Kita mungkin sudah membaca seluruh isi ceritanya, tetapi membutuhkan waktu untuk memahami situasinya sebelum memberikan tanggapan.
Kecepatan membalas pesan juga tidak selalu memiliki standar yang sama dalam setiap percakapan. Penelitian mengenai respons dalam komunikasi pesan instan menunjukkan bahwa penerima pesan dapat merasakan tekanan untuk membalas sesuai ekspektasi pengirim.
Dengan demikian, menunda balasan tidak selalu menunjukkan kurangnya perhatian. Dalam beberapa situasi, seseorang justru sedang berusaha memberikan respons yang lebih tepat.
3. Membuka chat pada waktu yang kurang tepat

Ilustrasi seseorang menggunakan smartphone ketika sedang mengerjakan aktivitas lain di meja (pexels/ready made) Pernah membaca pesan ketika sedang kuliah, makan, bepergian, atau mengerjakan tugas, atau melakukan aktivitas lainnya? Rasa penasaran terhadap notifikasi mungkin membuat kita membuka pesan, tetapi kondisi saat itu belum memungkinkan untuk membalas.
Masalahnya, pesan tersebut dapat terlupakan setelah aktivitas selesai. Ketika kembali mmebuka aplikasi, barulah kita menyadari bahwa masih ada percakapan yang belum dijawab.
Kondisi semacam ini juga berkaitan dengan kebiasaan melakukan beberapa aktivitas secara bersamaan. Penelitian tentang penggunaan instant messaging (aplikasi pesan instan) ketika membaca menunjukkan bahwa aktivitas pesan instan dapat membuat seseorang mmebutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas membaca.
Artinya, membuka pesan tidak selalu berarti seseorang sedang memiliki waktu luang untuk melanjutkan percakapan.
4. Terlalu banyak pesan membuat kita kehilangan jejak

Ilustrasi mahasiswa sedang menggunakan smartphone sambil melakukan aktivitas lain (pexels/keira burton) Semakin banyak percakapan yang masuk, semakin besar pula kemungkinan ada pesan yang terlewat. Seseorang mungkin membuka satu chat, kemudian berpindah ke percakapan lain karena terdapat pesan yang dianggap lebih mendesak. Setelah itu, chat sebelumnya dapat terlupakan atau tertunda untuk dibalas.
Fenomena tersebut juga ditemukan dalam penelitian mengenai penggunaan aplikasi pesan instan. Li, Zhang, dan Ao menemukan bahwa kelebihan informasi berkaitan dengan kecemasan informasi dan perilaku seperti lupa memproses informasi, membaca tanpa membalas, serta menunda respons.
Tidak mengherankan jika seseorang terlihat aktif di aplikasi pesan, tetapi masih memiliki beberapa chat yang belum mendapatkan balasan.
5. Bingung harus menjawab apa

Ilustrasi seseorang menggunakan smartphone dalam suasana santai di kamar (pexels/Antoni shkraba) Ada kalanya seseorang tidak langsung membalas bukan karena tidak mau, melainkan karena tidak tahu harus memberikan respons yang seperti apa.
Misalnya, seseorang mengirim cerita panjang mengenai masalah pribadinya. Kita ingin menunjukkan perhatian, tetapi pada saat yang sama khawatir memberikan jawaban yang kurang tepat. Akhirnya, pesan tersebut dibaca terlebih dahulu sambil menunggu kata-kata yang dirasa sesuai
Ekspektasi terhadap waktu balasan juga dapat berbeda berdasarkan konteks percakapan. Penelitian Büttner dan Lutz dalam Computers in Human Behavior menunjukkan bahwa tingkat urgensi pesan dan kebiasaan seseorang dalam membalas sebelumnya dapat memengaruhi seberapa lama seseorang bersedia menunggu sebelum merasa diabaikan.
Karena itu, pesan yang bersifat mendesak tentu dapat memiliki ekspektasi waktu respons yang berbeda dibandingkan percakapan santai.























