Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Stop Menyuruh Orang Turunkan Gaya Hidup, Tiap Hari Struggling!
ilustrasi bekerja di perantauan (unsplash.com/Gema Saputera)
  • Kesulitan keuangan tidak selalu akibat gaya hidup boros, karena banyak pengeluaran sudah berupa kebutuhan pokok seperti pangan, kontrakan, listrik, transportasi, dan tagihan rutin.
  • Kenaikan biaya hidup dapat melampaui penghasilan terbatas, sehingga berhemat saja tidak selalu menyelesaikan masalah ketika kebutuhan sehari-hari terus menggerus pendapatan.
  • Saran menghapus hiburan atau pindah ke tempat lebih murah sering mengabaikan kondisi tiap orang; mereka tetap berhak menikmati hidup sesuai kemampuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika seseorang mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terus terasa mahal, respons yang muncul sering kali justru menyuruhnya mengurangi pengeluaran. Kurangi jajan, jangan sering beli kopi, masak sendiri, pindah ke tempat tinggal yang lebih murah, atau berhenti membeli barang yang dianggap tidak penting. Seolah-olah kesulitan memenuhi kebutuhan hidup selalu terjadi karena seseorang kurang pandai mengatur uang.

Padahal, tidak semua orang sedang kesulitan karena kebanyakan belanja atau memaksakan gaya hidup. Ada orang yang sudah jarang makan di luar, tidak pernah liburan, bahkan harus menghitung pengeluaran untuk membeli lauk sehari-hari, tetapi penghasilannya tetap tidak cukup. Sebelum buru-buru menyuruh orang lain hidup lebih hemat, ada beberapa hal yang perlu dipahami dari kondisi tersebut.

1. Tidak semua pengeluaran bisa dipangkas karena sebagian besar sudah termasuk kebutuhan pokok

ilustrasi makan begizi (vecteezy.com/Patlivia Nuswantito)

Saran untuk mengurangi pengeluaran terdengar masuk akal jika seseorang memang sering membeli barang yang tidak dibutuhkan. Namun, bagaimana jika uangnya sebagian besar sudah habis untuk membayar kontrakan, listrik, transportasi, beras, telur, minyak goreng, dan kebutuhan rumah tangga lainnya? Pengeluaran seperti ini bukan sesuatu yang bisa begitu saja dihilangkan demi membuat anggaran terlihat lebih rapi.

Mengurangi jajan mungkin bisa dilakukan, tetapi seseorang tetap perlu makan setiap hari. Beralih ke transportasi yang lebih murah juga belum tentu memungkinkan jika lokasi tempat kerja tidak terjangkau angkutan umum. Tidak semua masalah keuangan bisa diselesaikan dengan mencoret daftar belanja karena ada kebutuhan yang memang harus tetap dibayar.

2. Harga kebutuhan sehari-hari tidak selalu sebanding dengan kenaikan penghasilan

ilustrasi kebutuhan pokok (pexels.com/cottonbro studio)

Bagi pekerja dengan penghasilan terbatas, kenaikan harga bahan makanan bisa langsung memengaruhi isi dompet. Uang yang sebelumnya cukup untuk membeli beras, telur, sayuran, dan lauk selama beberapa hari mungkin sekarang hanya cukup untuk belanja lebih sedikit. Belum lagi jika harus membayar kontrakan dan tagihan rutin yang tidak bisa ditunda.

Dalam situasi seperti ini, menyuruh seseorang menurunkan gaya hidup terasa tidak menyentuh persoalan sebenarnya. Mereka mungkin tidak sedang mengejar kehidupan mewah, tetapi hanya ingin membeli kebutuhan rumah tangga tanpa harus terus menghitung sisa uang. Ketika pendapatan sulit mengejar biaya hidup, masalahnya tidak bisa selalu dibebankan kepada kebiasaan konsumsi individu.

3. Hidup layak bukan berarti harus punya banyak pengeluaran untuk kesenangan

ilustrasi membeli baju (pexels.com/Sam Lion)

Ada anggapan bahwa seseorang masih bisa bertahan selama tidak membeli kopi mahal, makan di restoran, menonton konser, atau pergi berlibur. Padahal, kebutuhan manusia tidak berhenti pada makan dan membayar tagihan. Sesekali membeli pakaian baru, mengajak keluarga makan di luar, atau menikmati hiburan juga merupakan bagian dari kehidupan yang wajar.

Menurunkan pengeluaran untuk hiburan mungkin bisa menjadi solusi sementara ketika keuangan sedang sulit. Namun, bukan berarti seseorang harus menghapus semua kesenangan dari hidupnya agar dianggap mampu mengelola uang. Bekerja setiap hari seharusnya tetap memberi ruang bagi seseorang untuk menikmati hasil jerih payahnya, bukan sekadar bertahan sampai menerima gaji berikutnya.

4. Tidak semua orang punya pilihan untuk pindah ke tempat tinggal yang lebih murah

ilustrasi anak kos (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Saran untuk pindah ke daerah dengan biaya hidup lebih rendah sering terdengar mudah ketika disampaikan dari luar. Kenyataannya, tempat tinggal berkaitan dengan lokasi pekerjaan, akses transportasi, sekolah anak, serta keberadaan keluarga yang bisa membantu. Pindah kontrakan yang lebih murah belum tentu menghemat pengeluaran jika ongkos perjalanan ke kantor justru bertambah besar.

Belum lagi biaya awal untuk pindah rumah, seperti uang sewa, deposit, kendaraan pengangkut barang, dan kebutuhan lain yang harus dibayar sekaligus. Bagi orang yang bahkan kesulitan menyisihkan uang sampai akhir bulan, keputusan pindah tempat tinggal bukan perkara sederhana. Menyuruh orang pindah tanpa memahami situasinya hanya membuat persoalan terlihat lebih gampang daripada kenyataannya.

5. Setiap orang tetap berhak menikmati hidup meski kondisi keuangannya pas-pasan

ilustrasi nonton film di bioskop (pexels.com/cottonbro)

Orang yang sedang kesulitan keuangan bukan berarti harus berhenti melakukan semua hal menyenangkan. Mereka tetap boleh sesekali membeli makanan kesukaan, menonton film di bioskop, mentraktir teman, atau membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan. Pengeluaran seperti itu tidak otomatis membuat seseorang boros, apalagi jika dilakukan sesekali dan disesuaikan dengan kemampuan.

Masalahnya, orang yang kondisi keuangannya pas-pasan sering dianggap tidak pantas mengeluarkan uang untuk kesenangan pribadi. Ketika membeli kopi, langsung disuruh menabung; ketika pergi berlibur, dianggap tidak tahu diri; bahkan membeli barang yang sedikit lebih mahal bisa dijadikan bahan ceramah soal prioritas. Padahal, hidup bukan cuma soal memastikan uang cukup sampai akhir bulan. Seseorang juga perlu punya ruang untuk menikmati hasil kerjanya tanpa terus-menerus merasa bersalah karena mengeluarkan uang untuk dirinya sendiri.

Tidak semua orang yang kesulitan keuangan sedang hidup boros atau tidak tahu cara mengatur uang. Ada yang sudah mengurangi banyak pengeluaran, tetapi tetap tidak punya cukup uang karena biaya hidup terlalu berat dibandingkan penghasilannya. Jadi, sebelum menyuruh orang lain menurunkan gaya hidup, ada baiknya kita berhenti menganggap bahwa semua masalah ekonomi bisa selesai hanya dengan berhemat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article