Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Cara Mengatasi Financial Anxiety di Tengah Biaya Hidup yang Melonjak

4 Cara Mengatasi Financial Anxiety di Tengah Biaya Hidup yang Melonjak
ilustrasi terbebas financial anxiety meski biaya hidup naik (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Kecemasan finansial akibat biaya hidup meningkat dapat mengganggu kesehatan mental, memicu sulit tidur, rasa kekurangan, hingga belanja impulsif sebagai pelarian.
  • Langkah awalnya adalah memeriksa arus kas, tagihan, dan utang secara jujur, lalu mengatur kebutuhan, keinginan, serta tabungan dengan metode alokasi sederhana.
  • Pengeluaran dapat dikendalikan lewat aturan menunggu 24 jam, membangun dana darurat bertahap, dan mengurangi paparan media sosial yang memicu FOMO.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah tidak kamu merasa gaji bulanan itu ibarat tamu yang menginap di rekening? Baru memasuki minggu kedua, tetapi sisa saldo sudah bikin dada deg-degan. Realita ini membuat orang sibuk mencari tahu cara mengatasi financial anxiety di tengah biaya hidup yang melonjak. Apalagi, tiap kali kumpul bareng teman, obrolannya tidak jauh-jauh dari betapa mahalnya harga kebutuhan pokok sampai cicilan.

  1. 1. Melakukan financial check-up tanpa drama

    ilustrasi mengatur keuangan
    ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    Kamu wajib duduk tenang dan berani melihat angka sebenarnya. Buka semua catatan pengeluaran, tagihan bulanan, sampai utang paylater yang mungkin sering kamu abaikan. Mencatat arus kas dengan jujur memang terasa mengintimidasi pada awalnya, tetapi menjadi fondasi paling krusial. Tanpa mengetahui akar masalah pengeluaranmu, kamu tidak akan bisa membuat strategi perbaikan yang efektif.

    Coba gunakan metode alokasi sederhana. Misalnya, metode 50-30-20 untuk membedakan mana kebutuhan, keinginan, dan tabungan. Contohnya, kalau pengeluaran untuk gaya hidup sudah menyentuh 40 persen, itu alarm keras untuk mengerem keinginan untuk belanja.

  2. 2. Pangkas pengeluaran impulsif dengan aturan 24 jam

    ilustrasi menunda belanja di toko online
    ilustrasi menunda belanja di toko online (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Kecemasan finansial sering muncul bukan karena gaji yang terlalu kecil, melainkan jari yang terlalu cepat checkout keranjang belanja. Pada era serbadigital ini, godaan diskon kilat dan promo gratis ongkir memang didesain untuk mengambil keputusan secara emosional. Oleh karena itu, kamu membutuhkan jeda waktu yang cukup untuk berpikir rasional sebelum mengeluarkan uang. 

    Aturan 24 jam ini jadi filter alami yang ampuh memilih barang yang benar-benar kamu perlukan. Jadi, tiap kali tergoda membeli barang nonesensial, diamkan dulu di keranjang selama seharian penuh. Biasanya, setelah lewat sehari, hormon dopamin yang menggebu-gebu itu akan mereda dan kamu bisa berpikir lebih jernih.

  3. 3. Membangun dana darurat secara perlahan, tetapi pasti

    ilustrasi menyiapkan dana darurat
    ilustrasi menyiapkan dana darurat (pexels.com/Ahsanjaya)

    Punya dana darurat sering dianggap sebagai kemewahan bagi sebagian orang. Padahal, ini  bisa jadi penyelamat utamamu. Saat biaya hidup meroket tajam, memiliki bantalan uang tunai akan memberikan rasa aman psikologis yang luar biasa. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk langsung menyisihkan nominal besar dalam satu waktu. Hal yang penting adalah konsistensi dalam membangun kebiasaan menabung–berapa pun nominalnya.

    Mulailah dengan target yang sangat realistis, contohnya mengumpulkan dana sebesar pengeluaran sebulan terlebih dahulu. Coba sisihkan 10 atau 20 puluh ribu rupiah tiap hari dari sisa uang makan siang ke rekening terpisah. Kalau tiba-tiba ban motor bocor atau AC kamar kos rusak, kamu tidak perlu lagi panik meminjam uang kepada teman.

  4. 4. Detoks media sosial untuk mengurangi FOMO

    ilustrasi media sosial
    ilustrasi media sosial (unsplash.com/Solen Feyissa)

    Salah satu pemicu utama stres masalah keuangan di kalangan anak muda adalah kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di dunia maya. Melihat teman liburan ke luar negeri atau pamer gawai terbaru bisa membuatmu merasa tertinggal dan memicu fear of missing out (FOMO). Nah, gengsi inilah yang diam-diam mendorongmu memaksakan gaya hidup di luar batas kemampuan finansial yang sebenarnya.

    Mulai sekarang, jangan ragu untuk mute atau unfollow akun-akun yang cuma bikin kamu merasa miskin dan tidak berharga. Sebagai gantinya, penuhi linimasa dengan kreator edukasi finansial yang memberikan tips praktis dan membumi. Jadi, daripada menonton story selebgram pamer tas branded, sebaiknya menonton tutorial memasak hemat anak kos yang rasanya tetap bintang lima.

    Mengembalikan kendali atas arus kasmu jadi langkah krusial sebagai cara mengatasi financial anxiety di tengah biaya hidup yang melonjak saat ini. Meskipun prosesnya butuh kesabaran ekstra, percayalah tiap usaha kecil akan berbuah ketenangan dan kebebasan finansial pada masa depan. Tetap semangat mengelola keuangan, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More