Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak Muda Sekarang Bukan Kurang Bersyukur, Cuma Terlalu Banyak Pikiran
Ilustrasi merenung (pexels.com/Craig Adderley)

Ada anggapan yang sering muncul belakangan ini: generasi muda sekarang dianggap terlalu banyak mengeluh, gampang stres, dan kurang bersyukur. Padahal kalau dilihat lebih dekat, banyak anak muda sebenarnya sedang memikul beban pikiran yang tidak sederhana. Mereka tumbuh di masa ketika tekanan hidup datang dari berbagai aspek.

Di balik kalimat “kurang bersyukur”, sering kali ada kecemasan yang tidak terlihat. Banyak anak muda tetap bekerja, belajar, membantu keluarga, bahkan mencoba terlihat baik-baik saja setiap hari, meski isi kepala mereka penuh kekhawatiran tentang masa depan.

1. Hidup anak muda sekarang dipenuhi tekanan yang datang bersamaan

Ilustrasi berpikir (unsplash.com/Photo by Daniel Tafjord)

Generasi sekarang hidup di era yang bergerak sangat cepat. Dalam satu hari saja, seseorang bisa melihat teman sebayanya menikah, membeli rumah, traveling ke luar negeri, mendapat promosi kerja, sampai membuka bisnis baru hanya lewat media sosial.

Tanpa sadar, hal itu membuat banyak orang merasa hidupnya tertinggal meski sebenarnya mereka sedang berjalan sesuai waktunya sendiri. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut anak muda saat ini menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian yang membuat menjadi tekanan.

"Generasi muda saat ini menghadapi dunia yang terus berubah-menghadapi ketidakpastian ekonomi, kecemasan iklim, konflik bersenjata, ketidakadilan sosial, dan tekanan budaya digital yang sangat terhubung. Kekuatan-kekuatan ini memiliki dampak mendalam pada bagaimana kaum muda merasa, hidup, dan berkembang," tulis dalam laporan berjudul "Youth Mental Health and Well-being".

2. Overthinking bukan sekadar drama, tapi respons otak terhadap tekanan

Ilustrasi sedang berpikir (unsplash.com/Photo by Hernan Gonzalez)

Istilah overthinking sering dianggap lebay atau berlebihan. Padahal dalam dunia psikologi, pikiran yang terus berputar bisa menjadi bentuk respons otak terhadap stres dan kecemasan yang berkepanjangan. Banyak anak muda memikirkan masa depan terlalu jauh karena merasa hidup sekarang tidak memberikan rasa aman.

"Mengalami kecemasan adalah hal yang normal," kata Dr. Gene Beresin, direktur eksekutif Clay Center for Healthy Young Minds di Massachusetts General Hospital dikutip dari laman Harvard Health Publishing.

"Sejumlah kecemasan bahkan dapat bermanfaat. Masalahnya adalah terkadang sistem yang mendasari respons kecemasan kita mengalami disregulasi, sehingga kita bereaksi berlebihan atau bereaksi terhadap situasi yang salah," tambahnya.

3. Media sosial membuat banyak orang merasa selalu kurang

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

Dulu orang membandingkan hidup hanya dengan lingkungan sekitar. Sekarang, perbandingan terjadi setiap menit lewat layar ponsel. Banyak anak muda akhirnya merasa gagal hanya karena hidup mereka tidak secepat orang lain yang muncul di timeline.

Hal ini membuat rasa syukur menjadi semakin sulit dirasakan. Bukan karena mereka tidak punya hal baik dalam hidup, tetapi karena mereka terus menerima informasi bahwa orang lain terlihat lebih sukses, lebih kaya, lebih cantik, atau lebih bahagia. Akibatnya, muncul rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO).

"Penggunaan media sosial aktif berkorelasi negatif dengan kecemasan sosial... Penggunaan media sosial membuat perbandingan sosial lebih mudah di kalangan dewasa muda, yang menyebabkan kesehatan mental yang buruk dan ketidakpuasan hidup," tulis dalam jurnal Relationship between Social Media Use and Social Anxiety in College Students: Mediation Effect of Communication Capacity dalam National Library of Medicine.

4. Banyak anak muda sebenarnya sedang bertahan, bukan mengeluh

Ilustrasi merenung (pexels.com/ArtHouse Studio)

Sering kali orang hanya melihat keluhan anak muda di media sosial tanpa melihat perjuangan di baliknya. Padahal banyak dari mereka sedang mencoba bertahan dengan kondisi hidup yang berat: gaji pas-pasan, biaya hidup naik, sulit mencari kerja stabil, sampai tekanan keluarga dan lingkungan.

Usia 20-an memang merupakan fase hidup yang penuh ketidakpastian dan tekanan, semua ini normal. Psikolog klinis perkembangan Dr. Meg Jay, dalam wawancaranya yang dimuat New York Post, menjelaskan bahwa banyak anak muda sebenarnya sedang belajar menghadapi kehidupan dewasa, bukan sekadar terlalu sensitif.

"Begitu banyak anak muda berusia dua puluhan yang berjuang, namun sebagai sebuah budaya, kita tidak yakin apa yang harus dipikirkan atau dilakukan. Ini adalah masa yang sangat, sangat sulit karena ini adalah satu-satunya dekade kehidupan di mana semuanya tidak pasti, semuanya tidak stabil. Ini sangat menegangkan dan membuat orang merasa depresi dan cemas,” kata Dr. Meg Jay.

“Selama saya berkecimpung di bidang ini, usia dua puluhan selalu menjadi titik terendah kesehatan mental. Sebenarnya bukan hal baru bahwa anak muda berusia dua puluhan berjuang. Hanya saja orang-orang baru membicarakannya,” tambahnya.

5. Bersyukur penting, tapi jangan mengabaikan kesehatan mental

Ilustrasi merasa bersyukur (pexels.com/Photo by Alexey Demidov)

Rasa syukur memang penting. Namun mengatakan “kurang bersyukur” kepada orang yang sedang kelelahan mental justru membuat mereka merasa tidak dipahami. Tidak semua orang yang terlihat murung berarti tidak menghargai hidupnya. Bisa jadi mereka hanya terlalu capek memikirkan banyak hal sekaligus.

Oleh karena itu, penting bagi generasi sekarang untuk belajar menenangkan pikiran tanpa terus menyalahkan diri sendiri. Tidak apa-apa kalau hidup belum sempurna. Tidak apa-apa kalau masih bingung menentukan arah hidup. Kadang seseorang tidak sedang kurang bersyukur, mereka hanya terlalu lama dalam tekanan yang membuat pikirannya sulit beristirahat.

Mungkin daripada terus mengatakan generasi sekarang “kurang bersyukur”, kita perlu mulai lebih banyak mendengar. Karena di balik seseorang yang terlihat terlalu banyak mengeluh, sering kali ada pikiran-pikiran berat yang tidak pernah benar-benar punya tempat untuk diceritakan.

Editorial Team