Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dulu Nabung buat Masa Depan, Sekarang Bertahan sampai Gajian Aja Syukur

Dulu Nabung buat Masa Depan, Sekarang Bertahan sampai Gajian Aja Syukur
Ilustrasi keuangan buruk (pexels.com/Photo by Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Dulu banyak orang tumbuh dengan nasihat sederhana: kerja keras, sisihkan uang, lalu pelan-pelan bangun masa depan. Nabung dianggap langkah andalan menuju hidup yang lebih aman. Ada mimpi punya rumah, kendaraan sendiri, dana darurat, sampai liburan tanpa rasa bersalah.

Tapi beberapa tahun terakhir, banyak orang mulai merasa konsep itu makin jauh dari kenyataan. Harga kebutuhan naik lebih dan apa-apa mulai mahal. Gaji pun seakan hanya numpang lewat.

1. Ketika hidup dari gaji ke gaji jadi realita banyak orang

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

Hidup dari gaji ke gaji bukan cuma cerita segelintir orang. Banyak pekerja muda merasa penghasilan mereka habis untuk kebutuhan dasar sebelum sempat menyimpannya. Data OCBC Financial Fitness Index 2025 menunjukkan banyak generasi muda di Indonesia belum memiliki dana darurat yang cukup.

Dari data tersebut, hanya 19 persen generasi muda yang sudah mempersiapkan dana darurat untuk keadaan mendesak, seperti misalnya kehilangan pekerjaan. Lalu 81 persennya cari lowongan kerja kanan-kiri yang secara tidak langsung, ini menunjukkan bahwa mayoritas generasi mereka masih hidup dari gaji ke gaji.

2. Harga naik, tekanan ekonomi makin terasa

Ilustrasi keuangan buruk (unsplash.com/Photo by Emil Kalibradov)
Ilustrasi keuangan buruk (unsplash.com/Photo by Emil Kalibradov)

Tekanan ekonomi sekarang terasa berbeda karena hampir semua kebutuhan dasar ikut naik bersamaan, terutama karena imbas rupiah yang kian melemah. Makan, kontrakan, listrik, transportasi, sampai biaya kesehatan perlahan mengambil porsi lebih dari pendapatan. Akibatnya, banyak orang kehilangan ruang untuk bernapas secara finansial. Menurut survei American Psychological Association (APA), uang dan kondisi ekonomi menjadi salah satu sumber stres terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

"Faktor-faktor seperti tekanan finansial, ketidakstabilan pekerjaan, dan tanggung jawab pengasuhan dapat memperparah bagaimana stres dialami dan dikelola," kata Arthur C. Evans Jr., PhD, CEO American Psychological Association.

"Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa determinan sosial seperti pendapatan, stabilitas perumahan, dan akses ke sumber daya memainkan peran sentral dalam membentuk hasil kesehatan mental dan paparan stres," lanjut dalam laporan tersebut.

 

3. Generasi sekarang bukan berarti tidak bisa berhemat

Ilustrasi keuangan (unsplash.com/Photo by naufal jajuli)
Ilustrasi keuangan (unsplash.com/Photo by naufal jajuli)

Ada anggapan bahwa anak muda sulit menabung karena terlalu konsumtif. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Banyak orang sebenarnya sudah mengurangi nongkrong, menahan belanja, bahkan jarang liburan, tetapi tetap sulit punya tabungan besar karena biaya hidup memang berubah drastis hingga bisa menciptakan kecemasan.

“Kecemasan dan stres finansial sangat membebani generasi milenial/Gen Z saat ini karena dunia yang kita tinggali sekarang," kata Israa Nasir, konselor kesehatan mental kepada Teen Vogue.

"Meskipun beberapa tahun yang lalu, kaum muda dapat membeli rumah dan hidup nyaman dua hingga tiga tahun setelah lulus kuliah, hal itu tidak lagi memungkinkan mengingat iklim ekonomi dan pasar keuangan saat ini,” lanjutnya.

Banyak orang akhirnya merasa gagal hanya karena belum mencapai standar hidup tertentu di usia tertentu. Padahal situasi ekonomi sekarang memang jauh berbeda. Dulu mungkin dari gaji bisa menabung dan mencicil rumah. Sekarang, banyak orang gaji hanya untuk bertahan.

4. Tekanan finansial diam-diam menguras mental

Ilustrasi keuangan buruk (pexels.com/Photo by Karolina Grabowska www.kaboompics.com)
Ilustrasi keuangan buruk (pexels.com/Photo by Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Masalah keuangan sering dianggap sekadar urusan angka, padahal dampaknya bisa masuk ke kesehatan mental. Orang yang terus memikirkan uang cenderung lebih mudah cemas, sulit tidur, gampang marah, bahkan kehilangan motivasi menjalani aktivitas harian.

“Ketidakpastian finansial dapat menjadi sumber stres yang besar bagi siapa pun, tetapi terutama bagi kaum muda,” kata Israa Nasir.

Stres finansial dapat memperburuk kesehatan mental, dan kondisi mental yang terganggu juga bisa membuat seseorang makin sulit mengatur keuangan. Karena itu, tidak heran kalau banyak orang sekarang merasa cepat lelah secara emosional.

Ada yang tetap bekerja sambil menahan kecemasan setiap akhir bulan. Ada juga yang merasa bersalah ketika membeli sesuatu untuk diri sendiri karena takut uangnya cepat habis. Tekanan seperti ini sering tidak terlihat, tapi nyata dirasakan setiap hari.

5. Mimpi masa depan pelan-pelan bergeser jadi sekadar bertahan

Ilustrasi berpikir (pexels.com/Photo by Mert Coşkun)
Ilustrasi berpikir (pexels.com/Photo by Mert Coşkun)

Dulu orang bicara tentang membeli rumah, menikah, atau pensiun nyaman. Sekarang banyak yang merasa target itu terlalu jauh untuk dipikirkan. Fokus utama berubah menjadi: asal tagihan aman, makan cukup, dan tidak sampai pinjam uang bulan depan.

Penghasilan yang dulu dianggap cukup, sekarang bisa terasa pas-pasan karena biaya hidup meningkat jauh lebih cepat. Bahkan mungkin kita mulai mempertanyakan apakah konsep masa depan stabil masih realistis untuk dikejar dengan kondisi sekarang.

Meski begitu, banyak orang tetap berusaha bertahan dengan caranya masing-masing. Ada yang mencari kerja tambahan, mulai mengontrol pengeluaran, hidup lebih hemat, atau mencoba membangun dana darurat sedikit demi sedikit. Mungkin sekarang belum bisa menabung besar, tetapi tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang berat juga bukan hal kecil.

Keadaan ekonomi hari ini membuat banyak orang merasa hidup berjalan lebih berat daripada yang dibayangkan waktu dulu. Bukan karena mereka kurang bekerja keras, tetapi karena realitas hidup memang berubah. Banyak orang yang sebenarnya sudah berusaha hemat, disiplin, dan menahan keinginan, tapi tetap merasa sulit mengejar keamanan finansial.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

5 Alasan Kamu Sering Melakukan Self-Sabotage dan Cara Mengatasinya

18 Mei 2026, 15:47 WIBLife