Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa Bisa Kembali Hidup Sederhana setelah Lifestyle Inflation?

Apa Bisa Kembali Hidup Sederhana setelah Lifestyle Inflation?
ilustrasi memandangi celengan (pexels.com/Dany Kurniawan)
Intinya Sih
  • Artikel membahas bagaimana inflasi gaya hidup terjadi tanpa disadari dan dampak buruknya terhadap kondisi finansial seseorang yang sulit menabung meski penghasilan meningkat.
  • Ditekankan bahwa perubahan menuju hidup sederhana memerlukan kesadaran diri, keberanian menurunkan gengsi, serta menjauh dari lingkungan yang mendorong perilaku konsumtif.
  • Kunci keberhasilan kembali hidup sederhana adalah memiliki tujuan finansial jelas dan makna hidup yang tidak bergantung pada validasi atau kemewahan semata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup sering terjadi tanpa disadari oleh orang yang mengalaminya. Orang-orang di sekitarnya yang lebih peka akan perubahan gaya hidupnya yang mencolok. Namun, orang yang mengalami inflasi gaya hidup kerap menyangkal.

Bahkan, mungkin mereka menyebut orang yang kasih penilaian begitu cuma iri karena tidak mampu melakukan hal yang sama. Ini yang membuat lifestyle inflation sulit diubah walau tidak berarti mustahil. Sebisa mungkin, seandainya kamu mengalaminya jangan menunggu sampai bangkrut total baru terpaksa berubah.

Memang masalah seserius itu efektif buat menghentikan kebiasaan hedon. Namun, tak ada lagi harta yang tersisa. Hidupmu akan sengsara sekali. Peluang untukmu atau siapa pun bisa kembali hidup sederhana dipengaruhi oleh situasi-situasi di bawah ini.

1. Bisa kalau sadar betul akibat buruk dari gaya hidup setinggi langit

Seseorang memegang toples kaca berisi koin dengan label 'savings', mengenakan sweater krem di latar belakang biru lembut.
ilustrasi celengan receh (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Lonjakan gaya hidup karena kesejahteraan meningkat membuat pemborosan kerap terlihat wajar. Malah tampak gak normal kalau gaya hidupmu tetap sama seperti saat penghasilan lebih kecil. Kamu kudu sadar penuh akan akibat-akibat negatif dari gaya hidup setinggi langit.

Jangan malu mengakui bahwa ternyata cara hidup seperti itu tidak sesuai untukmu. Nyatanya, dirimu mulai kesulitan secara finansial. Dulu saat pendapatan masih kecil, kamu bisa menabung lebih banyak.

Kini dengan penghasilan yang meroket justru uang yang ditabung makin receh. Bangkitkan dulu kesadaranmu tentang akibat buruk lifestyle inflation untuk menambah motivasi berubah. Dengan kesadaran, kamu tak akan merasa berubah karena terpaksa.

2. Tidak bisa hidup sederhana jika gengsi masih nomor satu

Seorang pria muda duduk santai di kursi rotan luar ruangan dengan latar taman hijau dan tangga menuju bangunan di belakangnya.
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Nothing Ahead)

Kamu sudah menyadari buruknya akibat dari inflasi gaya hidup yang melampaui kemampuan finansialmu yang sesungguhnya. Ini merupakan langkah besar, tapi masih bisa gagal membawa perubahan. Penyebabnya, dirimu dikuasai gengsi yang belum surut.

Kamu tahu betul mengikuti gaya hidup mewah bikin keuanganmu rapuh bahkan hancur. Akan tetapi, dirimu masih lebih takut lagi seandainya mengubahnya membuat orang-orang mengejekmu. Kamu ketahuan bangkrut dan sebagainya. Gengsi berlebihan seperti ini harus terlebih dahulu dikikis dengan dirimu belajar cuek terhadap penilaian orang.

3. Juga sulit apabila mengandalkan utang atau sumber biaya lainnya

Seorang pria duduk sendirian di kursi taman dikelilingi tanaman hijau tropis dengan latar bangunan kayu dan bambu.
ilustrasi duduk sendirian (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳)

Membatasi sumber dana untuk berfoya-foya juga penting agar inflasi gaya hidup tidak terus berlanjut. Satu hal yang perlu diwaspadai. Hanya karena kamu sudah bokek parah, bukan lantas dirimu kehilangan akal.

Kamu malah bisa tertarik untuk memanfaatkan berbagai pinjaman online yang sangat mudah cair meski bunganya mencekik. Atau, dirimu terus berpikir menjual ini itu demi mempertahankan gaya hidup mewah. Baik ide utang maupun jual barang demi lifestyle mesti dibuang jauh-jauh dari pikiran.

4. Butuh dukungan lingkungan yang sangat besar

Seorang pria muda duduk sendirian di teras sempit dengan dinding putih dan tanaman hijau di sekitarnya, mengenakan topi hitam dan sepatu putih.
ilustrasi duduk sendirian (pexels.com/Minh Đức)

Sukar mengharapkan perubahan dalam gaya hidup jika kamu masih dikelilingi oleh orang-orang yang sama. Lifestyle mereka juga tinggi. Bahkan mungkin lebih heboh daripada gaya hidupmu sehingga kamu menganggap inflasi gaya hidupmu masih wajar.

Kalaupun dirimu sempat tergerak untuk berubah sedikit saja, pengaruh kawan-kawan dapat langsung menggagalkannya. Jaga jarak dari teman yang mendorongmu bergaya hidup melampaui kemampuan amat diperlukan. Geser posisi mereka dalam circle-mu. Ganti dengan teman-teman yang menularkan virus kesederhanaan. Proses copy paste gaya hidup menjadi lebih gampang.

5. Perubahan bisa sementara dan balas dendam setelah keuangan pulih

Seorang pria duduk santai di kursi rotan di taman dengan tanaman hijau lebat di sekelilingnya pada sore hari yang tenang.
ilustrasi duduk-duduk (pexels.com/Quốc Anh)

Bagian yang perlu diwaspadai dari usaha kembali hidup sederhana setelah kamu mengalami lifestyle inflation adalah seberapa lama perubahan bertahan? Harapannya tentu perubahan tersebut menjadi gaya hidup yang menetap. Bahkan ketika dirimu kelak jauh lebih kaya tak lagi terjebak dalam kesalahan yang sama.

Bukan artinya kamu sama sekali dilarang terlihat hidup lebih nyaman setelah sukses. Akan tetapi, perubahan dari sisi konsumsi hendaknya gak terlampau drastis sampai menyebabkan masalah keuangan. Waspadai timbulnya perasaan ingin balas dendam selepas kondisi keuanganmu pulih bahkan jauh lebih baik.

6. Lebih mudah bila memiliki tujuan finansial yang jelas

Seorang pria duduk santai di dalam ruangan dengan pencahayaan alami, dikelilingi pot bunga berwarna cerah di dekat jendela besar.
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Herbert III Willkomm)

Hidup dengan tujuan finansial yang jelas seperti berjalan lurus tanpa takut mendadak salah arah. Target keuangan bisa lebih dari satu dan berfungsi sebagai pemandu dalam hidup. Dahulu kamu membuang uang tanpa berpikir dua kali karena gak tahu uang itu hendak buat apa.

Bersenang-senang adalah satu-satunya jawaban. Dengan dirimu memiliki tujuan finansial, jawaban menjadi jelas. Seperti kalau ada uang lebih mau buat tabungan beli rumah, naik haji, umrah, bikin usaha, dan sebagainya. Teruslah bergerak dari satu tujuan ke tujuan keuangan berikutnya supaya uang digunakan secara tepat.

7. Juga telah menemukan makna hidup sejati

Seorang pria mengenakan kemeja kotak-kotak biru putih tersenyum sambil bersandar di meja kayu di area luar ruangan.
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Micah Eleazar)

Caramu memaknai hidup membentuk perilakumu terkait uang. Misal, penting sekali bagimu memperoleh pengakuan dari orang lain dalam setiap hal. Tanpa validasi mereka, apa yang dilakukan atau dicapai terasa tak bermakna.

Misal, tanpa kamu hedon pun, kesuksesanmu dalam pekerjaan sebenarnya tak terbantahkan. Jabatan dan pendapatanmu sudah membuktikannya. Namun, hidupmu baru terasa berarti kalau semua orang melihat apa yang dapat dibeli olehmu sekarang.

Kamu pun terjebak dalam inflasi gaya hidup. Beda dengan apabila hidup dimaknai sebatas cukup untuk segala sesuatunya. Serta harta digunakan buat membangun hidup dan bukan sekadar mencari rasa kagum orang lain. Inflasi gaya hidup bisa terus diturunkan serta tidak terulang lagi di kemudian hari.

Inflasi gaya hidup membuat keuangan tidak sehat. Perubahan mesti dilakukan tidak hanya untuk sementara, tapi selamanya. Meski mengubahnya dapat terasa seperti pengorbanan besar, semua manfaatnya kembali ke kamu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ken Ameera
EditorKen Ameera

Related Articles

See More