Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Chronic Complainer? Cara Hadapi Si Tukang Ngeluh!
Ilustrasi mengeluh (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Siapa dari kalian yang suka mengeluh? Kalau masih dalam batas wajar, mengeluh mungkin masih bisa dinilai sebagai cara untuk melampiaskan furstasi. Tapi pernahkan bertemu seseorang yang terus mengeluh setiap waktu?

Ini dikenal sebagai chronic complainer. Berada di dekat orang-orang seperti ini bisa terasa melelahkan, dan sulit untuk melakukan percakapan yang produktif. Tidak hanya keluhan saja, tapi mereka selalu memandang segala sesuatu dari sudut pandang negatif dan jarang terlihat puas. Untuk itu, kamu perlu tahu apa itu chronic complainer, sekaligus cara hadapi si tukang ngeluh ini!

1. Apa itu chronic complanier dan mengapa bisa terjadi?

Ilustrasi mengeluh (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Chronic complainer (pengeluh kronis) merupakan sebutan dari seseorang yang selalu mengeluh dan terus-menerus mengungkapkan hal-hal negatif, frustrasi, atau ketidakpuasan tentang kehidupan sehari-hari tanpa mencari solusi nyata.

Kebanyakan orang mengeluh sesekali, biasanya tentang sesuatu yang spesifik seperti stres kerja, frustrasi dengan teman, atau merasa tidak enak badan. Namun, orang yang gemar mengeluh berulang kali mengangkat masalah, dan tampak menikmatinya, serta cenderung fokus pada masalah daripada solusi.

Pesimisme si tukang ngeluh ini membuat pengambilan keputusan dan pemecahan masalah menjadi sulit, karena mereka cenderung menciptakan lebih banyak masalah dengan terpaku pada masalah yang sudah ada.

Ilene Strauss Cohen Ph.D., seorang psikoterapis, menungkap dalam tulisannya yang berjudul "Managing Chronic Complainers" yang dipublikasikan di laman Psyhology Today, bahwa para chronic complainer tanpa sadar mentransfer kenegatifannya kepada orang-orang di sekitar.

Hal membebani orang lain dengan beban emosional. Pengaruh negatif ini bisa menular, secara bertahap mengubah orang-orang di sekitar menjadi pengeluh juga.

"Dalam banyak kasus, kebiasaan mengeluh kronis berakar dari pengalaman masa kecil di mana mengeluh berfungsi sebagai mekanisme untuk mencari perhatian dan validasi dalam dinamika keluarga. Pola-pola ini menjadi sangat mengakar dalam perilaku, akhirnya membentuk bagian dari identitas individu. Akibatnya, menawarkan nasihat atau solusi kepada orang yang sering mengeluh mungkin akan mendapat penolakan, karena menyelesaikan masalah mereka mengancam rasa percaya dirinya yang telah terbentuk," kata Cohen, mengutip Psychology Today.

2. Cara menghadapi si tukang ngeluh

Ilustrasi mengeluh (pexels.com/Kampus Production)

Penting untuk menetapkan batasan yang jelas saat berurusan dengan chronic complainer. Kamu tidak perlu langsung mengatakan bahwa kamu tidak ingin berbicara dengan mereka lagi, tetapi cukup mempersingkat percakapan atau mencoba mengubah topik.

Jika kamu memutuskan untuk terlibat dalam percakapan negatif, penting untuk tidak terjebak dalam negativitas yang berulang. Mengulang-ulang keluhan yang sama tidak menguntungkan siapa pun dan hanya mempertahankan siklus ketidakpuasan.

Selain itu, menunjukkan empati, mengalihkan percakapan ke topik yang lebih positif, mengajukan pertanyaan yang berorientasi pada solusi, dan berbagi pengalaman sendiri dapat membantu mengarahkan percakapan menjauh dari keluhan terus-menerus, jika kamu lebih menyukai pendekatan itu daripada mengakhiri percakapan negatif. Dengan lembut membimbing percakapan menuju solusi dan mendorong perubahan perspektif, kamu dapat menciptakan interaksi positif dan produktif.

Dengan berempati dengan para chronic complainer, kamu mengarahkan percakapan menuju solusi yang konstruktif. Mendorong perubahan fokus ke arah rasa syukur dan aspek positif pekerjaan juga dapat membantu mengurangi perasaan frustrasi dan keputusasaan. Menekankan pentingnya rasa syukur dan pemecahan masalah yang proaktif dapat memberdayakan individu untuk menghadapi situasi sulit dengan ketahanan dan pola pikir yang lebih positif.

3. Ketika mengeluh itu sehat dan tidak sehat

Ilustrasi mengeluh (pexels.com/Tim Douglas)

Tidak hanya tahu dan menghadapi chronic complainer, evaluasi diri kita sendiri apakah kita termasuk mengeluh dengan sehat atau tidak sehat.

“Mengeluh itu sehat karena dapat membantu ketika hal itu memungkinkan kita untuk melampiaskan emosi negatif, mengkomunikasikan perasaan kita, dan memulai proses pemecahan masalah,” kata Kerry Cannity, PhD, psikolog kesehatan klinis di SelfWorks, mengutip laman Real Simple.

Menekan emosi bisa buruk bagi kesehatan, termasuk dapat terjadi masalah ingatan, hubungan sosial yang memburuk, dan bahkan penyakit jantung. Selain itu, ada manfaat dari tindakan sederhana membicarakan masalah dengan orang lain, ini dapat membantu kita merasa terkendali dan terhubung.

Sementara itu, mengeluh adalah sifat alami manusia. Tetapi menjadi tidak sehat dilihat dari seberapa sering melakukannya.

“Jika mengeluh menjadi kebiasaan, ini dapat mulai mengubah struktur otak ke arah pandangan yang lebih negatif. Ini dapat menyebabkan peningkatan perhatian terhadap rangsangan yang memicu kemarahan atau rasa takut, yang juga dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon stres secara keseluruhan di dalam otak dan tubuh," ujar Cannity.

Di luar dampak neurosains, mengeluh berlebihan dapat merusak hubungan interpersonal. Baik itu antara suami istri, orang tua dan anak, atau rekan kerja, menerima keluhan negatif yang terus-menerus dapat menyebabkan orang menjauh. Jika setiap perbincangan menjadi keluhan, pada akhirnya orang ingin berhenti melakukan percakapan tersebut.

Terus-menerus berurusan dengan si tukang ngeluh dapat berpengaruh pada kondisi mental dan emosional kita. Maka, penting untuk mengelola interaksi ini secara efektif untuk melindungi kesejahteraan, dan mempertahankan kehidupan yang positif. Semoga menambah wawasanmu, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article