Ilustrasi mengeluh (pexels.com/Tim Douglas)
Tidak hanya tahu dan menghadapi chronic complainer, evaluasi diri kita sendiri apakah kita termasuk mengeluh dengan sehat atau tidak sehat.
“Mengeluh itu sehat karena dapat membantu ketika hal itu memungkinkan kita untuk melampiaskan emosi negatif, mengkomunikasikan perasaan kita, dan memulai proses pemecahan masalah,” kata Kerry Cannity, PhD, psikolog kesehatan klinis di SelfWorks, mengutip laman Real Simple.
Menekan emosi bisa buruk bagi kesehatan, termasuk dapat terjadi masalah ingatan, hubungan sosial yang memburuk, dan bahkan penyakit jantung. Selain itu, ada manfaat dari tindakan sederhana membicarakan masalah dengan orang lain, ini dapat membantu kita merasa terkendali dan terhubung.
Sementara itu, mengeluh adalah sifat alami manusia. Tetapi menjadi tidak sehat dilihat dari seberapa sering melakukannya.
“Jika mengeluh menjadi kebiasaan, ini dapat mulai mengubah struktur otak ke arah pandangan yang lebih negatif. Ini dapat menyebabkan peningkatan perhatian terhadap rangsangan yang memicu kemarahan atau rasa takut, yang juga dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon stres secara keseluruhan di dalam otak dan tubuh," ujar Cannity.
Di luar dampak neurosains, mengeluh berlebihan dapat merusak hubungan interpersonal. Baik itu antara suami istri, orang tua dan anak, atau rekan kerja, menerima keluhan negatif yang terus-menerus dapat menyebabkan orang menjauh. Jika setiap perbincangan menjadi keluhan, pada akhirnya orang ingin berhenti melakukan percakapan tersebut.
Terus-menerus berurusan dengan si tukang ngeluh dapat berpengaruh pada kondisi mental dan emosional kita. Maka, penting untuk mengelola interaksi ini secara efektif untuk melindungi kesejahteraan, dan mempertahankan kehidupan yang positif. Semoga menambah wawasanmu, ya!