Padahal, stoikisme tidak meminta manusia menjadi orang yang tidak punya keluhan sama sekali. Yuk, pahami bagaimana sebenarnya pandangan stoikisme tentang mengeluh.
Benarkah Orang Stoik Tidak Boleh Mengeluh? Ini Faktanya

Orang yang menjalani stoikisme sering dianggap harus selalu tenang, tidak banyak protes, dan menerima apa pun yang terjadi. Kesan tersebut membuat stoik seolah-olah tidak boleh merasa kesal atau mengeluhkan keadaan yang tidak sesuai keinginan.
1. Orang stoik tetap boleh merasa kesal

ilustrasi kesal (pexels.com/Antoni Shkraba Studio) Stoikisme tidak mengharuskan seseorang pura-pura baik-baik saja ketika sedang menghadapi masalah. Kehilangan pekerjaan, mendapat perlakuan tidak adil, gagal mencapai sesuatu, atau menghadapi hari yang buruk tentu bisa membuat siapa pun merasa kecewa. Perasaan seperti itu tidak otomatis membuat seseorang gagal menjalani prinsip stoik.
Justru yang diperhatikan adalah apa yang dilakukan setelah perasaan tersebut muncul. Kita boleh mengatakan, “Aku capek banget menghadapi ini,” atau mengakui bahwa suatu keadaan memang menyebalkan. Setelah itu, kita bisa melihat lagi apa yang masih bisa dilakukan tanpa terus menyalahkan keadaan.
2. Keluhan tidak berguna kalau cuma menyalahkan keadaan

ilustrasi menyalahkan keadaan (pexels.com/Alex Green) Bayangkan kamu sudah berangkat pagi-pagi, tetapi jalanan macet parah dan akhirnya terlambat. Mengeluh soal macet mungkin terasa melegakan, tetapi kemacetan itu sendiri tidak akan berubah karena kita terus mengomel. Dalam pandangan stoik, energi seperti itu lebih baik digunakan untuk memikirkan tindakan yang memang masih bisa dilakukan.
Hal yang sama berlaku ketika kita berhadapan dengan keputusan orang lain atau kejadian yang sudah terlanjur terjadi. Kita boleh tidak suka, tetapi tidak semua hal bisa kita ubah sesuai keinginan. Di sinilah, stoikisme mengajak kita membedakan mana yang berada dalam kendali kita dan mana yang memang harus diterima.
3. Mengeluh boleh kalau memang ingin mencari jalan keluar

ilustrasi mengeluh (pexels.com/SHVETS production) Bukan berarti setiap keluhan harus langsung dihentikan. Ketika pekerjaan terlalu banyak, misalnya, mengatakan kepada rekan kerja bahwa kita kewalahan bisa menjadi cara untuk mencari bantuan atau membicarakan pembagian tugas. Keluhan seperti ini punya tujuan karena ada persoalan yang ingin diselesaikan.
Begitu juga ketika kita mengalami perlakuan yang tidak adil. Membicarakannya kepada orang yang tepat atau menyampaikan keberatan bukan berarti gagal menjadi stoik. Justru persoalannya bisa semakin jelas karena kita tidak hanya menggerutu, tetapi juga mencari apa yang bisa dilakukan.
4. Stoikisme tidak mengajarkan kita menelan semuanya sendirian

ilustrasi masalah (pexels.com/Timur Weber) Kesalahpahaman lain muncul ketika sikap tenang dianggap sama dengan tidak boleh meminta bantuan. Padahal, mengakui bahwa kita sedang kesulitan bukan tanda kelemahan. Kalau memang tidak sanggup mengerjakan sesuatu sendirian, meminta bantuan tetap lebih masuk akal daripada diam sambil berharap masalahnya selesai sendiri.
Kita juga tidak perlu menyembunyikan keluhan hanya supaya terlihat kuat. Cerita kepada teman, meminta saran, atau mengatakan bahwa kita sedang kewalahan bisa menjadi langkah yang masuk akal. Selama tujuannya bukan sekadar mencari orang untuk disalahkan, keluhan tersebut masih punya tempat dalam kehidupan sehari-hari.
5. Hal yang dihindari adalah terus mengeluh tanpa melakukan apa-apa

ilustrasi mengeluh (pexels.com/Mikhail Nilov) Punya masalah lalu membicarakannya tentu berbeda dengan menghabiskan waktu untuk mengulang keluhan yang sama tanpa pernah memikirkan langkah berikutnya. Misalnya, setiap hari mengeluh soal pekerjaan yang tidak disukai tetapi tidak pernah mencoba membicarakan masalahnya, mencari pekerjaan lain, atau memperbaiki bagian yang masih bisa diperbaiki. Dalam kondisi seperti itu, keluhan hanya berputar di tempat.
Cara pandang stoik lebih mengarah pada pertanyaan sederhana: “Setelah ini, apa yang bisa aku lakukan?” Kalau memang ada yang bisa diperbaiki, kerjakan bagian tersebut. Kalau ternyata kejadiannya sudah tidak dapat diubah, kita belajar menerima kenyataan itu dan mengalihkan tenaga ke hal yang masih berada dalam kendali.
Jadi, anggapan bahwa orang stoik sama sekali tidak boleh mengeluh sebenarnya kurang tepat. Mereka tetap bisa kecewa, marah, lelah, dan mengutarakan kesulitan seperti manusia pada umumnya. Bedanya, keluhan tidak seharusnya membuat kita terus-terusan terjebak pada sesuatu yang tidak bisa diubah.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)








![[QUIZ] Ekspresi Nailoong ini Ungkap Hal yang Lagi Menguras Energimu](https://image.idntimes.com/post/20260926/nailoong-1_3d9c13f4-d604-4722-9a55-4930da9900b1.jpg)





![[QUIZ] Pilih Teman Upin Ipin, Kami Tunjukkan Pekerjaan yang OK buatmu](https://image.idntimes.com/post/20260920/1000020622_fd027f9e-93d6-49e8-b9e3-4a2c0d5a1e60.jpg)




![[QUIZ] Kami Tahu Sekuat Apa Mentalmu dari Pilihan Kartun Ini](https://image.idntimes.com/post/20250112/pexels-shkrabaanthony-5571711-f96a2f31398211c36c1d614d2c908814-1fba1951ad4f67b57056667c4a3fae2f.jpg)

![[QUIZ] Dari Karakter SpongeBob, Kamu Tipe Karyawan Kayak Apa?](https://image.idntimes.com/post/20260922/pexels-tima-miroshnichenko-5685821-1_35286360-e901-436f-9f7c-e9dc1282f070.jpg)