Kamu mungkin pernah mau curhat ke teman tentang sebuah masalah. Namun, setelah obrolan selesai, kamu justru merasa bersalah atau hubungan kalian menjadi canggung. Sebaliknya kamu mungkin juga pernah menjadi tempat curhat seseorang yang terus-menerus menceritakan masalahnya tanpa memberi kesempatan untukmu berbicara.
Kamu ingin membantu, tapi lama-kelamaan merasa lelah secara emosional. Situasi seperti ini bisa terjadi dalam hubungan pertemanan, keluarga, bahkan hubungan romantis, lho! Ada kalanya sesi curhat malah jadi ajang melimpahkan beban emosi kepada orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai emotional dumping. Lantas, apa bedanya dengan curhat biasa?
