Ilustrasi soft socializing (pexels.com/Matheus Bertelli)
Menurut artikel yang ditulis oleh America Edwards, Ph.D. seorang founder dan co-director Social Ties Lab di Univesitas Kentucky, lingkungan sosial yang penuh energi sering disertai dengan ekspektasi yang tidak terucapkan.
Artikel berjudul "What Is Soft Socializing?" yang diterbitkan di Psychology Today itu menyebutkan, sosialiasi menciptakan tuntutan seperti: "jadilah menarik, lucu, berwawasan, menghibur, lakukan kontak mata terus-menerus, dan selalu "aktif". Bagi banyak orang, hal seperti itu bisa terasa melelahkan dan menuntut kemampuan kognitif.
Nah, soft socializing menurunkan tekanan dengan mendasarkan interaksi pada aktivitas bersama, sehingga mengurangi beban komunikasi yang ditanggung individu. Soft socializing memberikan struktur, ritme, dan titik masuk alami untuk interaksi.
Hal ini penting karena orang lebih cenderung terlibat ketika interaksi terasa terkendali dan momen-momen interaksi kecil itu akan terakumulasi jadi sesuatu yang lebih bermakna seiring waktu.
“Soft socializing menggeser tujuan dari 'penampilan' menjadi 'kehadiran'. Ini dapat membantu orang merasa aman, terhubung dengan orang lain, dan merasa benar-benar diterima tanpa perlu mengelola kesan,” kata Alexander.
Lingkungan komunikasi seperti soft socializing punya tekanan rendah yang dapat mendukung kesejahteraan dan mengurangi kelelahan sosial. Ini membuktikan bahwa koneksi tidak memerlukan keterlibatan terus-menerus, melainkan dapat terjalin melalui kehadiran bersama.