5 Arti Pelan Bukan Berarti Kalah, Bedakan dengan Menyerah

- Melangkah pelan dengan strategi lebih baik daripada asal cepat
- Pelan tidak sama dengan berhenti karena menyerah
- Tidak melangkah terburu-buru membuatmu lebih awas dengan potensi rintangan
Apakah kamu pernah merasa terintimidasi oleh pergerakan orang-orang di sekitarmu yang rasanya begitu cepat? Mereka bekerja dengan sangat gesit. Perubahan hidupnya pun terlihat siginifikan. Sementara dirimu cenderung lambat.
Kamu tipe orang yang berhati-hati. Meski sebagian orang menyebutmu terlalu banyak berpikir serta mudah ragu. Di dunia yang serba cepat begini, dirimu barangkali bakal dianggap sekaligus merasa kalah.
Benarkah kamu sudah kalah hanya karena kecepatanmu dalam melakukan sesuatu di bawah orang lain? Faktanya, membangun kehidupan memang perlu kecermatan dan bukan sekadar kecepatan. Melangkah lebih pelan daripada orang-orang di sekitarmu boleh jadi justru mengantarkan ke tujuan dengan selamat. Ini penjelasannya.
1. Melangkah pelan dengan strategi lebih baik daripada asal cepat

Kalau kamu punya strategi berarti dirimu sudah betul-betul memikirkan sesuatu. Mulai dari apa yang hendak diraih, caranya, lengkap dengan tahapan serta antisipasi bila gagal. Strategi bahkan memetakan siapa saja orang-orang yang dapat membantumu mencapai tujuan.
Rencanamu rapi dan matang. Walaupun langkahmu gak secepat orang lain, gerakanmu tidak sembarangan. Kamu tak perlu berlama-lama melakukan trial and error. Dirimu tahu betul apa yang harus dilakukan pada saat yang tepat.
Itu membuatmu terlihat lambat di awal, tetapi seiring waktu malah lebih cepat dari orang yang asal jalan. Hasil dari strategimu terlihat nyata. Sementara orang yang cepat karena asal melangkah belum mencapai perkembangan yang berarti meski mereka terlihat aktif dan agresif sekali.
2. Pelan tidak sama dengan berhenti karena menyerah

Jangan berlebihan dalam menyepelekan kecepatan langkahmu. Kamu cuma melangkah perlahan-lahan dan bukan berhenti karena menyerah. Kalau dirimu menyerah, harapan tidak ada lagi. Semuanya berakhir sampai di situ.
Namun, selama kamu gak menyerah, langkah selambat apa pun bakal tetap berguna. Mungkin penurunan kecepatanmu lantaran dirimu lagi lelah. Tidak apa-apa. Sejenak melambat sama dengan istirahat yang akan mengembalikan energimu buat berjuang.
Cara mengetes hasratmu untuk maju terus masih ada atau gak gampang. Tinggal tanyakan pada diri sendiri. Esok dan selanjutnya kamu masih mau melakukan hal yang sama atau berhenti total? Kalau jawabanmu masih ingin mencoba sekalipun ada rasa ragu akan berhasil, dirimu belum menyerah. Itu lebih dari cukup untuk modal perjuanganmu.
3. Tidak melangkah terburu-buru membuatmu lebih awas dengan potensi rintangan

Jika kamu berjalan terlalu cepat dapat tersandung. Bahkan bukan tersandung batu atau kayu, melainkan kaki sendiri. Kaki kiri menabrak kaki kanan atau sebaliknya.
Bila dirimu berkendara dengan kecepatan tinggi, kamu gak sempat mengerem atau menghindar ketika ada orang menyeberang jalan atau kendaraan lain mengurangi kecepatan. Makin cepat sesuatu, keselamatan makin dipertaruhkan. Sedang melangkah lebih pelan meningkatkan sikap awas.
Langkahmu memang terasa pelan. Akan tetapi, setiap ada potensi rintangan di depan kamu lebih cepat menyadarinya. Ini memberimu lebih banyak waktu buat mengantisipasinya.
Keuntungannya, perjalananmu menjadi lancar. Sementara orang yang hanya memburu kecepatan dalam hidupnya sering kali rencananya malah berantakan. Mereka tidak siap menghadapi hal-hal buruk di luar harapan.
4. Meski langkahmu pelan, tapi hasil lebih optimal

Kecepatan dengan kecermatan sering kali berbanding terbalik. Bukan berarti agar kamu lebih cermat harus selambat mungkin. Namun, makin cepat langkahmu makin berkurang ketelitianmu pada apa pun. Itu yang membuat hasilnya justru kurang optimal.
Sementara itu, coba perhatikan kembali hasil dari setiap kerja atau usahamu selama ini. Benar, kecepatanmu di bawah teman-teman. Namun, saat kawan-kawan kerap harus melakukan revisi atas hasil kerjanya, kamu tidak perlu.
Dirimu bekerja satu kali dan beres. Itu artinya, setelahnya kamu dapat beralih ke tugas-tugas lain. Tanpa kamu perlu berkutat di pekerjaan yang sama berulang-ulang. Dengan begini dirimu lebih bebas stres.
5. Kadang kamu memang harus memakai strategi wait and see

Menunggu dan melihat apa yang akan terjadi tak bisa dilakukan kalau fokusmu terus bergerak secepat mungkin. Padahal, tanpa wait and see kamu menjadi gak memahami keadaan dengan baik. Dirimu di posisi terus melakukan aksi tanpa menanti reaksi dari luar seperti apa.
Wait and see butuh kesabaran. Manfaatnya, setelah itu kamu betul-betul tahu apa yang mesti dilakukan. Tidak terjadi kesalahan tindakan. Bahkan sering kali kesediaan menunggu serta melihat dulu menghindarkanmu dari kesia-siaan.
Kamu gak perlu melakukan hal-hal yang tak benar-benar dibutuhkan. Ini menghemat tenaga. Meski tampaknya langkahmu pelan, faktanya waktu yang diirit lebih banyak ketimbang waktu buat diam dan menunggu sejenak.
Mungkin kamu pernah mendengar atau membaca cerita tentang siput yang memenangkan lomba melawan kancil atau binatang lain yang gerakannya lebih cepat. Lawannya terlalu percaya diri sehingga sombong, sementara siput menggunakan kecerdikannya. Dongeng tersebut mengajarkan bahwa lambat tak berarti kalah dan cepat bukan jaminan menang.


















