Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Atasi Stres Cuma 30 Detik: Rahasia Cepat Bikin Suasana Hati Membaik

6 min read
Atasi Stres Cuma 30 Detik: Rahasia Cepat Bikin Suasana Hati Membaik
ilustrasi stres, lelah, lembur, pusing (magnific.com/pressfoto)
Share Article

Saat stres datang, kamu mungkin langsung merasa butuh waktu panjang untuk memulihkan suasana hati. Padahal, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan dalam waktu singkat untuk memberikan jeda pada tubuh dan pikiran.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa latihan singkat seperti mengatur napas, tertawa, melakukan peregangan, atau memberikan sentuhan lembut pada diri sendiri berpotensi membantu meningkatkan kesejahteraan. Kebiasaan tersebut dikenal sebagai micropractice, yaitu praktik sederhana yang dilakukan dalam waktu sangat singkat dan bisa diselipkan di tengah aktivitas sehari-hari.

Jadi, ketika pikiran mulai penuh, kamu gak harus selalu menunggu waktu luang berjam-jam untuk melakukan sesuatu yang menenangkan. Berikut beberapa praktik singkat yang bisa dicoba ketika stres mulai terasa.

  1. 1. Coba tertawa meski awalnya terasa aneh

    ilustrasi tertawa (pexels.com/Alexander Suhorucov)
    ilustrasi tertawa (pexels.com/Alexander Suhorucov)

    Tertawa gak selalu harus diawali oleh lelucon atau sesuatu yang benar-benar lucu, lho. Dalam laughter yoga, kamu justru diajak memulai tawa secara sengaja melalui suara dan gerakan sederhana. Natalie Van der Wal, peneliti dari Delft University of Technology di Belanda, menjelaskan bahwa tawa yang awalnya dibuat-buat sering kali dapat berubah menjadi tawa sungguhan setelah beberapa saat. Pengalaman tersebut juga dapat membuat suasana interaksi terasa lebih cair ketika dilakukan bersama orang lain.

    Caranya cukup sederhana dan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Tarik napas dalam sebanyak tiga kali sambil meletakkan tangan di perut, lalu mulai tertawa secara perlahan meskipun awalnya terasa canggung. Kamu bisa mengawali dengan suara seperti "hi hi hi" atau "ha ha ha", kemudian meningkatkan volumenya secara bertahap sebelum mengakhirinya dengan satu tarikan napas dalam. Menurut penelitian dalam Social Science & Medicine, terapi yang menggunakan tawa non-humor menunjukkan kecenderungan memberikan efek lebih besar dibandingkan tawa yang dipicu humor terhadap beberapa hasil kesehatan mental, meski peneliti juga menekankan bahwa kualitas bukti secara keseluruhan masih terbatas.

  2. 2. Lakukan peregangan singkat setelah terlalu lama duduk

    ilustrasi stretching di tempat kerja
    ilustrasi stretching di tempat kerja (freepik.com/freepik)

    Terlalu lama berada di depan laptop bisa membuat tubuh bertahan dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Bahu mungkin terasa kaku, leher menegang, dan posisi tubuh perlahan menjadi membungkuk tanpa kamu sadari. Micro yoga menawarkan cara sederhana untuk memberikan jeda melalui peregangan ringan yang bisa dilakukan di sela aktivitas. Kamu gak membutuhkan matras atau ruangan khusus karena beberapa gerakannya dapat dilakukan sambil berada di dekat meja kerja.

    Salah satu gerakan yang bisa dicoba adalah mengaitkan jari-jari tangan di belakang punggung. Saat menarik napas, arahkan kedua tangan ke bawah dengan lembut sambil sedikit membuka dada, kemudian lepaskan ketegangan ketika mengembuskan napas. Tahan posisi tersebut selama dua atau tiga napas dengan tetap menghindari gerakan yang terasa sakit atau dipaksakan. Penelitian dalam Ergonomics menunjukkan bahwa jeda peregangan singkat yang dilakukan secara berkala dapat berkaitan dengan peningkatan produktivitas, sedangkan penelitian lain mengenai jeda mindfulness dan peregangan turut membahas manfaatnya terhadap kondisi psikologis serta kesejahteraan di lingkungan kerja.

    Peregangan tetap perlu dilakukan secara hati-hati karena setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Kalau kamu punya cedera, keluhan fisik tertentu, atau sedang mempertimbangkan rutinitas olahraga baru, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan. Tujuannya supaya aktivitas yang seharusnya menjadi jeda santai justru gak menimbulkan masalah baru. Gerakkan tubuh secara perlahan dan berhenti kalau muncul rasa sakit.

  3. 3. Atur napas selama sekitar 30 detik

    ilustrasi breathing (unsplash.com/Jan Kopřiva)
    ilustrasi breathing (unsplash.com/Jan Kopřiva)

    Ketika sedang tertekan, tubuh bisa masuk ke kondisi siaga sehingga napas terasa lebih cepat atau dangkal. Mengubah pola napas menjadi lebih lambat dapat membantu memberikan sinyal relaksasi kepada tubuh. Latihan ini juga relatif mudah dilakukan karena kamu gak membutuhkan alat maupun tempat khusus. Bahkan, beberapa tarikan napas bisa dilakukan ketika sedang duduk di meja kerja sebelum menghadapi rapat atau situasi yang membuat tegang.

    Coba duduk dengan posisi nyaman, lalu tarik napas secara perlahan selama beberapa detik. Setelah itu, keluarkan napas sedikit lebih panjang sambil memperhatikan sensasi udara yang masuk dan keluar dari tubuh. Kamu bisa mengulangi tiga kali dengan fokus pada ritme napas, bukan pada berbagai pikiran yang sedang memenuhi kepala. Penelitian dalam Scientific Reports menunjukkan bahwa latihan pernapasan lambat dapat berkaitan dengan perubahan aktivitas gelombang otak yang berhubungan dengan kondisi tenang dan perhatian.

    Penelitian lain dalam Asian Journal of Psychiatry juga meneliti efek tiga tarikan napas dalam terhadap aktivitas otak. Amit Kumar dari University of Naples Federico II menjelaskan bahwa teknik tersebut dapat digunakan ketika pikiran terasa terlalu ramai, termasuk sebelum menghadapi situasi yang membuat gugup. Namun, latihan sekitar 30 detik gak selalu cukup untuk semua orang, terutama ketika tingkat stres sedang tinggi. Dalam kondisi seperti itu, kamu mungkin membutuhkan latihan yang lebih lama atau pendekatan lain untuk membantu mengelola stres.

  4. 4. Berikan sentuhan lembut pada diri sendiri

    ilustrasi memejamkan mata, breathing, self love, self compassion
    ilustrasi memejamkan mata, breathing, self love, self compassion (magnific.com/benzoix)

    Saat sedang stres, perhatianmu mungkin lebih banyak tertuju pada hal-hal yang belum selesai atau kesalahan yang baru terjadi. Kondisi tersebut bisa membuatmu semakin keras terhadap diri sendiri. Salah satu cara sederhana untuk memberikan jeda adalah self-compassionate touch, yaitu menyentuh tubuh sendiri dengan lembut sambil mengarahkan pikiran yang penuh kasih kepada diri sendiri. Praktik ini dapat dilakukan dengan meletakkan satu atau kedua tangan di dada, lengan atas, atau area tubuh lain yang terasa nyaman.

    Penelitian dalam Behaviour Research and Therapy menguji praktik self-compassionate touch sebagai micropractice selama sekitar 20 detik per hari. Dalam analisis utama berdasarkan seluruh peserta, peneliti gak menemukan efek signifikan pada berbagai hasil setelah satu bulan, tapi analisis pada peserta yang benar-benar menjalankan latihan lebih dari 28 kali menunjukkan peningkatan self-compassion serta penurunan stres dan beberapa ukuran psikopatologi. Temuan ini menunjukkan bahwa konsistensi melakukan latihan menjadi bagian penting dari manfaat yang terlihat.

    Kamu bisa mencobanya dengan meletakkan tangan di dada atau lengan, kemudian menarik napas secara perlahan. Rasakan kehangatan dan tekanan lembut dari tangan sambil mengarahkan pikiran pada kalimat yang lebih ramah terhadap diri sendiri. Gak perlu membuat kalimat yang terdengar terlalu positif atau berlebihan karena yang penting adalah memberikan respons yang lebih penuh pengertian kepada diri sendiri. Dengan begitu, latihan singkat ini bisa menjadi jeda ketika kamu sedang menghadapi hari yang terasa berat.

  5. 5. Sisipkan micropractice ke rutinitas harian

    ilustrasi tersenyum, kalem, tenang
    ilustrasi tersenyum, kalem, tenang (magnific.com/benzoix)

    Kamu gak harus mencoba semua teknik tersebut dalam satu hari. Setiap orang bisa memiliki respons berbeda terhadap latihan tertentu, sehingga lebih baik memilih satu kebiasaan yang terasa nyaman dan realistis untuk dilakukan secara rutin. Misalnya, kamu bisa menggunakan latihan napas sebelum rapat, melakukan peregangan setelah duduk lama, atau mencoba self-compassionate touch ketika mulai merasa kewalahan. Prinsipnya adalah mencari praktik yang mudah masuk ke dalam rutinitas tanpa membuatmu merasa memiliki pekerjaan tambahan.

    Kebiasaan singkat juga bisa digabungkan dengan aktivitas yang sudah kamu lakukan setiap hari. Ketika berjalan, kamu bisa mengalihkan perhatian sejenak dari pekerjaan dan memperhatikan langkah serta lingkungan sekitar. Saat mencuci piring atau melakukan pekerjaan rumah, kamu bisa memperlambat napas dan memusatkan perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan. Penelitian mengenai mindfulness menunjukkan bahwa praktik yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dapat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, sehingga jeda untuk menenangkan diri gak harus selalu berbentuk sesi meditasi khusus.

    Pada akhirnya, 30 detik memang gak selalu cukup untuk menghilangkan stres sepenuhnya. Namun, waktu sesingkat itu bisa menjadi kesempatan untuk menghentikan sejenak respons otomatis ketika pikiran mulai terasa penuh. Kamu bisa mencoba tertawa, meregangkan tubuh, mengatur napas, atau memberikan sentuhan lembut pada diri sendiri sesuai kondisi yang sedang dihadapi.

    Kalau stres terasa sangat berat, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan hanya mengandalkan micropractice dan pertimbangkan untuk mencari bantuan dari tenaga profesional, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More