ilustrasi bedanya menikmati audiobook vs buku cetak untuk kesehatan otak (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Saat kamu membaca buku cetak, otakmu bekerja keras memecahkan kode visual dari huruf-huruf menjadi sebuah makna yang utuh. Proses kompleks ini sangat mengaktifkan korteks visual dan area pemrosesan bahasa di otak bagian kiri yang bertugas merangkai kata. Di sisi lain, mendengarkan format audio justru memanjakan area korteks auditori yang secara khusus bertugas memproses informasi pendengaran. Jadi, meski jalurnya berbeda, para ahli saraf sepakat bahwa kedua medium ini pada akhirnya mampu meningkatkan tingkat pemahaman semantik yang sama kuatnya di otak kamu.
Bisa dibilang, baca teks fisik dapat melatih otot mata, sementara mendengarkan narator itu asyik buat telinga kamu. Kalau kamu lagi low energy atau pusing memikirkan deadline, memaksa baca teks tebal kadang malah bikin kamu tambah stres dan muak. Makanya, kamu gak perlu merasa bersalah milih format dengar, karena otakmu tetap diajak olahraga kognitif ringan yang menyehatkan tanpa bikin tenaga terkuras habis, kok.
Memahami bedanya menikmati audiobook vs buku cetak untuk kesehatan otak akan membebaskanmu dari rasa bersalah saat memilih cara me-time terbaik. Keduanya sama-sama punya kekuatan hebat untuk merawat fungsi kognitif, jadi pilihlah medium yang paling bikin kamu nyaman dan waras hari ini, ya. Tetap semangat menambah ilmu, karena otak yang bahagia berawal dari caramu menyayangi dan mengapresiasi diri sendiri!