ilustrasi mengeluh (pexels.com/Mikhail Nilov)
Punya masalah lalu membicarakannya tentu berbeda dengan menghabiskan waktu untuk mengulang keluhan yang sama tanpa pernah memikirkan langkah berikutnya. Misalnya, setiap hari mengeluh soal pekerjaan yang tidak disukai tetapi tidak pernah mencoba membicarakan masalahnya, mencari pekerjaan lain, atau memperbaiki bagian yang masih bisa diperbaiki. Dalam kondisi seperti itu, keluhan hanya berputar di tempat.
Cara pandang stoik lebih mengarah pada pertanyaan sederhana: “Setelah ini, apa yang bisa aku lakukan?” Kalau memang ada yang bisa diperbaiki, kerjakan bagian tersebut. Kalau ternyata kejadiannya sudah tidak dapat diubah, kita belajar menerima kenyataan itu dan mengalihkan tenaga ke hal yang masih berada dalam kendali.
Jadi, anggapan bahwa orang stoik sama sekali tidak boleh mengeluh sebenarnya kurang tepat. Mereka tetap bisa kecewa, marah, lelah, dan mengutarakan kesulitan seperti manusia pada umumnya. Bedanya, keluhan tidak seharusnya membuat kita terus-terusan terjebak pada sesuatu yang tidak bisa diubah.