Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Berdiri di Bawah Pohon Pinus Terasa Lebih Menenangkan?

4 min read
Kenapa Berdiri di Bawah Pohon Pinus Terasa Lebih Menenangkan?
ilustrasi pohon pinus (pexels.com/Rudolf Jakkel)
  • Pohon pinus melepaskan phytoncide seperti alpha-pinene dan beta-pinene, yang menciptakan aroma khas hutan serta menjadi bagian penelitian tentang paparan hutan dan respons stres.
  • Pemandangan hijau, batang, dedaunan, dan cahaya di antara dahan memberi jeda dari layar serta informasi yang terus menuntut perhatian.
  • Aroma, suara angin, gerak daun, dan burung melibatkan berbagai indra dalam forest bathing, membantu perhatian kembali pada momen sekitar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah berdiri di bawah pohon pinus dan merasa suasananya lebih adem? Padahal, sebelumnya pikiran mungkin masih penuh dengan pekerjaan atau hal-hal yang bikin kesal. Pohon-pohon tinggi di sekitar, udara yang lebih sejuk, dan aroma khas pinus membuat suasana terasa berbeda. 

Hal ini berkaitan dengan pengalaman forest bathing atau shinrin-yoku dari Jepang. Konsep ini mengajak seseorang menikmati suasana hutan secara perlahan melalui apa yang dilihat, didengar, dan dicium. Lalu, kenapa berdiri di bawah pohon pinus bisa terasa menenangkan?

  1. 1. Aroma pinus datang dari senyawa yang dilepaskan pohon

    ilustrasi pohon pinus
    ilustrasi pohon pinus (unsplash.com/Mufid Majnun)

    Ada alasan kenapa aroma di sekitar pohon pinus terasa begitu khas. Pohon dan tanaman melepaskan senyawa volatil bernama phytoncide sebagai bagian dari mekanisme pertahanan alaminya. Pada pohon pinus dan jenis konifer lainnya, beberapa senyawa yang dilepaskan, antara lain; alpha-pinene dan beta-pinene. Keduanya juga berkontribusi pada aroma segar yang sering kita kenali sebagai “bau hutan”.

    Menurut laman Psychology Today, pohon dan tanaman mengeluarkan phytoncide, yakni minyak esensial yang melindungi flora dari parasit dan kuman. Senyawa tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang diteliti dalam hubungan antara paparan hutan dan respons tubuh terhadap stres.

    Jadi, rasa nyaman ketika menghirup udara di sekitar pohon pinus bukan hanya kebetulan. Aroma yang masuk ke hidung menjadi bagian dari pengalaman ketika berada di alam. Meski tentu saja bukan berarti menghirup aroma pinus bisa langsung menghapus semua masalah, setidaknya suasananya bisa menjadi alasan kecil untuk berhenti sejenak dari kesibukan.

  2. 2. Pemandangan hijau memberi jeda bagi pikiran

    Pohon Pinus
    Pohon Pinus (pexels.com/Shane Kell)

    Coba bayangkan setelah berjam-jam melihat layar laptop dan ponsel, lalu tiba-tiba yang ada di depan mata hanya deretan pohon pinus. Gak ada notifikasi, kolom chat, atau tab pekerjaan yang harus dibuka. Mata justru melihat batang pohon, dedaunan, cahaya matahari, dan langit yang muncul di sela-sela dahan. Perubahan pemandangan sederhana ini bisa membuat suasana terasa jauh lebih santai.

    Warna hijau dan bentuk pepohonan yang memenuhi pandangan juga membuat mata punya sesuatu yang lebih tenang untuk diperhatikan. Gak ada banyak informasi yang harus dibaca atau respons yang harus diberikan. Kita hanya melihat dahan yang bergerak tertiup angin, cahaya yang berubah di antara daun, atau mungkin awan yang sesekali terlihat di atasnya. Perlahan, perhatian yang sebelumnya terpaku pada berbagai urusan bisa berpindah fokus ke lingkungan sekitar.

    Itu kenapa suasana di bawah pohon pinus bisa terasa seperti jeda kecil, karena kita sedang berada di lingkungan yang gak terus-menerus meminta perhatian. Setelah seharian berpindah dari satu layar ke layar lain, melihat sesuatu yang gak menuntut apa-apa memang terasa menyegarkan.

  3. 3. Aroma dan suara alam membuat kita lebih "hadir"

    ilustrasi pohon pinus
    ilustrasi pohon pinus (pexels.com/Pille Kirsi)

    Ada hal lain yang membuat suasana di bawah pohon pinus terasa berbeda, yaitu kita gak cuma mengandalkan penglihatan. Ada aroma pepohonan yang tercium, suara angin yang melewati dahan, daun yang bergerak, atau burung yang terdengar dari kejauhan. Hal-hal kecil seperti ini mungkin biasanya gak terlalu diperhatikan ketika kita sedang sibuk. Namun, saat suasana lebih tenang, perhatian jadi lebih mudah tertuju pada apa yang sedang terjadi di sekitar.

    Pengalaman menggunakan berbagai indra tersebut juga menjadi bagian dari forest bathing atau shinrin-yoku. Menurut Susan Albers, PsyD, seorang psikolog klinis, “Pemandangan, suara, dan aroma hutan membuat kita lebih hadir di momen tersebut, sehingga otak sejenak berhenti mengantisipasi, mengingat-ingat, memikirkan banyak hal, dan merasa khawatir,” dikutip Cleveland Clinic.

    Itu sebabnya berdiri di bawah pohon pinus bisa terasa berbeda meski kita gak sedang melakukan aktivitas khusus. Saat perhatian mulai berpindah ke suara angin atau aroma pepohonan, pikiran punya kesempatan untuk berhenti memikirkan banyak hal sekaligus.

    Kalau lain kali kamu menemukan deretan pohon pinus, jangan hanya mengambil foto lalu pergi. Coba berhenti sebentar dan perhatikan apa yang terlihat, terdengar, dan tercium di sekitar kamu. Bisa jadi, isi kepala sedang butuh waktu di tempat yang lebih hijau.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More