Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bolehkah Memulai Awal Tahun Tanpa Target? Ini Jawabannya!

ilustrasi 2026
ilustrasi 2026 (pexels.com/Ann H)
Intinya sih...
  • Awal tahun tidak harus diisi dengan target besar karena tanggal 1 Januari pada dasarnya sama seperti hari biasa.
  • Hidup tetap berjalan baik meski tidak punya daftar target resolusi.
  • Tidak menetapkan target memberi ruang bernapas dan fokus pada kebutuhan nyata diri sendiri.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Awal tahun kerap dianggap seperti momen wajib untuk menentukan arah hidup. Padahal, tidak semua orang sedang berada pada posisi yang siap membuat rencana. Ada yang masuk Januari dengan pekerjaan yang belum stabil, urusan rumah tangga yang belum selesai, atau sekadar kelelahan dari tahun sebelumnya.

Awal tahun akhirnya bukan lagi soal hidup yang berjalan, melainkan soal memenuhi ekspektasi. Padahal, hidup tidak selalu membutuhkan target untuk tetap bergerak. Berikut beberapa sudut pandang yang bisa kamu jadikan pertimbangan.

1. Awal tahun sering dilebih-lebihkan sebagai penentu hidup

ilustrasi awal tahun
ilustrasi awal tahun (pexels.com/Jess Bailey Designs)

Pergantian tahun memberi kesan seolah hidup harus ikut berubah secara signifikan. Kenyataannya, tidak ada yang benar-benar berbeda antara 31 Desember dan 1 Januari selain tanggal. Masalah yang ada sebelumnya tetap ada, begitu juga tanggung jawab yang belum selesai.

Menganggap awal tahun sebagai penentu arah hidup justru membebani banyak orang. Tidak semua fase hidup cocok diisi target baru. Kadang, hidup hanya perlu dilanjutkan tanpa perlu diberi makna yang besar.

2. Hidup tetap berjalan meski tanpa daftar target

ilustrasi daftar anggaran
ilustrasi daftar anggaran (pexels.com/Polina)

Banyak orang menjalani hidup dengan baik tanpa pernah menuliskan target tahunan. Bangun pagi, menyelesaikan pekerjaan, mengurus hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, semuanya tetap berlangsung. Hidup tidak berhenti hanya karena tidak ada resolusi.

Target sering diposisikan sebagai bukti keseriusan hidup. Padahal, bertahan dan menjalani hari dengan bertanggung jawab juga bagian dari hidup. Tidak semua hal perlu diberi label pencapaian.

3. Target awal tahun sering lahir dari perbandingan

ilustrasi target awal tahun
ilustrasi target awal tahun (pexels.com/Polina)

Banyak target muncul setelah melihat hidup orang lain, bukan setelah memahami kebutuhan sendiri. Lini masa penuh dengan rencana karier, tabungan, dan pencapaian yang terlihat rapi. Tanpa sadar, muncul dorongan untuk ikut punya sesuatu agar tidak terlihat tertinggal.

Padahal, hidup tidak berjalan di jalur yang sama. Meniru target orang lain sering berujung pada rasa tidak puas. Memulai awal tahun tanpa target bisa menjadi cara menghindari keputusan yang tidak relevan dengan kondisi sendiri.

4. Tidak menetapkan target memberi ruang bernapas

ilustrasi target awal tahun
ilustrasi target awal tahun (pexels.com/Polina)

Awal tahun sering datang dengan tuntutan baru yang bertumpuk. Tanpa target, hidup terasa lebih longgar. Hari dijalani tanpa rasa dikejar oleh daftar yang harus dicentang.

Hal ini memungkinkan orang untuk fokus pada hal-hal dasar yang sering terlewat. Orang bisa mengatur ulang rutinitas, merapikan urusan kecil, atau sekadar memastikan hidup tetap berjalan rapi. Hal-hal sederhana ini sering lebih berdampak daripada target besar.

5. Target tidak harus siap dari Januari

ilustrasi Januari
ilustrasi Januari (pexels.com/Leeloo The First)

Ada anggapan bahwa target yang baik harus dibuat pada awal tahun. Padahal, banyak orang baru memahami kebutuhan setelah menjalani beberapa bulan pertama. Target yang muncul belakangan sering lebih realistis karena berangkat dari kondisi nyata.

Awal tahun tanpa target bukan berarti anti perencanaan. Itu hanya soal memberi waktu pada hidup untuk menunjukkan arahnya sendiri. Target bisa menyusul kapan saja, tanpa harus menunggu momen simbolis.

Memulai awal tahun tanpa target apa pun bukan keputusan aneh, apalagi keliru. Hidup tetap bisa berjalan tanpa harus selalu didefinisikan lewat rencana besar. Jika hidup sedang butuh dijalani apa adanya, kenapa harus dipaksa terlihat “siap”?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

Kesalahan Kecil pada Minggu Pertama Tahun Baru, Relate?

02 Jan 2026, 23:44 WIBLife