Budaya guyub sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kebiasaan saling menyapa, mengikuti kegiatan warga, membantu tetangga yang mengalami kesulitan, hingga bergotong royong menciptakan rasa kebersamaan di lingkungan tempat tinggal. Namun, kedekatan sosial semacam ini tidak selalu menjadi prioritas bagi semua orang, terutama di tengah gaya hidup modern yang semakin menekankan kebebasan dan privasi pribadi.
Bagi sebagian anak muda, hidup bertetangga mungkin cukup dilakukan dengan menjaga ketertiban dan tidak mengganggu orang lain. Mereka tidak merasa perlu mengenal semua tetangga atau terlibat dalam setiap kegiatan lingkungan. Lantas, mengapa budaya guyub mulai asing bagi sebagian anak muda? Apakah mereka semakin individualistis, atau ada perubahan cara pandang terhadap hubungan sosial yang perlu dipahami?
