Perkembangan artificial intelligence (AI) bukan hanya mengubah cara orang Amerika bekerja dan mencari informasi, lho, tapi juga mulai memengaruhi kehidupan anak muda di berbagai negara, termasuk Indonesia. Karena itu, survei terhadap warga Amerika Serikat tetap menarik untuk disimak, terutama karena kelompok usia muda di Indonesia juga semakin akrab dengan chatbot dan berbagai layanan berbasis AI.
Survei Pew Ungkap Anak Muda AS makin Khawatir soal AI

- Mayoritas warga AS di bawah 30 tahun kini lebih khawatir daripada antusias terhadap AI; antusiasme terhadap teknologi ini juga menurun di semua kelompok usia sejak 2021.
- Sebanyak 48% anak muda memperkirakan dampak AI bagi masyarakat dalam 20 tahun akan negatif, dengan kekhawatiran terhadap kreativitas, kemampuan berpikir, dan hubungan antarmanusia.
- Meski cemas, 66% anak muda AS menggunakan chatbot, terutama untuk informasi; survei juga mencatat ketidakpercayaan tinggi terhadap sejumlah CEO teknologi dalam pengelolaan AI.
Dalam survei Pew Research Center, kategori anak muda yang dimaksud adalah orang dewasa berusia di bawah 30 tahun, sementara survei CNBC yang dibahas dalam artikel ini menggunakan responden berusia 18-34 tahun. Menariknya, meski anak muda menjadi kelompok yang paling aktif menggunakan chatbot, survei Pew ungkap anak muda AS makin khawatir soal AI. Lantas, apa saja temuan surveinya dan kenapa sikap anak muda terhadap AI mulai berubah?
1. Anak muda AS lebih banyak merasa khawatir soal AI

ilustrasi AI (unsplash.com/Solen Feyissa) Selama beberapa tahun terakhir, AI memang berkembang sangat cepat dan mulai masuk ke berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membantu pekerjaan, membuat gambar, sampai menjadi teman berdiskusi, teknologi ini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan anak muda. Namun, perkembangan tersebut ternyata gak selalu diikuti oleh rasa antusias yang semakin besar. Kok, bisa?
Untuk pertama kalinya, mayoritas warga AS berusia di bawah 30 tahun mengatakan mereka lebih merasa khawatir daripada antusias terhadap AI. Survei Pew Research Center juga menunjukkan bahwa antusiasme terhadap AI menurun di semua kelompok usia dibandingkan dengan 2021. Temuan ini memperlihatkan bahwa semakin dekat seseorang dengan teknologi AI, belum tentu semakin tinggi pula rasa percaya atau antusiasmenya.
Kalau kamu mengikuti perkembangan AI di Indonesia, perubahan sikap ini cukup menarik untuk diperhatikan. Teknologi yang sama juga semakin banyak digunakan untuk belajar, bekerja, mencari informasi, hingga membuat konten di Indonesia. Karena itu, kekhawatiran anak muda AS bisa menjadi gambaran tentang pertanyaan dan persoalan yang mungkin ikut muncul ketika penggunaan AI semakin luas.
2. Hampir separuh anak muda memperkirakan dampaknya negatif

ilustrasi inovasi dan kreativitas (freepik.com/DilokaStudio) Kekhawatiran anak muda AS terhadap AI terlihat lebih jelas dalam survei Pew lainnya. Sebanyak 48 persen warga AS berusia di bawah 30 tahun mengatakan dampak AI terhadap masyarakat dalam 20 tahun ke depan kemungkinan akan negatif. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, sementara hanya 14 persen anak muda yang memperkirakan dampaknya bakal positif.
Pandangan tersebut juga terlihat ketika mereka ditanya mengenai kreativitas. Sekitar 20 persen orang dewasa di bawah 30 tahun mengatakan chatbot dapat berdampak buruk terhadap kreativitas mereka, menjadi persentase tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Dalam survei Pew yang diterbitkan pada September, sebanyak 61 persen anak muda menilai AI akan memperburuk kemampuan orang untuk berpikir kreatif dan 58 persen memperkirakan teknologi tersebut dapat memperburuk kemampuan manusia dalam membangun hubungan.
Kekhawatiran seperti ini sebenarnya cukup relevan untuk kamu perhatikan ketika menggunakan AI. Kemudahan mendapatkan jawaban atau menghasilkan sesuatu dalam hitungan detik memang terasa praktis, tapi tetap ada pertanyaan mengenai seberapa sering manusia perlu berpikir dan mengerjakan sesuatu secara mandiri. Terlebih, penggunaan AI kini semakin dekat dengan aktivitas belajar dan pekerjaan sehari-hari.
3. Ironisnya, anak muda justru paling aktif menggunakan chatbot

ilustrasi AI ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli) Menariknya, rasa khawatir terhadap AI gak bikin anak muda AS berhenti menggunakan chatbot. Survei Pew yang diterbitkan pada Juni menemukan bahwa 66 persen orang dewasa di bawah 30 tahun mengaku menggunakan chatbot. Angka tersebut meningkat 11 poin persentase dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya dan menjadi persentase tertinggi di antara kelompok usia yang disurvei.
Alasan penggunaannya juga cukup beragam. Sebanyak 54 persen anak muda menggunakan chatbot untuk mencari informasi, 27 persen memakainya untuk mendapatkan saran medis, dan sekitar 20 persen menggunakannya untuk meminta nasihat emosional. Artinya, hubungan anak muda dengan AI sebenarnya cukup kompleks karena mereka bisa memanfaatkan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari sambil tetap merasa khawatir terhadap dampaknya.
Kondisi ini juga bisa kamu lihat sebagai pengingat bahwa penggunaan AI dan sikap kritis terhadap AI bisa berjalan bersamaan. Kamu mungkin memakai chatbot karena lebih cepat membantu mencari informasi, tapi tetap perlu memeriksa kembali informasi penting yang diberikan. Apalagi ketika AI digunakan untuk topik sensitif seperti kesehatan atau persoalan emosional.
4. Ketidakpercayaan juga muncul terhadap CEO perusahaan AI

ilustrasi perusahaan Meta (pexels.com/Julio Lopez) Kekhawatiran anak muda ternyata gak hanya berkaitan dengan teknologi AI itu sendiri. Survei CNBC terhadap warga Amerika berusia 18-34 tahun menemukan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi terhadap sejumlah CEO perusahaan teknologi ketika responden ditanya apakah mereka memercayai para pemimpin tersebut untuk bertindak secara bertanggung jawab terkait AI. Temuan ini menunjukkan adanya perhatian terhadap pihak yang mengembangkan dan mengendalikan teknologi AI.
Dalam survei tersebut, 81 persen responden mengatakan mereka gak memercayai Alex Karp dari Palantir untuk bertindak secara bertanggung jawab soal AI. Angka ketidakpercayaan terhadap Peter Thiel mencapai 79 persen, Dario Amodei 76 persen, Mark Zuckerberg 71 persen, Elon Musk 70 persen, dan Sam Altman 69 persen.
Buat kamu sebagai pengguna AI, hal ini menarik karena perkembangan teknologi gak hanya berkaitan dengan fitur yang bisa digunakan. Ada pula persoalan mengenai bagaimana perusahaan mengembangkan teknologi, bagaimana AI digunakan, serta siapa yang bertanggung jawab ketika muncul dampak tertentu. Pertanyaan seperti ini kemungkinan akan semakin relevan ketika AI masuk lebih dalam ke aktivitas pendidikan, pekerjaan, bisnis, dan kehidupan sosial.
5. Anak muda tetap menggunakan AI sambil bersikap kritis

ilustrasi anak muda, crowd, hangout, kumpul bareng teman, New York, Amerika Serikat (pexels.com/Thom Gonzalez) Kalau berbagai survei tersebut dilihat secara bersamaan, sikap anak muda AS terhadap AI ternyata gak sesederhana antara suka dan gak suka. Mereka justru menjadi kelompok yang paling banyak menggunakan chatbot, tetapi pada saat yang sama menunjukkan kekhawatiran besar terhadap dampaknya bagi masyarakat, kreativitas, kemampuan berpikir, dan hubungan sosial. Jadi, tingginya penggunaan AI gak otomatis berarti tingginya tingkat kepercayaan terhadap teknologi tersebut.
Buat kamu di Indonesia, fenomena ini layak diperhatikan karena penggunaan AI juga terus berkembang dalam berbagai aktivitas. Kamu bisa memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan atau mencari informasi, tapi tetap perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan gak langsung menerima setiap jawaban yang diberikan. Pada akhirnya, perkembangan AI bukan hanya soal seberapa canggih teknologinya, melainkan juga bagaimana manusia memilih menggunakan dan menyikapinya.
Hasil survei Pew ungkap anak muda AS makin khawatir soal AI memang gak bisa langsung dianggap mewakili kondisi anak muda di Indonesia. Meski begitu, temuan tersebut mampu menjadi bahan refleksi ketika penggunaan AI semakin umum dalam kehidupan sehari-hari. Semakin sering kamu menggunakan AI, semakin penting pula memahami manfaat sekaligus potensi risikonya agar teknologi tersebut tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia sepenuhnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















