Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Buku Sastra Pilihan Artie Ahmad, Penulis Novel Nyai Sadikem
Rekomendasi buku (gramedia.com)
  • Artie Ahmad, penulis Nyai Sadikem, merekomendasikan sastra bagi generasi muda dan menilai karya Nh. Dini penting untuk mempelajari penulisan memoar yang mengalir seperti novel.
  • Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi mengisahkan Firdaus, narapidana perempuan yang menghadapi penindasan, kekerasan, dan pelecehan berlapis sebelum menunggu hukuman mati.
  • Rekomendasi lain mencakup The God of Small Things tentang dampak kasta di India, serta Ronggeng Dukuh Paruk dan Bekisar Merah yang menggambarkan konflik sosial serta nasib masyarakat kecil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Artie Ahmad adalah seorang penulis buku sastra populer berjudul Nyai Sadikem. Ia mengangkat kisah perempuan yang berprofesi sebagai Gowok, perempuan yang mengajari laki-laki tentang seluk-beluk pernikahan dan seksualitas. Dalam wawancara online dengan IDN Times, Artie membagikan judul buku yang direkomendasikan untuk dibaca oleh generasi muda.

Tentunya, karya-karya di bawah ini menghadirkan berbagai inspirasi bagi pembaca luas maupun Artie Ahmad sendiri. Selain judul-judul di bawah ini, secara personal, Artie juga merekomendasikan pada generasi muda untuk membaca karya Nh. Dini, sastrawan senior Indonesia yang karyanya telah dikenal luas oleh pembaca.

Baginya, karya-karya Nh. Dini menjadi rujukan penting untuk mempelajari penulisan memoar yang mengalir layaknya sebuah novel. Melalui seri Cerita Kenangan, Nh. Dini mampu mengisahkan pengalaman hidupnya dengan gaya bertutur yang hangat dan tidak terasa seperti biografi pada umumnya.

1. Perempuan di Titik Nol

buku Perempuan di Titik Nol (gramedia.com)

Buku pertama yang disebutkan oleh Artie adalah Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Novel yang diangkat dari kisah nyata seorang narapidana perempuan yang tengah menunggu hukuman mati setelah membunuh seorang germo.

Buku ini mengangkat berbagai pertentangan yang terjadi dalam kehidupan Firdaus, sang tokoh utama, yang mengalami penindasan, kekerasan, dan pelecehan secara berlapis. Menurut Artie, novel tersebut menyoroti bagaimana pelecehan seksual yang menimpa perempuan kerap kali menghadirkan penindasan yang berlapis.

Kisah dalam buku tersebut masih relevan hingga saat ini. Sebab, menurut Artie, persoalan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan masih menjadi isu yang memprihatinkan. Menurutnya, korban kerap dihadapkan pada proses hukum yang tidak mudah, termasuk tuntutan untuk menghadirkan bukti yang kuat atas kekerasan yang dialaminya.

2. The God of Small Things

The God of Small Things oleh Arundhati Roy (gramedia.com)

Novel The God of Small Things yang ditulis oleh Arundhati Roy juga menjadi salah satu rekomendasi dari Artie untuk generasi muda. Buku ini menceritakan kehancuran sebuah keluarga di India akibat aturan kasta dan norma sosial yang berlaku.

Novel yang menjadi pemenang Booker Prize tahun 1997 ini, menyoroti bagaimana hukum di masyarakat yang melarang hubungan antar kasta, justru menghancurkan hidup orang-orang di dalamnya. Praktik sosial dan politik ini mengangkat berbagai konflik sosial yang berbenturan dengan tradisi, diskriminasi, serta gerakan-gerakan politik lain dalam masyarakat.

3. Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari (gramedia.com)

Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis oleh Ahmad Tohari, menjadi karya sastra fenomenal saat ini. Novel trilogi ini mengangkat kisah Srintil, seorang penari ronggeng di desa terpencil. Latar kisah dalam novel tersebut terjadi pada tahun 1965 di mana tragedi politik tengah berkecamuk di Indonesia.

"Ronggeng Dukuh Paruk juga bisa dibaca untuk khasanah, bagaimana melihat kehidupan dan tata cara penulisan Pak Ahmad Tohari, itu kan luar biasa," ujar Artie.

Selain Ronggeng Dukuh Paruk, Artie juga menyebut karya lain dari Ahmad Tohari, Bekisar Merah. Novel ini mengangkat perjuangan seorang wanita desa yang hidup di tengah kemiskinan, lalu mengundi nasib ke kota besar. Buku ini menggambarkan nasib masyarakat kecil yang sering kali dijadikan komoditas atau pajangan oleh penguasa.

Curated For You

Editorial Team

Related Article