"Profesi yang cukup unik bagi saya, kemudian saat itu saya berpikir gimana sih kalau saya bawa ini menjadi sebuah cerita, karena kan saya memang basic-nya sudah menjadi penulis (sebelum novel Nyai Sadikem terbit). Ketika saya menulis ini, untuk saya bangun sebuah dunia yang baru, di mana saya mempergunakan profesi ini, seorang gowok, tetapi tokohnya seorang Noni Belanda. Itu kira-kira bagaimana? Saat itu saya berpikirnya seperti itu. Akhirnya saya tulis itu sekitar tahun 2020," cerita Artie.
Buruh Pabrik ke Dunia Sastra, Ini Perjalanan Artie Ahmad Jadi Penulis

- Artie Ahmad, mantan buruh pabrik tekstil tanpa pendidikan sastra formal, tetap menulis di sela kerja shift hingga menerbitkan Sunyi di Dada Sumirah pada 2018.
- Novel Nyai Sadikem, dirilis 2025 dan masuk longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2026, mengisahkan gowok dari perspektif Noni Belanda melalui riset literatur terbatas.
- Lewat karya-karyanya, Artie mengangkat kekerasan, stigma, dan daya tahan perempuan; ia juga melihat minat sastra generasi muda tumbuh melalui media sosial dan diskusi buku.
Jakarta, IDN Times - Sastra Indonesia kembali bergairah di tengah antusiasme generasi muda terhadap dunia literasi. Membaca kini menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus membentuk identitas seseorang. Generasi masa kini kian menyukai novel dengan muatan sejarah, kritik sosial, hingga isu kelompok marjinal yang kerap terabaikan. Pertumbuhan minat baca yang terus menunjukkan angka positif, dibarengi dengan diskusi kritis yang menyoroti berbagai isu yang diangkat.
Di tengah optimisme akan minat baca kalangan muda Indonesia, sosok Artie Ahmad, penulis buku Nyai Sadikem turut berkontribusi menghidupkan kembali sastra Indonesia melalui karya fiksi historis yang fenomenal. Novel fiksi berjudul "Nyi Sadikem", mengangkat profesi kuno "Gowok" dari sudut pandang seorang Noni Belanda, menjadi karya berhasil masuk dalam daftar panjang (longlist) Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Khatulistiwa Literary Award sendiri merupakan ajang penghargaan sastra bergengsi di Indonesia yang memberikan apresiasi bagi karya sastra terbaik.
Namun, siapa sangka jika di balik keindahan karya kesusastraan dan tajamnya narasi yang disuguhkan, Artie tak memiliki latar belakang pendidikan sastra? Ia justru sempat berprofesi sebagai buruh pabrik tekstil di Salatiga. Pengalaman hidup serta kondisi sosial di sekitarnya menimbulkan banyak keresahan yang Artie untuk menuangkan buah pemikiran dalam karya fiksi. Artie bagikan kisah di balik proses kreatifnya melalui wawancara eksklusif bersama IDN Times (24/6/26) secara daring.
1. Di balik proses penulisan novel Nyai Sadikem

Novel Nyai Sadikem adalah karya fiksi yang menyoroti kisah seseorang dengan profesi "Gowok", yakni perempuan yang mengajari laki-laki tentang seluk-beluk pernikahan dan seksualitas. Kisah ini mengangkat sudut pandang seorang Noni Belanda. Sebagai seorang Gowok, ia bertahan di tengah kerasnya aturan sosial, kondisi kemiskinan di sekitar, dan berbagai tragedi kelam yang menyelimuti hidupnya.
Kisah dalam novel yang dirilis pada 2025 lalu itu, sepenuhnya fiksi, termasuk pula karakter yang menghidupkan alur cerita. Artie juga mengaku di dunia nyata tak ada seorang Noni Belanda yang kemudian menjadi Gowok. Sebab, profesi tersebut identik dilakoni oleh perempuan Jawa. Gowok memang menjadi profesi yang tak banyak dikenal oleh masyarakat. Menurut Artie sendiri, pandangan masyarakat pun terpecah, ada yang melihat itu sebagai sebuah profesi, ada pula yang menganggap Gowok sebagai pekerjaan prostitusi.
Gowok merupakan fenomena sosial yang konon pernah hadir di tengah masyarakat pada masa lalu. Menurut Artie, praktik tersebut menyimpan sisi sejarah yang unik untuk diangkat dan didalami melalui karya sastra.
Ide profesi tersebut juga diakui oleh Artie ditemukan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Rasa penasaran terhadap profesi yang kini telah punah, mendorongnya untuk mencari berbagai referensi hingga mengembangkan gagasan novel Nyai Sadikem. Dalam novel teranyarnya, Artie turut berupaya menghadirkan tokoh Gowok dari perspektif perempuan, dengan eksplorasi pengalaman dan pemikiran karakter Nyai Sadikem.
Proses penulisan novel Nyai Sadikem memakan waktu yang cukup panjang karena materi riset dan literatur yang terbatas. "Saya terbentur untuk riset secara langsung. Itu kita sudah tidak bisa. Saya sudah tidak bisa mengakses karena dulunya gowok ini eksis di Karesidenan Banyumas, misalnya. Tetapi beberapa waktu lalu saya ke Purwokerto, terus saya juga tanya sama teman-teman yang dari sana, memang kalau untuk mencari langsung sosoknya kan sudah tidak ada," kisahnya.
Proses penulisan yang cukup panjang juga disebabkan oleh penyusunan alur dan pengembangan karakter. Seluruh riset dilakukan melalui studi literatur yang terbatas karena profesi yang diangkat dalam novel pernah terjadi di masa lalu, namun tidak lagi ada sosok Gowok di masa kini.
"Risetnya hanya riset literatur. Jadi riset literatur lewat tulisan-tulisan, semacam itu. Itu pun juga tidak banyak. Kemudian untuk memetakannya yang agak lama, memetakan bahwa cerita ini bagaimana, kemudian karakter perpindahan dari Elisabeth murni, kemudian dia berubah lagi menjadi Nyai Sadikem, itu kan membutuhkan waktu penyusunan," tambah Artie.
2. Menyuarakan keresahan dan problematika perempuan dalam Nyai Sadikem

Nyai Sadikem bukanlah buku pertama Artie. Sebelumnya, ia aktif menulis karya fiksi yang mengangkat isu perempuan dan menyoroti persoalan sosial yang dihadapi dari generasi ke generasi. Sejak novel Sunyi di Dada Sumirah terbit pada tahun 2018, Artie mengaku kian intens mengangkat problematika, sudut pandang, dan keresahan perempuan.
"Karena saya pikir isu-isu mengenai perempuan itu bukan hanya sekadar relate, tetapi ada sesuatu yang seolah-olah ini rantai yang terus terjalin. Nah, di Nyai Sadikem pun, kemudian saya membawakan spirit tentang merawat kehidupan yang sebenarnya. Spirit bertahan, bagaimana si tokoh ini struggling, si tokoh yang sebenarnya menginginkan mati, tetapi kemudian dia menolak. Bukan menolak mati, tetapi dia kemudian lebih memilih bertahan untuk tetap hidup. Spirit untuk merawat kehidupan, kemudian spirit untuk bertahan dan merawat," ujarnya.
Artie mengaku novel-novelnya yang lain seperti Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang juga menghadirkan pesan untuk merawat dan saling berbagi kehidupan. Semangat yang sama turut dihadirkan dalam Nyai Sadikem. Melalui tokoh utamanya, Artie ingin menyampaikan bahwa perempuan memiliki daya dan kekuatan untuk bertahan, bangkit, hingga semangat tetap menjalani kehidupan dengan tegar di tengah berbagai tantangan.
Artie menyampaikan pesan yang hendak disuarakan dalam karya terbarunya, "Menjadi seorang perempuan bisa hidup dengan berdikari, kemudian bisa memiliki kesempatan-kesempatan yang dianggap sudah nyaris mati. Yaitu dia, saya memiliki semacam pemikiran bahwa apa yang kita posisikan sebagai perempuan adalah ya perempuan itu bisa apa saja."
Meski berlatar masa lampau, konflik sosial yang diangkat dalam novel Nyai Sadikem tetap relevan dengan kondisi saat ini. Melalui kisahnya, Artie memotret berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga hingga kekerasan yang terus berulang dalam kehidupan sosial.
Lewat narasi yang menyoroti tokoh dengan latar profesi yang berkaitan dengan seksualitas, Artie juga ingin membangun kesadaran bahwa perempuan yang berada dalam situasi tersebut, tidak selalu hidup dalam kemerdekaan atau kebahagiaan. Sebaliknya, mereka kerap mengalami keterkungkungan dan kehilangan kebebasan atas hidupnya.
"Saya melihat bahwa perempuan ini sangat dekat dengan stigma. Secara lingkungan saya, secara umum atau secara global, kita tuh perempuan, saya lihat masih begitu lekat dengan stigma-stigma yang ada. Misalnya permasalahan bagaimana kemudian perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap, perempuan hanya memiliki sekadar porsi minor di dalam banyak hal. Semacam itu," ujarnya.
Menurut Artie, perempuan memiliki perspektif yang berbeda ketika menulis pengalaman tentang dirinya sendiri atau sesama perempuan. Sebab, perempuan dianggap lebih memahami dinamika yang terjadi secara langsung. Karena itu, narasi tentang tokoh perempuan yang ditulis oleh perempuan sering kali menghadirkan sudut pandang yang lebih dekat dengan realitas pengalaman mereka.
"Nah, untuk kemerdekaan perempuan, tentang keleluasaan bagaimana perempuan lepas dari stigma, itu memang saya rasa tetap harus dibicarakan. Harus tetap dibicarakan, harus dituliskan untuk masyarakat luas. Entah itu dengan, oleh penulis perempuan ataupun penulis laki-laki," Artie membagikan pandangannya terkait mengapa perempuan menulis tentang perempuan.
3. Bicara sastra dengan Artie Ahmad

Perkembangan sastra Indonesia tampaknya mendapatkan angin segar berkat keterlibatan generasi muda dan peran media digital yang menguat. Artie juga menyambut tren ini dengan optimis. Menurutnya, semakin banyak anak muda, terutama Generasi Z, yang kembali tertarik membaca karya sastra. Fenomena tersebut juga didukung oleh media sosial yang membuat diskusi mengenai buku semakin mudah dijangkau oleh pembaca.
"Saya cukup senang melihat bagaimana perkembangan sastra untuk waktu-waktu ini. Karena saya lihat sudah ada angin segar bahwa anak-anak Gen Z utamanya, mereka yang melek media sosial, kemudian mereka juga mulai tertarik lagi kembali ke buku-buku sastra," tuturnya.
Tren kembali ke buku fisik juga kian populer, menunjang optimisme tersebut. Selain itu, kehadiran berbagai karya sastra turut menjadi pemicu semangat baca generasi muda serta meningkatnya ketertarikan pembaca terhadap genre historical fiction. Melalui cerita fiksi berlatar sejarah, pembaca dapat memahami konteks masa lalu sekaligus melihat keterkaitannya dengan berbagai persoalan yang masih relevan hingga saat ini.
"Saya senang dan menyenangkan melihat bacaan-bacaan yang beragam. Saya rasa bukan hanya sastra berat, tapi juga novel-novel pop juga mereka bicarakan sampai ke sastra," ujarnya.
Di sisi lain, Artie menyadari peningkatan minat baca juga bergerak selaras dengan diskusi buku yang mendorong individu untuk menafsirkan sebuah karya. Artie sebagai penulis, berpandangan bahwa penilaian maupun interpretasi sepenuhnya menjadi hak pembaca. Ia menganggap perbedaan sudut pandang sebagai dinamika yang wajar dalam dunia sastra. Justru hal semacam ini dapat menjadi kesempatan untuk berdialog.
"Sebenarnya ketika buku itu di tangan pembaca, maka apa pun penilaiannya itu sudah sudah di tangan pembaca. Saya sebagai penulis melihatnya itu dinamika yang wajar sebenarnya (jika pembaca menafsirkan secara berbeda dengan maksud penulis). Memang ada hal-hal yang terkadang penulis itu bisa kembali menjelaskan kalau ada satu forum, penulis berbicara, kemudian pembaca bertanya, lalu penulis menjawab, dalam artian menerangkan lah," tambahnya.
4. Perjalanan Artie Ahmad dari buruh pabrik hingga Kusala Sastra Khatulistiwa

Karya-karyanya kini dinikmati oleh banyak pembaca, bahkan diapresiasi secara nasional. Namun, jika menengok ke belakang, Artie sebenarnya tidak pernah menempuh pendidikan formal di bidang sastra maupun sekolah penulisan kreatif. Ia justru mengawali perjalanan kariernya sebagai pekerja di sebuah pabrik tekstil di Salatiga.
Di tengah kesibukannya sebagai buruh pabrik, Artie tetap menyempatkan diri untuk menulis. Ia menjalani dua peran sekaligus, sebagai karyawan dan penulis. Meski hal itu berarti ia harus menghadapi berbagai keterbatasan, terutama waktu. Kehidupan sebagai buruh pabrik tentu bukan kondisi yang mudah untuk mengejar mimpi menjadi penulis. Meski demikian, Artie tidak menyerah. Baginya, menulis menjadi ruang untuk menuangkan gagasan, pengalaman, dan kegelisahan yang ia rasakan.
"Saya sebenarnya tidak memiliki pendidikan atau latar kepenulisan. Saya sekolah hanya sampai SMK dan itu akuntansi. Saya tidak berkuliah. Kemudian lulus SMK, saya bekerja. Saya langsung bekerja di sebuah pabrik. Jadi saya buruh pabrik dulu," ceritanya.
Artie menambahkan, "Di sela-sela saya menjadi buruh pabrik, yang bekerja dalam tiga shift, jadi shift pagi, siang, malam, itu kan berganti-gantian, saya juga menulis. Jadi, saya menjadi buruh dan juga menjadi penulis saat itu. Kemudian saya menerbitkan buku, dulu buku remaja awalnya. Tahun 2018, ketika saya masih bekerja sebagai buruh pabrik, saya menerbitkan buku pertama kali itu di Buku Mojok. Yang genrenya sudah bukan remaja lagi, genrenya sudah mulai masuk ke sastra populer."
Ketekunan itu membuahkan hasil. Pada tahun 2018, Artie merilis karya sastra populer pertamanya lewat novel Sunyi di Dada Sumirah. Bisa dikatakan, momen itu menjadi titik balik dalam perjalanan kepenulisan Artie yang kian aktif menerbitkan berbagai narasinya di media massa.
"Setelah tujuh tahun saya memburuh, pabrik mengalami pailit. Akhirnya saya keluar, pindah ke Jogja, terus mendirikan toko buku di sana. Kemudian di situlah saya mulai tidak bekerja selain mengurus toko buku, pastinya masih menulis terus. Nah, menjelang tahun 2021 akhir, saya kembali lagi ke Salatiga, merawat ibu saya," ia berkisah.
Masa-masa merawat sang ibu menjadi periode yang berat sekaligus penuh makna bagi Artie. Di tengah kondisi tersebut, ia memanfaatkan sisa waktu untuk menulis novel teranyar, Nyai Sadikem. Tak lama setelah ibunya berpulang, novel ini lahir dan menjadi salah satu karya fenomenal yang disukai generasi muda. Menulis di tengah keterbatasan, Artie buktikan dapat berkarya dan mendobrak batasan, salah satunya dengan mendapat apresiasi sebagai daftar panjang (longlist) Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori novel.
5. Artie Ahmad: Nh. Dini adalah guru saya dalam menulis saya

Di balik sosok Artie Ahmad yang telah melahirkan sejumlah karya sastra populer, ia mengaku memiliki panutan yang banyak mendorong perkembangan karier kepenulisannya. Artie menyebut sastrawan senior Nh. Dini sebagai sosok inspiratif untuknya. Artie mengaku gemar membaca karya-karya Nh. Dini hingga akhirnya ia berkesempatan untuk belajar menulis dan menyerap informasi secara langsung dari penulis buku "Pada Sebuah Kapal" tersebut.
"Nh. Dini adalah guru saya dalam menulis saya. Diawali saya membaca buku-buku beliau, kemudian akhirnya kami terkoneksi gitu. Di beberapa tahun sebelum beliau meninggal, saya sempat belajar menulis dengan beliau. Kami sering bertemu. Sebulan ada satu atau dua kali pertemuan," katanya.
Dari Nh. Dini, Artie mempelajari bahwa sebuah tulisan tidak cukup hanya indah secara bahasa, tetapi juga harus memiliki tujuan dan makna. Baginya, pesan itu yang paling membekas sehingga membentuk karakter buku karya Artie hingga saat ini.
"Dari beliau pula, saya memahami bahwa menulis itu harus ada tujuannya. Nah, beliau itu pernah mengatakan bahwa kamu tidak bisa menulis hanya indah bentuknya saja. Tetapi, harus ada tujuan dan maknanya. Kalau cuma bagus saja bentuknya, dalam artian mungkin rangkaian kalimat-kalimatnya, tetapi tidak ada tujuannya, tidak ada isinya, itu sama saja kamu memberikan seseorang sebuah kado, bagus bungkusnya tapi tidak ada isinya," Artie mengungkapkan kembali pesan Nh Dini dalam salah satu diskusi mereka.
Selain itu, Artie juga memahami bahwa kemampuan menulis bukanlah bakat yang muncul begitu saja. Dari gurunya, ia menyadari bahwa keterampilan menulis merupakan kemampuan yang dibentuk melalui proses latihan. Karena itu, kemampuan tersebut perlu terus diasah dan dikembangkan melalui praktik yang konsisten.
Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang telah dilakoni Artie selama beberapa tahun ke belakang, ia juga mengajak anak muda untuk tidak ragu membaca buku apa pun. Menurutnya, kebiasaan membaca akan berkembang secara alami seiring waktu. Selain itu, bagi individu yang tertarik untuk terjun ke dunia kesusastraan, Artie juga berpesan agar tidak menunggu merasa sempurna untuk mulai berkarya. Ia mendorong generasi muda untuk memiliki keberanian dalam berkarya.
"Kalau generasi muda suka baca, baca apa saja yang kalian suka. Jadi, baca apa saja yang dirasa cocok dengan mereka. Jadi tidak perlu kemudian malu, 'aku mau baca ini, sedangkan teman-temanku baca yang lebih wah', misalnya seperti itu. Tidak. Baca saja. Nanti akan ada perkembangan-perkembangan yang lainnya. Jadi, baca apa saja dulu dan kalaupun mau belajar menulis, tulis saja dulu apa yang ingin ditulis. Jangan malu, jangan takut, kemudian memang nanti seiring berjalannya waktu, kita akan bisa memilah."
Perjalanan Artie menghadirkan kisah inspiratif yang dapat mendorong generasi muda untuk terus berkarya dan berdaya di bidang apa pun yang mereka tekuni. Karya terbaik lahir dari konsistensi, latihan yang berkelanjutan, serta kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Namun, yang tak kalah penting, mengejar mimpi membutuhkan keberanian untuk memulai dan melepaskan keraguan yang sering kali menjadi penghalang langkah pertama.









![[QUIZ] Gaya Belajar Ungkap Kamu Dominan atau Penengah](https://image.idntimes.com/post/20250609/ciri-kamu-terlalu-dominan-dalam-hubungan-mudah-tersinggung.jpg)

![[QUIZ] Tes Singkat Ungkap Kamu Bucin, Clingy, atau Cuek dalam Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20230106/pexels-photo-7689450-5b377336e377e8611469c3affdbe9bd9-d187118a13bad37d085eebd306898587.jpeg)





![[QUIZ] Dari Pilihan Zodiak, Ini Tipe Orang yang Cocok denganmu](https://image.idntimes.com/post/20260728/pexels-budgeron-bach-6532617_61eda809-d059-4d03-9967-341d52e6f72f.jpg)
![[QUIZ] Dari Cara Kamu Chat, Terungkap Kamu Kesepian atau Bahagia](https://image.idntimes.com/post/20250504/phone-325-0e8b37c2041eb6603e360cf623336dc0-96abf03d0d675475a12ee9ddb74b1729.jpg)


