5 Buku Survival untuk Perempuan yang Hidup dalam Sistem Patriarki

The Gift of Fear membahas pentingnya mempercayai intuisi dan rasa takut untuk mengenali potensi bahaya.
Men Who Hate Women mengungkap pola pikir pria antifeminis dan tanda-tanda kebencian terhadap perempuan.
Pornography: Men Possessing Women mengkritik industri pornografi dan kaitannya dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan.
Kalau harus menyebut satu topik yang jarang diajarkan kepada perempuan sepanjang hidupnya, maka kemampuan bertahan hidup di tengah sistem patriarki adalah jawabannya. Nyatanya, sistem ini membatasi, mengurung, dan membahayakan perempuan, tetapi terus dinormalisasi dan perempuan dipaksa untuk menerimanya sebagai sebuah takdir.
Ketimbang melawan dan memperbaiki yang salah, kita kerap mengharuskan perempuan untuk beradaptasi dan berkompromi dengan sistem tersebut. Alhasil, perempuan lagi yang dirugikan. Mulai dari terjebak dalam hubungan toksik, memendam trauma dan amarah seorang diri, sampai jadi target kekerasan. Sebagai bekal untuk dirimu sendiri atau mungkin putrimu yang beranjak besar, ini lima buku survival untuk perempuan dalam masyarakat patriarki.
1. The Gift of Fear (Gavin de Becker)

The Gift of Fear karya Gavin de Becker (dok. Hachette/The Gift of Fear) The Gift of Fear adalah buku survival yang berargumen kalau manusia sebaiknya tidak mengabaikan intuisi dan rasa takutnya. Buku ini ditulis De Becker lewat pengalaman sejumlah penyintas kasus kekerasan yang ditanganinya selama bekerja. Ia memberikan beberapa contoh bagaimana insting bisa menyelamatkan seseorang. Mengingat kebanyakan korban adalah perempuan dan pelaku kekerasannya adalah laki-laki, ia pun menyelipkan beberapa isu gender yang cukup visioner seperti standar ganda dalam masyarakat ketika melihat sikap pria dan perempuan. Hanya saja, De Becker tidak banyak membahas bagaimana psikologi seseorang yang sudah terjebak dalam sirkel kekerasan berulang dan dependensi kompleks terhadap pelaku.
2. Men Who Hate Women (Laura Bates)

Men Who Hate Women karya Laura Bates (dok. Simon and Schuster/Men Who Hate Women) Dalam buku Men Who Hate Women, Laura Bates mengajak kita menyelami pikiran para pria antifeminis. Forum-forum internet yang dibongkarnya cukup mencengangkan, ia seolah menyadarkan kita betapa butanya pria terhadap privilese yang mereka miliki. Tak sedikit dari mereka yang juga mewajarkan sikap dan perkataan yang menganggap perempuan hanya seonggok daging tanpa pilihan dan agensi. Buku ini setidaknya bisa mengajarkan perempuan untuk bisa lebih awal melihat bendera merah yang tersemat di kepribadian pria-pria yang mungkin akan jadi calon pasangan mereka.
3. Pornography: Men Possessing Women (Andrea Dworkin)

Pornography: Men Possessing Women karya Andrea Dworkin (dok. Penguin/Pornography: Men Possessing Women) Dikenal lewat pilihan bahasanya yang penuh amarah dan langsung pada poinnya, Dworkin menulis Pornography sebagai kritik atas industri seks yang pada akhirnya melanggengkan supremasi pria, tak peduli sejauh apa perempuan berusaha membalik keadaan. Memang ada beberapa bagian yang jadi sorotan kritikus dan pembaca tulisan ini. Di antaranya soal beberapa poin yang bertolak belakang dengan gerakan emansipasi seksual yang diperjuangkan feminis. Namun, banyak lainnya cukup masuk akal dan bisa jadi pembuka wawasan serta bahan diskusi lebih jauh.
4. Perempuan di Titik Nol (Nawaal el Shadawi)

Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi (dok. Pustaka Obor Indonesia/Perempuan di Titik Nol) Perempuan di Titik Nol (Woman at Point Zero) adalah sebuah memoar tipis yang pengaruhnya cukup dahsyat. Buku ini ditulis dari sudut pandang Firdaus, pekerja seks yang sedang menanti jadwal eksekusi mati atas kasus pembunuhan yang dilakukannya. Ketika diwawancara seorang jurnalis, ia kemudian menceritakan masa lalunya yang pahit. Dilecehkan sejak kecil oleh orang terdekat dan sempat jadi korban perbudakan, Firdaus punya alasan valid mengapa ia akhirnya memilih jalan hidupnya yang mungkin dipandang orang tak terhormat. Kamu bisa tak setuju dengan keputusan-keputusan Firdaus, tetapi kamu tak akan bisa mengelak kalau banyak pria yang masih melihat perempuan sebagai objek pemuas nafsu belaka.
5. Masculine Domination (Pierre Bourdieu)

Masculine Domination karya Pierre Bourdieu (dok. Stanford University Press/Masculine Domination) Dalam Masculine Domination, Bourdieu berargumen bahwa ketimpangan gender itu sudah mengakar kuat dan dianggap natural sepanjang peradaban manusia. Ini membuat manusia tak lagi berpikir soal asimetri yang ada, tetapi secara alamiah melakoninya sebagai sebuah kewajaran yang sulit ditampik. Saking wajarnya, dominasi pria atas gender lain pun merasuk sampai ke ranah institusional dan bahkan gelombang kedua feminisme tidak bisa mengubah struktur yang ada. Kecuali ada perubahan berarti sejak level keluarga dan pendidikan dini.
Hidup di masyarakat patriarki sebagai perempuan memang gak mudah. Kekhawatiran dan tuntutan kita kerap dianggap sebagai reaksi berlebih. Mengubah keadaan bukan proses yang instan, lihat saja apa yang terjadi sekarang. Ketika perempuan lebih melek haknya, gender dominan sering kali tak mau kalah. Namun, ini bukan alasan untuk berhenti mencoba lebih peka dan berani menggugat. Buku-buku tadi semoga bisa jadi pedomanmu menghadapi realitas pahit tersebut.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















