Ilustrasi menyendiri (pexels.com/Hồng Thắng Lê)
Banyak orang terjebak dalam standar kesempurnaan yang tidak realistis. Padahal, keinginan untuk selalu sempurna justru menjadi salah satu pemicu stres terbesar. Menurut American Psychological Association (APA), “perfectionism is linked to higher levels of stress, anxiety, and burnout.”
Artinya, semakin tinggi standar yang tidak realistis, semakin besar risiko kelelahan mental. Mengubah pola pikir dari "harus sempurna" menjadi “cukup baik” bisa membantu kamu lebih menghargai proses. Ini bukan berarti menurunkan kualitas, tapi memberi ruang untuk bernapas.
“Perfeksionisme tidak hanya mengasingkan kita dari diri kita sendiri, dalam arti bahwa kita mencoba menjadi orang lain, seseorang yang sempurna, tetapi juga mengasingkan kita dari orang lain dalam mengejar standar yang lebih tinggi atau mengungguli orang lain," kata psikolog sosial Thomas Curran, PhD dikutip dari APA.
Selain itu, media sosial sering membuat seseorang merasa tertinggal karena terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Mengurangi perbandingan sosial membantu kamu fokus pada perjalanan sendiri. Setiap orang punya waktu dan proses yang berbeda, jadi tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar orang lain.