6 Cara Menghentikan Kebiasaan Mengungkit Masa Lalu saat Marah

- Sadari bahwa mengungkit masa lalu bukan solusi
- Kenali pemicu emosimu, bukan cuma isi pertengkarannya
- Beri jeda sebelum bicara saat sedang emosi
Kamu mungkin familiar dengan hal ini: awalnya hanya ribut soal hal sepele, tapi kemudian melebar ke masalah lama yang seharusnya sudah selesai? Mulai dari kesalahan bertahun-tahun lalu, janji yang pernah dilanggar, sampai kejadian yang bahkan sudah pernah dimaafkan. Saat emosi naik, masa lalu sering jadi senjata paling gampang dikeluarkan untuk menyalurkan emosi. Padahal, kebiasaan seperti ini sebenarnya tidak sehat, lho.
Mengungkit masa lalu mungkin terasa melegakan pada awalnya, seolah kita punya amunisi tambahan untuk memenangkan argumen. Namun, setelah kemarahan mereda, yang tersisa justru rasa capek, bersalah, dan hubungan yang makin renggang. Kebiasaan ini jarang menyelesaikan masalah, malah sering menambah luka baru. Untuk itu, kebiasaan ini harus disadari dan dihentikan sesegera mungkin. Ini dia cara menghentikan kebiasaan mengungkit masa lalu saat marah.
1. Sadari bahwa mengungkit masa lalu bukan solusi

Mengungkit masa lalu sering disamarkan sebagai “sekadar mengingatkan” atau "supaya tidak kejadian lagi". Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah pelampiasan emosi. Masalah yang sedang dibahas jadi kabur karena fokus bergeser ke hal-hal lama. Kalau dipikir-pikir, mengungkit kesalahan masa lalu sama sekali tidak akan mengubah apa pun. Jadi, alih-alih memperbaiki situasi sekarang, kamu justru mengorek luka lama yang hampir sembuh.
2. Kenali pemicu emosimu, bukan cuma isi pertengkarannya

Sering kali, yang membuat kita mengungkit masa lalu bukan topik pertengkaran itu sendiri, tapi emosi yang menumpuk. Bisa karena merasa tidak didengar, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil. Coba perhatikan pola: kapan kamu paling sering menarik masa lalu ke dalam konflik? Apakah saat merasa disudutkan, tidak diperhatikan, atau saat pasangan terlihat defensif? Mengenali pemicu ini penting supaya kamu bisa berhenti sebelum kebiasaan itu muncul.
3. Beri jeda sebelum bicara saat sedang emosi

Kendati terdengar klise, tapi memberi jeda memang krusial. Saat marah, kita tidak bisa berpikir dengan jernih. Kita cenderung mengatakan atau melakukan sesuatu yang memuaskan ego. Kalau kamu sadar dirimu adalah tipe yang mudah mengungkit masa lalu, biasakan diam sejenak saat marah. Tarik napas, minum air, atau alihkan perhatian sebentar. Tidak semua konflik harus diselesaikan saat emosi masih panas.
4. Fokus pada satu masalah, jangan borong semua

Salah satu alasan konflik jadi panjang adalah karena terlalu banyak hal dibahas sekaligus. Padahal, satu masalah saja sebenarnya sudah cukup untuk dibicarakan. Kalau terlalu banyak yang dibahas, akhirnya kamu jadi hilang fokus dan bingung mau menyelesaikan yang mana dulu. Solusinya, kalau pertengkaran mulai melebar, latih diri untuk berkata, “Yang ini dulu kita bahas.” Kalau masalah lama memang belum selesai, jadikan topik terpisah di lain waktu, bukan dilempar saat marah.
5. Ungkapkan kebutuhan emosionalmu secara jujur

Kadang, emosi yang meluap dan kata-kata menyakitkan hanyalah bungkus yang menutupi kebutuhan emosional yang tidak tersampaikan. Bisa jadi kamu sebenarnya ingin dimengerti, divalidasi, atau diyakinkan. Alih-alih berkata, “Dari dulu kamu emang selalu gitu,” coba ubah jadi, “Aku lagi butuh didengar sekarang.” Memang tidak mudah, tapi ini jauh lebih sehat. Lagi pula, pasanganmu akan sangat menghargai kejujuran seperti ini daripada emosi yang tiba-tiba meledak.
6. Ingat bahwa tujuannya bukan untuk menang sendiri

Seringkali, orang lupa bahwa diskusi atau pun debat harusnya digunakan untuk mencari solusi, bukannya untuk menang sendiri. Mengungkit masa lalu sering digunakan untuk memenangkan argumen dalam konflik, bukan untuk dipahami. Kalau tujuanmu ingin hubungan membaik, mengungkit masa lalu justru sering jadi bumerang. Namun, kalau tujuannya sekadar melampiaskan emosi, yang ada kamu dan pasanganmu malah akan semakin jauh.
Cara menghentikan kebiasaan mengungkit masa lalu saat marah bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Ini soal memilih waktu dan cara yang lebih tepat. Marah itu manusiawi, tapi menjaga agar amarah tidak merusak hubungan adalah keterampilan yang bisa dilatih pelan-pelan.



















