Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi sekelompok milenial yang berkumpul bersama (pexels.com/Yusuf Timur Çelik)
ilustrasi sekelompok milenial yang berkumpul bersama (pexels.com/Yusuf Timur Çelik)

Intinya sih...

  • Keberlanjutan bukan tren, tapi identitas. Milenial dan Gen Z memandang keberlanjutan sebagai gaya hidup yang diinternalisasi, bukan sekadar tren untuk diikuti.

  • Uang yang mengalirkan nilai. Generasi muda menolak paradigma lama bahwa uang adalah tujuan akhir, melainkan medium untuk menyebarkan nilai.

  • Transparansi sebagai mata uang baru. Generasi ini menuntut transparansi, konsistensi, dan hasil nyata dalam setiap tindakan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, Milenial dan Gen Z Indonesia tumbuh dengan kesadaran yang berbeda. Mereka bukan lagi generasi yang mengejar sukses semata dengan standar lama, tetapi generasi yang berani menyusun ulang peta nilai kehidupan. Mulai dari cara memandang harta, mendefinisikan sukses, hingga membangun warisan, setiap pilihan mereka adalah cerminan dari identitas sekaligus keberanian untuk hidup sesuai nilai yang diyakini.

Keberlanjutan, keadilan sosial, dan kesadaran finansial menjadi fondasi baru dalam keseharian. Bahkan, dalam keputusan sederhana seperti membeli kopi, memilih pakaian, atau menentukan karier, generasi ini selalu menimbang: apakah pilihan ini sejalan dengan nilai, berdampak baik pada orang lain, dan menyisakan jejak positif bagi bumi? Dari situlah, lahir generasi yang bukan sekadar konsumen, tetapi arsitek masa depan.

1. Keberlanjutan bukan tren, tapi identitas

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (dok. IDN)

Keberlanjutan, yang dulu dipandang sebagai tujuan khusus atau idealis, telah menjadi prinsip perilaku inti. Namun, Milenial dan Gen Z memandang keberlanjutan bukan sebagai slogan sesaat, tetapi sebagai identitas hidup. Mereka memilih produk yang ramah lingkungan, berpihak pada proses produksi etis, serta memberikan dampak jangka panjang.

Tren thrifting, preloved, dan konsumsi sirkular menjadi cara mereka menolak budaya boros. Hal ini bahkan ditegaskan kembali dalam Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 yang dibuat oleh IDN Times.

“Keberlanjutan adalah gaya hidup yang diinternalisasi, bukan sekadar tren untuk diikuti.”

Senada dengan hal tersebut, Cempaka Asriani, Pendiri SARE Studio juga menuturkan pandangan serupa. Menurutnya, keberlanjutan sejati bukan tentang kekurangan, melainkan tentang membuat pilihan yang selaras dengan nilah dan mampu memberikan dampak.

“Kita telah dikondisikan untuk berpikir bahwa kita selalu membutuhkan lebih, tetapi keberlanjutan sejati bukanlah tentang kekurangan, melainkan tentang membuat pilihan yang disengaja dan selaras dengan nilai-nilai kita. Setiap pembelian memberikan dampak pada orang-orang yang membuatnya, pada sumber daya yang digunakan untuk menciptakannya, dan pada dunia yang kita tinggalkan. Tujuannya bukan untuk sepenuhnya berhenti mengonsumsi, tetapi untuk beralih ke produk yang tahan lama, mendukung produksi yang etis, dan berkontribusi pada cara hidup yang lebih bertanggung jawab,” jelasnya.

2. Uang yang mengalirkan nilai

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (dok. IDN)

Generasi muda menolak paradigma lama bahwa uang adalah tujuan akhir. Bagi mereka, uang merupakan medium untuk menyebarkan nilai.

Investasi hijau, produk perbankan etis, hingga startup sosial pun menjadi pilihan yang selaras dengan visi jangka panjang. Uang, dalam tangan generasi ini bukan sekadar angka, tetapi pernyataan moral.

“Keamanan tidak dibangun dengan menimbun barang, melainkan dibangun di atas kejelasan, etika, dan niat jangka panjang,” imbuh Cempaka.

3. Transparansi sebagai mata uang baru

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (dok. IDN)

Generasi ini tidak mudah percaya pada klaim tanpa bukti. Mereka menuntut transparansi, konsistensi, dan hasil nyata. Kampanye #BijakBerplastik Danone-AQUA yang berhasil mengumpulkan lebih dari 31.500 ton sampah plastik dan melibatkan 25.000 pemulung secara formal adalah contoh bagaimana tindakan membangun kepercayaan.

Inisiatif seperti SAMTAKU yang menjangkau 3,8 juta siswa, atau program GRADASI di pesantren dan masjid, menjadi bukti nyata bahwa keberlanjutan tidak berhenti di kota besar, tetapi masuk hingga ke akar komunitas. Dalam keterangan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026, pun ditegaskan, “Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar janji, mereka ingin melihat langkah konkret”.

4. Redefinisi kesuksesan: Dari status ke makna

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (dok. IDN)

Milenial dan Gen Z merevolusi makna kesuksesan. Data menunjukkan bahwa Gen Z menempatkan pengembangan diri dua kali lebih tinggi daripada Milenial, menunjukkan adanya pergeseran generasi menuju pertumbuhan internal dan pengembangan diri. Ini bukan penolakan terhadap ambisi, melainkan pendefinisian ulang tentang apa itu ambisi. Sementara itu, prioritas Milenial yang lebih kuat terhadap hubungan menunjukkan pengalaman hidup mereka dalam menyeimbangkan hubungan dan tanggung jawab.

Mereka menolak standar lama yang mengukur sukses dari jabatan dan materi, lalu menggantinya dengan nilai keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan kontribusi sosial. Hal inilah yang juga menyatukan kedua generasi tersebut, di mana mereka tidak lagi mengejar definisi kesuksesan yang kaku. Sebaliknya, mereka memilih jalan yang membuat mereka merasa selaras, bukan sekadar berhasil.

Bagi Gen Z, sukses adalah ekspresi diri yang otentik. Sedangkan, Milenial lebih menekankan harmoni keluarga dan relasi.

“Sukses bukan lagi tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang apa yang ditinggalkan,” jelas keterangan singkat dalam Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.

Pada salah satu informasi yang ada, dijelaskan bila prioritas hidup utama generasi Milenial dan Gen Z Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan dan agak berbeda. Berikut penuturannya:

  • Karier: Milenial 30 persen, Gen Z 35 persen

  • Hubungan: Milenial 31 persen, Gen Z 21 persen

  • Keseimbangan Hidup: Milenial 22 persen, Gen Z 19 persen

  • Pengembangan Diri: Milenial 7 persen, Gen Z 14 persen

  • Gaya Hidup/Pengalaman: Milenial 5 persen, Gen Z 7 persen

  • Kontribusi: Milenial 5 persen, Gen Z 4 persen

5. Tradisi yang tidak hilang, hanya berubah wajah

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (instagram.com/idn.official)

Meski modern, generasi muda tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi. Mereka menyesuaikan nilai lama dengan cara baru. Dalam keluarga, pengasuhan bersama dan relasi egaliter menjadi norma baru.

Dalam spiritualitas, doa tetap penting, tetapi hadir dalam bentuk digital berupa kajian online, grup doa di aplikasi, atau refleksi singkat di media sosial. Menurut sejumlah responden dalam Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026, tercatat bahwa “Tradisi tidak hilang, ia hanya berubah wajah agar tetap relevan. Orang-orang tidak menolaknya, mereka mempertanyakan bagian mana yang masih terasa benar”.

6. Gaya hidup digital yang terhubung dengan nilai

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (instagram.com/idn.official)

Teknologi digital menjadi bagian dari keseharian, namun generasi ini menggunakannya secara kritis. Media sosial bukan sekadar hiburan, tetapi wadah untuk advokasi, edukasi, dan penyebaran nilai.

Mereka juga cermat dalam belanja online. Produk lokal, brand kecil, dan bisnis ramah lingkungan sering jadi pilihan.

“Setiap klik beli bukan sekadar transaksi, melainkan pernyataan nilai.”

7. Komunitas sebagai rumah baru

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (instagram.com/idn.official)

Generasi ini menemukan diri mereka dalam komunitas. Entah itu komunitas kreatif, olahraga, atau sosial, ruang tersebut menjadi tempat validasi nilai dan sarana kontribusi.

Komunitas tidak hanya mempererat pertemanan, tetapi juga memperkuat gerakan kolektif. Alih-alih meninggalkan tradisi, banyak anak muda memperluasnya dengan menerapkan literasi digital, praktik keberlanjutan, atau keterampilan kreatif baru untuk memperkuat komunitas mereka.

“Nilai menjadi nyata ketika dijalankan bersama, bukan sendirian,” demikian salah satu kalimat kunci dalam dokumen.

8. Warisan baru: Hidup dengan tujuan

Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (dok. IDN)

Milenial dan Gen Z paham bahwa hidup tanpa tujuan adalah hidup yang rapuh. Karena itu, mereka memilih meninggalkan warisan berupa kontribusi sosial, etika, dan jejak baik bagi bumi. Warisan baru ini bukan hanya tentang materi, melainkan tentang niat dan konsistensi.

“Hidup yang berarti adalah hidup yang dijalani sesuai dengan nilai yang diyakini,” keterangan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.

Generasi Milenial dan Gen Z Indonesia telah menulis ulang makna hidup. Mereka menjadikan keberlanjutan, transparansi, dan kontribusi sosial sebagai kompas. Dari konsumsi hingga tradisi, dari komunitas hingga warisan, setiap langkah mereka adalah narasi baru tentang sukses dan tujuan hidup.

Mereka bukan sekadar generasi penerus, tetapi generasi pembentuk arah. Di tangan mereka, masa depan bukan lagi sekadar tentang status dan harta, melainkan tentang keberanian hidup dengan tujuan.

IDN menggelar Indonesia Summit 2025, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "Theme: Thriving Beyond Turbulence Celebrating Indonesia's 80 years of purpose, progress, and possibility". IS 2025 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2025 diadakan pada 27 - 28 Agustus 2025 di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta. Dalam IS 2025, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei dilakukan pada Februari sampai April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z.

Survei ini menjangkau responden di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.

Editorial Team