Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Antisipasi Jika BBM Naik, Ini Cara Tetap Tenang dan Berpikir Rasional
Ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Isu kenaikan harga BBM menimbulkan kekhawatiran finansial dan psikologis, sehingga masyarakat diimbau tetap tenang serta berpikir rasional menghadapi kemungkinan perubahan harga.
  • Langkah utama yang disarankan adalah menyusun prioritas keuangan, mengurangi pengeluaran non-primer, dan memperkuat dana darurat agar lebih siap menghadapi dampak kenaikan harga.
  • Masyarakat diminta menghindari panic buying, tetap tenang, serta menyiapkan rencana cadangan seperti menggunakan transportasi umum atau sistem kerja daring untuk menjaga kestabilan saat krisis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Isu kenaikan harga BBM sering memicu kekhawatiran bagi masyarakat. Kenaikan harga tidak hanya memengaruhi kondisi keuangan individu, namun juga berdampak pada kecemasan atau psikologis masyarakat. Wajar jika banyak orang mulai merasa khawatir akan isu kenaikan harga BBM, meski belum ada ketetapan terkait hal tersebut.

Artikel ini akan memberi pandangan dan kiat sederhana untuk menyikapi kenaikan harga BBM tanpa harus kehilangan kendali atas keuangan. Harapannya, perspektif ini juga memberi ketenangan dan pencerahan untuk berpikir lebih rasional jika kenaikan harga BBM benar-benar terjadi.

1. Menyusun prioritas keuangan

ilustrasi uang kertas (unsplash.com/@alexandermils)

Sebelumnya, pada 2014 pemerintah pernah mengumumkan kenaikan harga BBM. Masyarakat harus beradaptasi dan melakukan penyesuaian tarif bahan bakar yang akan berimbas pada kenaikan tarif listrik, sembako, transportasi dan lain-lain. Tentunya, ini juga akan mempengaruhi keuangan, di mana harga kebutuhan dapat mengalami kenaikan.

Langkah yang bisa dilakukan adalah mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu diperlukan, seperti belanja yang bersifat non-primer. Saat ini, fokus untuk memanfaatkan anggaran sesuai dengan prioritas dan tahan belanja yang tidak diperlukan. Perkuat dana darurat pada instrumen yang stabil.

2. Jangan panic buying, tetaplah berpikir rasional

Ilustrasi BBM (Unsplash/Dawn McDonald)

Panic buying terjadi ketika pembelian didorong oleh rasa takut akan kelangkaan barang. Kondisi ini sering muncul sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan kehabisan kebutuhan penting, termasuk BBM. Reaksi tersebut dipicu oleh stres, sehingga individu cenderung mengambil keputusan secara tidak rasional, terutama karena terpengaruh persepsi sosial dan perilaku orang lain di sekitarnya.

Ketakutan akan kehabisan barang atau potensi kenaikan harga BBM sering kali menjadi respons dari kecemasan yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, penting bagi individu untuk kembali mengambil kendali dengan mengelola rasa takut terhadap ketidakpastian, terutama yang muncul dari persepsi karena kehilangan kontrol. Fokus pada penjelasan atau arahan yang disampaikan pihak berwenang, jangan bertindak impulsif dan mengorbankan keputusan yang akurat.

3. Tenang dan pikirkan rencana cadangan

ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)

Bersikap bijak ketika mengambil keputusan, hindari pilihan impulsif. Jika terjadi kenaikan harga BBM, tetaplah tenang sebelum melakukan tindakan apa pun sehingga kamu bisa berpikir jernih. Dorongan untuk melakukan keputusan secara impulsif muncul karena ingin mencapai kepuasan sesaat. Kebiasaan ini sering menjadi akar masalah tanpa disadari.

Alih-alih ikut arus dan terburu-buru belanja, penting untuk memiliki rencana cadangan dalam menghadapi tekanan di masa krisis. Pikirkan persiapan yang matang dalam menghadapi situasi darurat untuk membantu menghindari keputusan yang kurang terkontrol.

Jadi ketika terjadi kenaikan harga BBM, tenanglah dan pikirkan rencana apa yang bisa dilakukan daripada ikut panic buying. Misalnya menggunakan transportasi umum, mengajukan sistem kerja secara daring, dan lainnya.

Masyarakat Indonesia tentu berharap tidak ada kenaikan harga BBM atau perubahan harga bahan pokok. Sebab, hal ini akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Editorial Team