Jamaah yang berbahagia, Islam mengajarkan kepada kita untuk menjaga lisan dan perilaku. Dalam konteks dunia maya, menjaga lisan juga berarti menjaga jari dalam berkomentar di media sosial. Apa yang kita ketik dan bagikan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
mâ yalfidhu ming qaulin illâ ladaihi raqîbun ‘atîd
Artinya: “Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf ayat 18)
Pada ayat ini, setiap umat Muslim diingatkan untuk selalu menjaga ucapannya, baik itu ucapan di bibir maupun di media sosial. Segala bentuk komentar negatif, ujaran kebencian, dan fitnah digital, tidak luput dari catatan yang dilakukan oleh malaikat. Untuk itu, puasa medsos menjadi salah satu cara menjaga diri dari dosa yang sering tidak kita sadari.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Man lam yada‘ qaulaz-zūri wal ‘amala bihi falaisa lillāhi hājatun fī an yada‘a tha‘āmahu wa syarābahu.
Artinya: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari).
Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga akhlak dan perilaku. Jika selama Ramadan kita masih menyebar hoaks dan terlibat perdebatan yang tidak bermanfaat, maka nilai puasa kita bisa berkurang. Puasa medsos menjadi salah satu bentuk nyata meninggalkan perkataan dan perbuatan yang sia-sia.
Jamaah sekalian, dengan mengurangi penggunaan media sosial, kita jadi memiliki waktu luang yang dapat digunakan untuk beribadah. Hati juga akan terasa lebih tenang karena tidak terpapar konten dan komentar yang sifatnya negatif. Puasa Ramadan pada akhirnya akan membawa kita pada kualitas puasa Ramadan yang lebih khusyuk.
Puasa medsos juga menjadi sarana introspeksi diri untuk kita semua. Kita dapat bertanya pada diri sendiri apakah selama ini media sosial sudah mendekatkan atau menjauhkan kita dari Allah. Jika jawabannya menjauhkan, maka Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperbaikinya.