Jemaah masjid yang dimuliakan Allah,
Bersyukur atas nikmat Allah merupakan perintah yang tegas dalam ajaran Islam. Syukur mencakup pengakuan dalam lisan, hati, dan pembuktian lewat amal dan perbuatan. Dalam konteks Ramadan, syukur dapat diwujudkan dengan menjaga puasa dan meningkatkan kualitas ibadah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
wa idz ta'adzdzana rabbukum la'in syakartum la'azîdannakum wa la'ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim ayat 7)
Pada ayat ini, disebutkan bahwa rasa syukur merupakan sebab bertambahnya nikmat manusia dari Allah SWT. Allah menjanjikan tambahan karunia bagi hamba yang mampu menjaga rasa terima kasih kepada-Nya. Oleh karena itu, ceramah tarawih 2026 malam kesembilan ini menjadi pengingat agar kita tidak termasuk golongan yang lalai dan kufur nikmat.
Selain ayat tersebut, Allah SWT juga menyampaikan pentingnya syukur dalam firmannya:
fadzkurûnî adzkurkum wasykurû lî wa lâ takfurûn
Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah ayat 152)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk mengingat-Nya, baik melalui lisan dengan melafalkan pujian, melalui hati dengan mengingat-Nya, dan melalui fisik dengan menaatinya. Jika umat Muslim mengingat-Nya, maka Allah akan melimpahkan dengan pahala, pertolongan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Di bulan Ramadan ini, nikmat waktu sangatlah berharga. Waktu yang Allah berikan hendaknya diisi dengan ibadah-ibadah, seperti tilawah atau melakukan amal saleh lainnya. Dengan memanfaatkan waktu secara optimal, rasa syukur akan terlihat dalam tindakan nyata.
Jemaah yang dirahmati Allah, bersyukur atas nikmat-Nya merupakan salah satu hal yang dapat menguatkan ketakwaan. Ketika seseorang menyadari besarnya karunia Allah pada dirinya, ia akan malu untuk berbuat maksiat. Rasa malu tersebut akan menjadi benteng yang menjaga diri dari perbuatan dosa.