Hari Menentang Pekerja Anak, Ini Panduan agar Tak Jadi Eksploitasi

- Hari Dunia Menentang Pekerja Anak diperingati tiap 12 Juni untuk mengingatkan pentingnya melindungi anak dari eksploitasi, termasuk oleh orangtua sendiri.
- Orangtua boleh mengajarkan kerja keras pada anak, tapi harus tanpa paksaan, dengan pembatasan jenis pekerjaan dan waktu agar pendidikan tetap jadi prioritas.
- Segala penghasilan anak wajib dikelola transparan, tetap dinafkahi penuh oleh orangtua, serta dijaga agar tidak disalahgunakan atau diambil alih pihak lain.
Anak-anak sangat rentan menjadi korban eksploitasi oleh orang-orang dewasa di sekitarnnya. Tidak terkecuali eksploitasi yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri. Kepolosan anak membuatnya tak tahu apa haknya apalagi kewajiban orangtua.
Anak yang seharusnya dilindungi dan dinafkahi oleh orangtua secara penuh malah dapat menjelma tulang punggung keluarga. Ini sebabnya terdapat World Day Against Child Labour atau Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang jatuh pada tanggal 12 Juni. Namun, apakah orangtua tidak boleh mengajarkan arti kerja keras pada anak?
Tentu saja boleh bahkan sangat dianjurkan. Setiap hal positif yang diajarkan orangtua pada anak akan menjadi bekal seumur hidupnya. Orangtua bisa memakai panduan berikut agar semangat mengajari anak tentang kerja keras tidak berujung pada eksploitasi.
1. Pengajaran secara lisan sampai anak cukup usia untuk bekerja

Mengajarkan makna kerja keras pada anak usia sekolah dasar atau lebih kecil lagi memang tidak mudah. Sebagai awalan, kamu dan pasangan bisa fokus ke pengajaran secara lisan dulu. Caranya dapat diselipkan ketika kalian menceritakan pekerjaan sendiri.
Seperti ayah dan ibu harus bekerja keras agar anak dapat bersekolah setinggi-tingginya. Maksud bekerja keras ialah seperti aktivitas sehari-hari kalian yang selama ini dilihat oleh anak. Kalian kudu berangkat kerja pagi sekali dan kadang pulang agak malam bila pekerjaan belum beres.
2. Kalaupun anak mencoba mencari uang jangan atas paksaan

Anak sekarang agak berbeda dengan anak di zaman dulu. Dahulu anak membantu orangtua mencari uang lebih karena paksaan keadaan. Seperti kemampuan ekonomi orangtua yang kurang. Akan tetapi, kini anak yang dibesarkan di keluarga menengah ke atas juga dapat atas keinginannya sendiri mau mencoba bekerja.
Bisa karena paparan tayangan tentang anak seumurnya yang sudah punya uang sendiri, meniru kawan, atau ingin membeli sesuatu. Keinginan yang murni atas inisiatifnya sendiri boleh saja diizinkan. Namun, jangan pernah orangtua memaksa anak buat mencari uang sendiri.
3. Pembatasan jenis pekerjaan dan waktunya

Walaupun orangtua boleh mengizinkan anak mencari uang sendiri, tetap harus ada pembatasan. Batasan ini terkait jenis pekerjaan serta waktunya. Kalau keduanya gak dikontrol, anak akan kelelahan serta sulit berkonsentrasi ke pendidikannya.
Padahal, bersekolah adalah tugasnya yang utama. Larang anak melakukan pekerjaan yang terlalu berat untuk usianya serta makan waktu. Contohnya, anak hanya boleh bekerja ringan di akhir pekan kalau kalian gak sedang pergi berwisata. Juga saat libur sekolah. Pun tetap per hari cuma beberapa jam. Gak selama jam kerja orang dewasa yang sekitar 8 jam.
4. Orangtua wajib menakfkahi secara penuh meski pendapatan anak besar

Kalaupun anak sukses sekali dalam pekerjaan sehingga uangnya banyak, orangtua tidak boleh melepaskan tanggung jawab atas nafkahnya. Bahkan bila pendapatan anak dari pekerjaannya berlipat-lipat dari gaji kedua orangtua yang digabungkan. Kamu serta pasangan tetap harus mencukupi semua kebutuhan anak tanpa terkecuali.
Jangan ada pemikiran sedikit pun nantinya penghasilan anak bisa ditabung untuk kelak ia berkuliah. Biaya pendidikannya tetap tanggung jawab penuh orangtua sampai tuntas selama kalian masih hidup dan cukup sehat buat bekerja. Jangan pula menghentikan jatah uang saku anak dengan alasan dia bisa beli jajan sendiri.
5. Anak harus tahu uang yang diperolehnya

Anak yang masih kecil boleh jadi belum memahami dengan baik soal uang. Baik tentang jumlah, penyimpanan, maupun uangnya akan dipakai buat apa. Meski begitu, sebagai individu yang bekerja sehingga menghasilkan uang tersebut, anak berhak tahu.
Sementara orangtua bahkan wajib memberitahukannya. Tentu dengan kalimat yang mudah dipahami tanpa mengaburkan intinya. Misalnya, anak menjadi model iklan.
Beri tahu besaran uang yang didapatkannya dari sekali syuting. Tunjukkan angkanya tidak hanya dalam catatan orangtua. Namun, juga di buku tabungan yang menjadi tempat penampungan penghasilan anak.
6. Niat menyimpankan uang anak jangan ujungnya dibawa kabur

Nasib beberapa pesohor cilik yang kurang beruntung karena uang hasil kerja kerasnya dibawa kabur orangtua patut menjadi pelajaran berharga. Masa depan tidak ada yang tahu. Boleh jadi pasangan suami istri berpisah.
Siapa pun yang saat ini bertugas menyimpankan uang anak benar-benar harus dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Sebaiknya ada perjanjian hitam di atas putih atau semacam surat pernyataan tertulis bahwa rekening tertentu digunakan khusus buat menampung hasil kerja keras anak. Walaupun rekening tersebut atas nama salah satu orangtua, seluruh isinya adalah milik anak.
7. Orangtua tak boleh mendapatkan gaji karena membantu pekerjaan anak

Sudah menjadi kewajiban orangtua mana pun untuk membantu anak. Apalagi anak masih di bawah umur. Misalnya, anak menjadi penyanyi cilik. Tentu anak kudu diantar oleh orangtua saat pentas atau rekaman.
Orangtua juga yang mengaturkan jadwalnya dan menandatangani berbagai perjanjian. Akan tetapi, ini tidak berarti orangtua bekerja pada anak sehingga pantas digaji. Sebelum anak cukup umur di mata hukum memang itulah tugas orangtua.
Lain halnya bila kelak anak telah dewasa. Dia boleh jadi masih membutuhkan bantuan orangtua untuk mengatur dan mempersiapkan keperluannya manggung atau rekaman. Sistem gaji atau bagi hasil dapat diterapkan.
Anak tetap perlu diperkenalkan pada kerja keras. Agar kelak dia memiliki etos kerja yang tinggi setelah dewasa. Akan tetapi, prinsip kehati-hatian dan jaga batasan harus tetap dipegang. Jangan sampai anak keasyikan bekerja sampai enggan bersekolah atau justru orangtua yang mengeksploitasinya.



![[QUIZ] Kalau Hubunganmu Kayak Duo Upin Ipin, Kamu dan Pasangan Tipe Mana?](https://image.idntimes.com/post/20260520/pexels-katerina-holmes-5911298_0f3c3843-0768-44ee-ac8d-27c8b8571a20.jpg)














