Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Contoh Cerita Legenda di Indonesia, Singkat dan Populer!

ilustrasi menggunakan lampu yang nyaman untuk membaca buku di malam hari
ilustrasi menggunakan lampu yang nyaman untuk membaca buku di malam hari (pexels.com/Ron Lach)
Intinya sih...
  • Legenda Roro Jonggrang: Kisah cinta tragis dengan pesan moral tentang proses dan kebaikan.
  • Legenda Danau Toba: Cerita tentang janji yang dilanggar dengan akibat yang menyedihkan.
  • Legenda Batu Menangis: Kisah tentang kutukan karena durhaka pada orang tua.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cerita legenda merupakan salah satu jenis cerita rakyat yang kisahnya diturunkan turun-temurun. Cerita ini bertujuan untuk mengajarkan suatu budaya dan melestarikannya. Hal ini karena cerita legenda sering kali berkaitan dengan sebuah tempat atau peristiwa penting yang memiliki pesan moral. 

Bukan hanya berbicara soal adat dan budaya, cerita legenda juga sering kali dibumbui dengan hiburan dan pesan moral. Karena itu, cerita legenda dibacakan kepada anak saat hendak tidur. Berikut ini contoh cerita legenda singkat dan mudah untuk kamu hafalkan. 

1. Legenda Roro Jonggrang

Ilustrasi seorang ibu membacakan dongeng
Ilustrasi seorang ibu membacakan dongeng (pexels.com/@olly)

Dahulu, terdapat kerajaan bernama Prambanan yang dipimpin oleh Prabu Baka. Ia memiliki putri bernama Roro Jonggrang. Rakyat merasa sejahtera di bawah kerajaan tersebut.

Berbeda dengan Kerajaan Prambanan, Kerajaan Pengging memiliki raja yang buruk. Ia suka berperang dan memperluas wilayah kekuasaannya. Raja Pengging pun memiliki ksatria bernama Bandung Bondowoso.

Tak hanya kuat, Bandung Bondowoso juga sakti. Suatu hari, ia diperintahkan untuk menaklukkan Kerajaan Prambanan. Usaha penaklukan pun berhasil dilakukan. Raja Baka tewas, Kerajaan Prambanan pun jatuh pada Kerajaan Pengging.

Tersisa Roro Jonggrang yang ternyata disukai oleh Bandung Bondowoso. Usai kalah, ia malah dipinang oleh Bandung Bondowoso untuk jadi permaisurinya.

Roro Jonggrang sebenarnya tak mau menerima, tapi di sisi lain kasihan dengan rakyat Kerajaan Prambanan. Alhasil, Roro Jonggrang memberikan syarat untuk dibuatkan 1.000 candi dan 2 sumur dalam semalam. Ternyata, Bandung Bondowoso menyanggupi. Dengan pasukannya, ia nyaris berhasil membangun candi dalam semalam.

Tapi, ia gagal membangun candi keseribu karena pasukannya mengira hari sudah pagi usai mendengar bunyi ayam berkokok. Rupanya, usaha Bandung digagalkan oleh Roro Jonggrang. Mengetahui Roro Jonggrang yang mencuranginya, alhasil putri raja itu akhirnya dikutuk menjadi candi keseribu.

Pesan moral dari cerita ini ialah tidak ada pencapaian yang dapat diraih dengan instan. Semuanya butuh proses. Kemudian, janganlah berbuat buruk. Kelak, keburukan akan berbalik menimpa diri sendiri.

2. Legenda Danau Toba

ilustrasi seorang anak sedang bercerita bersama ayahnya
ilustrasi seorang anak sedang bercerita bersama ayahnya (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Pada zaman dahulu, terdapat pria bernama Toba. Suatu hari, ia hendak memancing. Tapi, apa yang ia tangkap dari pancingan ternyata adalah ikan mas yang berubah jadi putri cantik. Putri itu kemudian berterima kasih pada Toba karena membebaskannya.

Putri itu bersedia menjadi istri Toba. Namun dengan syarat, Toba tak boleh menceritakan asal-usulnya. Mereka akhirnya menikah dan memiliki anak yang dinamai Samosir. Samosir tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, tapi sayangnya sedikit nakal.

Suatu ketika, Samosir diminta membawakan bekal makanan untuk ayahnya. Di tengah jalan, Samosir malah memakannnya hingga bekalnya sedikit. Sampai pada ayahnya, Toba terkejut bekal yang dibawakan sedikit. Merasa kecewa, Toba malah memarahi Samosir.

Ia melanggar janjinya sampai menyebut Samosir adalah anak ikan yang tidak tahu diuntung. Samosir sontak kaget dan sedih. Ia langsung pulang dan mengadu pada ibunya. Janji yang telah dilanggar akhirnya berbuah pahit. Sang istri dan Samosir tiba-tiba hilang.

Kemudian, hilangnya mereka malah berganti menjadi semburan air yang dahsyat di dekat tempat tinggalnya. Alhasil, semburan tersebut menjadi danau yang kemudian dinamakan Danau Toba. Sementara, pulau di tengahnya diberi nama Samosir.

Pesan moral dari cerita ini adalah jangan sekali-sekali melanggar janji yang sudah disepakati.

3. Legenda Batu Menangis

ilustrasi buku cerita anak
ilustrasi buku cerita anak (pexels.com/Lina Kivaka)

Berkisah tentang seorang gadis yang cantik, namun perilakunya tak seelok rupanya. Ia merupakan anak dari ibu tunggal yang pekerja keras.

Suatu saat, gadis itu diajak ibunda pergi ke pasar yang jaraknya jauh dari rumah. Mereka harus melewati desa-desa untuk mencapainya. Lagi-lagi, gadis itu sibuk memamerkan kecantikannya di depan masyarakat desa.

Parahnya, ia berlagak seperti majikan, sementara ia menganggap sang ibunda seperti pembantunya. Setiap kali ditanya warga, ia hanya membalas bahwa ibunda adalah pembantunya. Sekali, dua kali, ibunda masih tegar.

Tapi, begitu gadisnya berbohong berkali-kali, hati ibunya menjadi sakit. Kerja keras dan keberadaannya seolah tak dianggap. Sampai akhirnya, ibunda berhenti dan berdoa agar gadisnya diberi pelajaran.

Gadis itu kemudian merasa aneh. Kakinya kaku dan ia terkejut melihat kakinya berubah jadi batu. Rupanya, ibunda mengutuknya. Baru separuh badan menjadi batu, gadis itu memohon ampun. Tapi, sudah terlambat. Sampai ia menangis-nangis, kutukan itu berlanjut. Hingga jadi batu pun, air mata sang gadis masih berlinang.

Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita ini adalah jangan durhaka pada orang tua. Berbaktilah pada orang tua.

4. Dongeng Sangkuriang

ilustrasi membacakan cerita pada anak (freepik.com/freepik)
ilustrasi membacakan cerita pada anak (freepik.com/freepik)

Dayang Sumbi merupakan perempuan sakti keturunan Raja Sungging Perbangkara. Parasnya rupawan dan kala itu, ia menolak lamaran dari para lelaki yang sering ia terima. Suatu saat, ia mengasingkan diri bersama anjingnya, Tumang, ke hutan. Gulungan benang jahitan tenunnya jatuh.

Dayang Sumbi kemudian tanpa sadar melontarkan pernyataan, siapa saja yang dapat mengambilkan gulungan benang tersebut, jika dia perempuan, akan dijadikan saudara. Namun, jika laki-laki, maka akan dijadikan suami.

Di luar dugaan, si Tumang mengambilkan gulungan tersebut. Karena sudah berjanji, akhirnya Dayang Sumbi menikah dengan si Tumang. Rupanya, Tumang adalah titisan dewa yang menjelma menjadi anjing. Dari pernikahan itu, lahir anak yang diberi nama Sangkuriang.

Suatu hari, ketika Sangkuriang hendak berburu bersama Tumang, disuruhnya Tumang untuk mengejar babi betina Wayung, yang tak lain adalah ibu dari Dayang Sumbi. Karena tidak menuruti perintah Sangkuriang, dibunuhlah si Tumang oleh Sangkuriang. Hati si Tumang diambil oleh Sangkuriang dan diberikan kepada ibunya, Dayang Sumbi untuk dimasak dan disantap.

Mengetahui bahwa yang dimakannya itu adalah hati si Tumang, kemarahan Dayang Sumbi memuncak. Seketika itu, kepala Sangkuriang dipukul hingga terluka dan diusir dari tempat tinggalnya.

Waktu terus berlalu, hingga Sangkuriang tumbuh menjadi lelaki yang gagah dan tampan. Entah berapa lama dia berkelana hingga tanpa disadari, Sangkuriang kembali ke hutan tempat asalnya. Ia bertemu perempuan cantik yang tak lain adalah Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi awalnya tak tahu itu anaknya. Keduanya saling menyukai. Tapi, begitu ia kenal dan sadar bahwa pria yang ingin menikahinya adalah Sangkuriang, ia makin terkejut. Alhasil, ia memberikan satu syarat. Sangkuriang harus mampu membuat danau dan perahu serta membendung sungai Citarum dalam waktu satu malam.

Sangkuriang menyanggupi persyaratan ini karena telah berguru dan menjadi orang sakti mandraguna. Alhasil, Sangkuriang ternyata mampu memenuhi persyaratan yang diberikan Dayang Sumbi kepadanya. Dengan segala upaya, Dayang Sumbi berhasil membuat Sangkuriang geram. Ia menendang perahu yang setengah jadi dengan sekuat tenaga dan terguling dalam keadaan tertelungkup hingga akhirnya muncul sebutan Tangkuban Parahu.

Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini ialah bersikaplah jujur karena kejujuran akan membawa kebaikan dan kebahagiaan di kemudian hari. Perbuatan curang akan merugikan diri sendiri serta bisa mendatangkan musibah bagi diri sendiri maupun orang lain.

5. Kisah Malin Kundang

Ilustrasi mendongeng
Ilustrasi mendongeng (pexels.com/ Cottonbro studio)

Alkisah, hiduplah seorang bunda yang berprofesi sebagai nelayan. Ia merupakan orangtua tunggal yang hidup bersama putra satu-satunya, Malin Kundang. Penghasilan ibunda itu tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ketika beranjak dewasa, Malin meminta izin pada ibunda untuk merantau. Ia ingin mengadu nasib, siapa tahu ia beruntung. Berlayarlah Malin dan merantau selama beberapa tahun.

Beberapa tahun setelahnya, harapan Malin tercapai. Ia menjadi orang yang berhasil dan menjadi saudagar kaya raya. Ia sampai menikah dengan putri bangsawan. Sayangnya, ia berbohong mengenai latar belakangnya pada keluarga sang istri.

Suatu ketika, Malin rindu kampung halaman. Ia pulang ke kampung mengajak serta istrinya. Ia pun berbagi-bagi uang kepada masyarakat desa. Kedatangan Malin pun sampai ke telinga ibunda.

Tak sabar, ibunda langsung bergegas menemui Malin. Tapi, apa yang ia harapkan tak sesuai kenyataan. Malin tahu itu ibunda, tapi tak mau mengaku di depan istrinya karena malu ibunda berpakaian lusuh. Istrinya pun kebingungan karena Malin mengaku padanya kalau ibunda sudah tiada.

Merasa sakit hati, ibunda Malin pun mengutuknya. Tak lama, turun hujan deras. Permintaan ampun Malin tak lagi didengar. Ia pun berubah menjadi batu.

Pesan moralnya adalah sayangilah ibunda karena perjuangannya melahirkan, merawat, serta mendidik tak ada bandingannya dengan apa pun yang dilakukan anak.

6. Legenda Timun Emas

ilustrasi ibu membacakan cerita untuk anak sebelum tidur (pexels.com/Artem Podrez)
ilustrasi ibu membacakan cerita untuk anak sebelum tidur (pexels.com/Artem Podrez)

Mbok Sirni adalah seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja. Suatu hari, ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan suatu syarat. Apabila anak itu berusia enam tahun, maka ia harus diserahkan ke raksasa itu untuk disantap.

Mbok Sirni pun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat. Setelah dua minggu, di antara buah ketimun yang ditanamnya, ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.

Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata, isinya seorang bayi cantik yang diberi nama Timun Emas. Semakin hari, Timun Emas tumbuh menjadi gadis jelita.

Suatu hari, datanglah raksasa untuk menagih janji. Mbok Sirni amat takut kehilangan Timun Emas. Ia pun mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi dengan iming-iming semakin dewasa, semakin enak Timun Emas untuk disantap. Raksasa pun setuju.

Mbok Sirni semakin sayang pada Timun Emas. Setiap kali ia teringat akan janjinya, hatinya menjadi cemas dan sedih. Suatu malam, Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya selamat, ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Akhirnya, ia pergi di pagi hari.

Di Gunung Gundul, ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya di rumah, diberikannya 4 bungkusan tadi kepada Timun Emas. Disuruhnya Timun Emas berdoa.

Pagi hari datang, raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun Emas disuruh keluar lewat pintu belakang oleh Mbok Sirni dan raksasa pun mengejarnya. Timun Emas teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya.

Raksasa memakannya, tetapi buah timun tersebut malah menambah tenaga si raksasa. Kemudian, Timun Emas menaburkan jarum sampai sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah, raksasa terus mengejar. Lantas, Timun Emas membuka bingkisan yang berisi garam dan ditaburkannya.

Seketika hutan pun menjadi lautan luas. Dengan kesaktiannya, raksasa dapat melewati. Setelahnya, Timun Emas kemudian menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih dan raksasa pun mati. Akhirnya, Timun Mas dan Mbok Sirni hidup bahagia dengan damai.

Pesan moral dari cerita legenda ini adalah setiap perbuatan jahat akan mendapat balasan dan ganjaran di kemudian hari. Jadi, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.

7. Kisah Putri Ular

ilustrasi ayah ikut mendampingi anak sebelum tidur (pexels.com/Pavel Danilyuk)
ilustrasi ayah ikut mendampingi anak sebelum tidur (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Suatu negeri di kawasan Simalungun, hiduplah seorang raja yang baik dan arif. Raja tersebut memiliki seorang putri yang jelita dan tersohor ke seluruh pelosok negeri. Selain raja tersebut, ada pula seorang raja muda yang memerintah tidak jauh dari kerajaan ayah sang putri.

Mendengar kabar tersebut, raja muda yang tampan itu berniat untuk melamar sang putri. Keesokan harinya, rombongan utusan raja muda datang ke tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka segera menyampaikan pinangan dari rajanya dan dengan sukacita diterima oleh ayah sang putri. Raja muda sangat gembira mengetahui pinangannya diterima.

Malamnya, sang raja memberitahukan pada putrinya bahwa ada seorang raja muda yang meminangnya. Dengan malu-malu, putri mengangguk bersedia. Sang raja mengingatkan putrinya untuk menjaga diri baik-baik agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahan.

Suatu hari, sang putri pergi mandi ditemani beberapa orang dayang di kolam di belakang istana. Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu sambil membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti. Saat sang putri asyik mengkhayal, tiba-tiba angin bertiup kencang dan ranting pohon yang ujungnya tajam jatuh tepat mengenai hidungnya dan menjadi luka.

Sang putri panik membayangkan pernikahannya dengan raja muda akan gagal. Pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya hingga ia putus asa. Sambil menangis, ia berdoa minta dihukum atas perbuatannya tersebut. Tidak lama kemudian, petir menyambar dan seketika kaki sang putri mengeluarkan sisik.

Sisik tersebut semakin merambat ke atas. Dayang-dayangnya kaget dan segera memanggil kedua orang tua putri. Sesampainya di kolam pemandian, mereka sudah tidak melihat sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung di atas batu.

Ular besar penjelmaan sang putri pun segera pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayangnya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun menyesali nasib malang sang putri.

Pesan moral dari kisah ini adalah berhati-hati dengan permohonan atau perkataanmu. Hal apa pun yang membuat kalian sedih, jangan sampai dijadikan permohonan untuk sesuatu yang buruk.

Indonesia masih memiliki beragam cerita legenda dengan banyak pesan moral di dalamnya. Untuk mengetahuinya, kamu dapat membaca buku mengenai rangkuman cerita legenda yang ada di Indonesia. Contoh cerita legenda singkat di atas, dapat kamu gunakan untuk bercerita maupun dihafalkan. Semoga membantu!

Penulis: Dara Mardotilah

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Alasan Shio Kuda Suka Pamer Kelebihan di Antara Teman-temannya

07 Jan 2026, 13:14 WIBLife