"Akar masalah loneliness pada generasi muda urban bukan sekadar kurangnya aktivitas di luar rumah, melainkan ketersediaan support system serta hadirnya sense of belonging di lingkungan tempat mereka beraktivitas sehari-hari," ungkap Lika Aprilia Samiadi, VP of Marketing Rukita, dalam rilis yang diterima IDN Times.
Di Tengah Ramainya Kota, Mengapa Anak Kost Rentan Merasa Kesepian?

Riset Rukita menunjukkan 67,2 persen anak kost Gen Z dan Milenial mengalami kesepian sedang hingga tinggi.
Jarak dari keluarga, pasangan, atau sahabat dekat menjadi salah satu pemicu kesepian bagi anak kost.
Kegiatan komunitas dan ruang interaksi dinilai berdampak positif bagi kesehatan emosional serta mental penghuni kost.
Kesepian tampaknya menjadi fenomena yang tidak lagi asing bagi generasi muda. Ketika teknologi dan media sosial bisa mempermudah interaksi, nyatanya hal tersebut gak bisa menjadi indikator seseorang dikatakan tidak kesepian.
Mungkin kamu pernah mendapati seseorang yang hidupnya selalu produktif dan punya banyak teman. Dari luar, hidupnya terlihat ramai tapi ketika malam tiba, yang dirasakannya hanyalah sepi. Atau mungkin, fenomena ini juga kamu rasakan?
Buat anak rantau yang mau tidak mau dituntut mandiri, perasaan kesepian ini kerap kali mampir tanpa permisi. Terhubung secara digital atau sering berinteraksi langsung pun belum tentu membuat seseorang terhubung secara emosional. Bahkan, kesepian pun menjadi salah satu tantangan besar yang memengaruhi kesehatan mental mereka.
Hal tersebut juga tergambar dalam riset terbaru Rukita yang dirilis dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia. Survei terhadap anak kost dari kalangan Milenial dan Gen Z menunjukkan bahwa kesepian masih menjadi tantangan besar, sekaligus menegaskan pentingnya komunitas sebagai salah satu faktor yang dapat membantu menjaga kesehatan mental.
1. 67,2 persen orang mengalami tingkat kesepian sedang hingga tinggi

ilustrasi kesepian (pexels.com/mikoto.raw photographer) Rukita melakukan riset kepada 192 responden anak kost yang terdiri dari Gen Z dan Milenial di kawasan perkotaan. Riset ini mengungkapkan data bahwa ada 67,2 persen orang yang mengalami tingkat kesepian sedang hingga tinggi. Sedangkan, 54,7 persen mengaku memiliki kegiatan lebih dari satu selama seminggu.
Dua data yang tidak berbanding lurus ini menjelaskan bahwa aktivitas sosial belum tentu membuat seseorang merasa terhubung secara emosional. Maka, tidak heran bila seseorang bisa merasakan kesepian meskipun kehidupannya terlihat sibuk dan produktif.
American Psychological Association (APA) Dictionary of Psychology mendefinisikan kesepian sebagai perasaan tidak nyaman atau kegelisahan baik secara afektif atau kognitif. Konsep kesepian atau loneliness ini kerap timbul akibat kondisi atau persepsi diri yang sedang sendirian atau terisolasi.
2. Jauh dari support system menjadi salah satu pemicu utama kesepian

Ilustrasi kesepian (unsplash.com/Klara Kulikova) Dari riset tersebut, ditemukan lagi fakta bahwa 43,2 persen responden mengakui bahwa kesepian timbul karena berjauhan dari support system utama seperti keluarga, pasangan, maupun sahabat dekat. Bagi mereka yang tinggal di kost di bawah satu bulan (45,9 persen), rasa kesepian muncul karena masih beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Apa yang disampaikan oleh riset Rukita ini sejalan dengan laporan WHO Commission on Social Connection. Menurut WHO, kesepian berkaitan erat dengan kesenjangan antara hubungan sosial yang dimiliki dan kualitas koneksi emosional yang benar-benar dibutuhkan. Gen Z menjadi salah satu kelompok usia yang rentan mengalami kesepian.
3. Ruang berinteraksi antar sesama anak kost bisa jadi stress relief yang memengaruhi kesehatan mental

ilustrasi kesepian meski dikelilingi banyak orang (pexels.com/cottonbro studio) 10 Oktober kemarin diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Momen tersebut menjadi pengingat bagi setiap orang untuk membangun lingkungan yang saling mendengar dan suportif. Ini juga yang ditekankan oleh Rukita sebagai penyedia hunian coliving berbasis teknologi, bahwa generasi muda perantau atau anak kost juga butuh lingkungan yang positif dan mendukung.
Hasil temuan menunjukkan ada 78,3 persen responden anak kost yang menilai bahwa hadirnya kegiatan komunitas di tempat tinggal mereka memberikan dampak positif bagi kesehatan emosional dan mental. Sementara 47,8 persen mengaku bahwa adanya ruang interaksi antar sesama anak kost bisa mejadi stres relief.
Rukita sendiri berusaha membantu menjadi support system itu dengan mengadakan berbagai kegiatan komunitas. Di antaranya sudah ada 186 kegiatan komunitas sepanjang 2026 dengan lebih dari 1854 partisipan. Acara yang dihadirkan pun beragam dari olahraga, workshop kreatif dan edukatif, hingga kegiatan cultural heritage.
Seluruh kegiatan ini menjadi sarana bagi para penghuni kost untuk bisa saling bersosialisasi. Dengan begitu, mereka juga bisa menciptakan interaksi hangat yang mendukung kesehatan emosional para perantau.
“Kegiatan komunitas yang kami hadirkan dirancang untuk merajut interaksi antarpenghuni secara natural. Kami ingin menghadirkan suasana hangat yang mendukung kesehatan emosional perantau urban, sehingga mereka merasa memiliki tempat kembali dan menjadi bagian dari sebuah komunitas,” jelas Lika.
Apa yang terlihat di luar belum tentu menggambarkan apa yang seseorang rasakan. Mereka yang aktif dan terlihat sibuk belum tentu selalu bahagia dengan setiap keputusan hidupnya. Mereka yang terlihat punya banyak teman pun bisa saja merasa kesepian.
Kalau kamu merasakan hal yang sama, yuk, mulai buka ruang untuk terhubung dengan orang lain. Terkadang, interaksi kecil antar sesama teman pun bisa mengingatkanmu bahwa hidup gak harus dijalani sendirian.
























