Comscore Tracker

5 Makna Perayaan Waisak dan Tradisinya di Indonesia

Termasuk kelahiran Pangeran Siddhartha

Jakarta, IDN Times - Perayaan Hari Raya Waisak yang jatuh pada 26 Mei 2021, merupakan hari raya agama Buddha, yang juga dikenal sebagai Trisuci Waisak.

Ada banyak nasihat di balik perayaan Waisak dan tradisi perayaannya di Indonesia, terutama tentang perjalanan spiritual Siddhartha Gautama. Yuk, simak selengkapnya!

Baca Juga: Renungan Waisak di Borobudur: Hati Kotor Buat Manusia Terseret Radikal

1. Kelahiran Pangeran Siddhartha

5 Makna Perayaan Waisak dan Tradisinya di IndonesiaUnsplash/Ganesh Kumar BN

Hari Raya Waisak disebut juga sebagai Trisuci Waisak karena menggambarkan tiga peristiwa penting bagi umat Buddha. Ketiga peristiwa itu terjadi di bulan purnama pada bulan Mei, namun sesekali bisa jatuh pada akhir April atau awal Juni.

Peristiwa penting pertama adalah lahirnya Pangeran Siddhartha Gautama pada tahun 623 SM di Taman Lumbini. Siddharta Gautama kini lebih dikenal sebagai Buddha Gautama, pendiri ajaran Buddha.

Berdasarkan catatan sejarah umat Buddha, Taman Lumbini yang terletak di Kapilavastu, tepatnya di perbatasan Nepal dan India, adalah tempat Ratu Mayadevi melahirkan Siddhartha Gautama.

Tempat ini diresmikan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia Unesco pada 1997, dan termasuk dalam empat tempat suci bagi umat Buddha selain Kushinagar, Bodh Gaya, dan Sarnath.

2. Pangeran Siddharta menjadi Buddha Gautama setelah mencapai penerangan agung

5 Makna Perayaan Waisak dan Tradisinya di IndonesiaUnsplash/Artem Beliaikin

Peristiwa penting kedua yang disebutkan dalam Trisuci Waisak adalah diangkatnya Pangeran Siddhartha menjadi Buddha Gautama, setelah mencapai penerangan agung pada usia 35 tahun.

Peristiwa ini terjadi saat Buddha Gautama melakukan pertapaan di Bodh Gaya pada 588 SM. Bodh Gaya merupakan nama sebuah kota di negara bagian Bihar, India.

3. Kematian Buddha Gautama

5 Makna Perayaan Waisak dan Tradisinya di IndonesiaUnsplash/Anjali Mehta

Peristiwa penting ketiga adalah kematian Buddha Gautama pada usia 80 tahun, tepatnya pada 543 SM. Buddha Gautama wafat di Kusinara, yang kini disebut sebagai Kushinagar, sebuah kota di negara bagian Uttar Pradesh, India.

Di kota Kushinagar ini terdapat pusat ziarah Buddhis internasional yang selalu ramai dikunjungi, baik untuk keperluan ziarah maupun wisata.

4. Ritual Pindapatta mengajarkan anjuran berbuat kebajikan

5 Makna Perayaan Waisak dan Tradisinya di IndonesiaPexels/Pixabay

Di Indonesia, perayaan Hari Raya Trisuci Waisak secara tradisional dipusatkan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ada beberapa rangkaian acara yang digelar, salah satunya yang paling ditunggu-tunggu adalah ritual Pindapatta.

Ritual ini dianggap sebagai kesempatan bagi umat Buddha atau masyarakat umum untuk berbuat kebajikan. Mereka bisa memberi dana atau makanan kepada para biksu atau biksuni saat perayaan Trisuci Waisak.

5. Menyucikan diri dan menyempurnakan ibadah lewat Pradaksina

5 Makna Perayaan Waisak dan Tradisinya di IndonesiaUnsplash/Sorrawis Chongcharoen

Ritual lain yang rutin dilakukan di Indonesia saat Hari Raya Trisuci Waisak adalah Pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi tempat suci. Ritual ini dilakukan di dua tempat, Candi Borobudur dan Candi Mendut yang sama-sama berlokasi di Kabupaten Magelang.

Pradaksina berasal dari kata “daksina” yang bermakna dari timur. Ritual Pradaksina dilakukan mulai dari timur lalu bergerak ke selatan, mengikuti arah perputaran matahari. Sementara posisi candi harus di sisi kanan umat Budhha.

Para biksu biasanya melakukan Pradaksina tujuh kali, sambil membawa air berkah. Pradaksina menyimpan makna tentang penyucian diri dan penyempurnaan ibadah. Umat Budhha melakukannya sambil membaca doa dengan khusyuk.

Demikian makna di balik Hari Raya Trisuci Waisak dan filosofi tradisi perayaannya di Indonesia. Selamat Hari Raya Trisuci Waisak bagi yang merayakan!

Baca Juga: Perayaan Waisak di Candi Muarajambi Ditiadakan

Topic:

  • Febriyanti Revitasari
  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya