Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Digital Declutter, Kebiasaan yang Mulai Banyak Dicoba
Ilustrasi bekerja (magnific.com/jcomp)

Pernah berniat mencari satu foto di galeri, tetapi malah menghabiskan waktu karena harus melewati ribuan tangkapan layar, video, dan file yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan? Atau, baru membuka ponsel beberapa menit, perhatian langsung terpecah oleh notifikasi yang datang tanpa henti? Tanpa disadari, ruang digital yang semakin "penuh" juga bisa membuat pikiran terasa ikut sesak.

Karena itulah, belakangan semakin banyak orang mulai mencoba digital declutter. Kebiasaan ini bukan sekadar menghapus file atau mengosongkan memori ponsel, melainkan menata kembali kehidupan digital agar terasa lebih sederhana, minim distraksi, dan lebih nyaman digunakan.

Di tengah aktivitas yang hampir semuanya bergantung pada layar, digital declutter menjadi salah satu cara untuk mengambil kembali kendali atas waktu dan perhatian. Lalu, apa yang membuat kebiasaan ini semakin banyak diminati?

1. Digital declutter bukan sekadar bersih-bersih ponsel

Ilustrasi bekerja (magnific.com/pressfoto)

Banyak orang mengira digital declutter hanya berarti menghapus foto atau aplikasi. Padahal, kebiasaan ini mencakup banyak hal, mulai dari menyortir dokumen, membersihkan folder unduhan, menghapus email yang menumpuk, berhenti berlangganan layanan yang sudah tidak digunakan, hingga menata ulang aplikasi agar lebih mudah diakses.

Tujuannya adalah menciptakan ruang digital yang lebih rapi dan fungsional. Saat perangkat hanya berisi hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, aktivitas sehari-hari pun menjadi lebih efisien. Kita tidak lagi menghabiskan waktu mencari file, membuka aplikasi yang tidak terpakai, atau terganggu oleh informasi yang sebenarnya tidak lagi relevan.

2. Ruang digital yang rapi membantu pikiran lebih fokus

Ilustrasi bekerja (magnific.com/jcomp)

Tanpa disadari, setiap notifikasi, email, atau ikon aplikasi yang memenuhi layar bisa menjadi distraksi kecil yang terus mengganggu perhatian. Mungkin terlihat sepele, tetapi ketika terjadi berkali-kali dalam sehari, otak dipaksa terus berpindah fokus sehingga lebih cepat merasa lelah.

Hal ini didukung oleh penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa gangguan notifikasi yang muncul berulang kali dapat menurunkan konsentrasi sekaligus meningkatkan beban mental. Sementara itu, studi dalam Computers in Human Behavior menemukan bahwa lingkungan digital yang lebih sederhana membantu seseorang tetap fokus dan lebih produktif saat menggunakan perangkat.

3. Mulainya tidak harus sekaligus

Ilustrasi main hp (pexels.com/Thirdman)

Salah satu alasan banyak orang menunda digital declutter adalah karena merasa harus merapikan semuanya dalam satu waktu. Padahal, kebiasaan ini justru lebih efektif jika dilakukan sedikit demi sedikit. Kamu bisa memulainya dari langkah paling sederhana, seperti menghapus tangkapan layar yang sudah tidak diperlukan, membersihkan folder unduhan, atau mencopot aplikasi yang tidak pernah dibuka lagi.

Setelah itu, coba atur ulang notifikasi agar hanya aplikasi penting yang bisa mengganggu perhatianmu. Luangkan beberapa menit setiap minggu untuk merapikan galeri, email, atau dokumen. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih mudah dipertahankan dibanding melakukan perubahan besar sekaligus.

Digital declutter bukan berarti mengurangi penggunaan teknologi, melainkan membuat teknologi kembali bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Ketika ruang digital terasa lebih ringan, fokus lebih mudah terjaga dan aktivitas sehari-hari pun terasa jauh lebih nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article