Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Eksploitasi Disabilitas di Media Sosial Makin Marak, Jangan Sampai Ikutan

Eksploitasi Disabilitas di Media Sosial Makin Marak, Jangan Sampai Ikutan
ilustrasi orang bermain ponsel (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Fenomena eksploitasi disabilitas di media sosial makin marak, di mana keterbatasan fisik dijadikan bahan konten demi algoritma dan popularitas, bukan untuk pemberdayaan atau inklusi.
  • Bentuk eksploitasi mencakup menjadikan disabilitas sebagai humor, objek belas kasihan tanpa izin, hingga mengabaikan aksesibilitas seperti teks terjemahan dan alt text bagi pengguna disabilitas.
  • Media juga sering menampilkan isu disabilitas tanpa melibatkan penyandangnya serta memakai diksi dramatis demi clickbait, yang memperkuat stigma dan menghambat ruang digital yang inklusif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Fenomena eksploitasi keterbatasan fisik di media sosial marak terjadi saat ini. Tujuan dari dipublikasikannya konten-konten semacam itu tentu bukan untuk pemberdayaan, tetapi demi algoritma semata. Ironis, bukan? Hal ini lantas menjadi masalah baru bagi disabilitas. Alih-alih memperoleh ruang yang inklusif di dunia digital, kelompok ini justru dijadikan sebagai komoditas.

Dampak dari fenomena tersebut adalah terjadinya inspiration porn, melanggengnya stigma terkait disabilitas sebagai objek belas kasihan, hingga terkikisnya ruang bagi mereka untuk menyuarakan hak secara mandiri. Berikut sejumlah bentuk eksploitasi keterbatasan fisik dan permasalahan kaum disabilitas yang kerap ditemukan di media.

1. Penyandang disabilitas dijadikan sebagai bahan humor dengan meniru kondisi fisik mereka

ilustrasi orang tertawa
ilustrasi orang tertawa (pexels.com/Gustavo Fring)

Bentuk eksploitasi yang paling merendahkan martabat kaum disabilitas adalah saat keterbatasan fisik dijadikan sebagai lelucon atau bahan bercanda demi memancing tawa penonton. Apakah kamu pernah melihat pembuat konten yang melakukan hal demikian? Gak sedikit pembuat konten nondisabilitas yang dengan sengaja meniru gerak tubuh penyandang disabilitas.

Ironisnya, konten semacam itu sering viral dan menghibur sebagian pengguna media sosial. Padahal, tindakan itu merupakan bentuk diskriminatif yang nyata. Menjadikan keterbatasan fisik sebagai humor demi mengejar angka penayangan merupakan bentuk normalisasi dari perundungan atau bullying di ruang digital.

2. Konten yang menggambarkan penyandang disabilitas sebagai objek belas kasihan

ilustrasi orang bermain media sosial
ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Gustavo Fring)

Fenomena eksploitasi yang gak kalah marak terjadi adalah konten yang menjadikan penyandang disabilitas sebagai objek belas kasihan. Bentuk eksploitasi ini umumnya dikemas rapi sehingga penonton gak menyadari bahwa hal itu termasuk dalam inspiration porn atau komoditas air mata.

Kenapa banyak orang yang gak menyadarinya? Sebab, video dibungkus dalam aksi sosial atau dibungkus dengan takarir yang mulia. Semakin ironis ketika pembuat konten gak meminta izin kepada orang yang bersangkutan untuk merekam dan menyebarluaskannya. Hal ini tentu termasuk dalam pelanggaran privasi. Dalam konteks ini, hak konsen penyandang disabilitas kerap diabaikan dengan dalih ingin membantu.

3. Konten yang mengabaikan aksesibilitas penyandang disabilitas

ilustrasi orang bercengkrama
ilustrasi orang bercengkrama (pexels.com/SHVETS production)

Permasalahan selanjutnya adalah konten yang mengabaikan aksesibilitas penyandang disabilitas. Di era digitalisasi seperti sekarang, aksesibilitas penyandang disabilitas terhadap teknologi justru kerap dikesampingkan.

Gak sedikit konten dibuat semata hanya untuk keindahan visual dan keviralan. Pembuat konten fokus memproduksi video atau foto bagi mayoritas pengguna, tanpa memikirkan bagaimana teman-teman disabilitas mengaksesnya. Misalnya, membagikan video hiburan atau edukasi tanpa menyertakan teks terjemahan. Hal ini membuat teman tuli sulit menyerap informasi yang disampaikan.

Selain itu, masih banyak pembuat konten yang gak mengisi fitur alt text ketika mengunggah gambar atau dokumen digital lainnya, sehingga teman netra maupun penyandang disabilitas kognitif sulit untuk memahami konteks visual yang ada karena pembaca layar mereka gak bisa menganalisis gambar.

4. Adanya fenomena disability without the disabled

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/Jopwell)
ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/Jopwell)

Poin ini adalah salah satu bentuk bagaimana media merepresentasikan kelompok disabilitas. Istilah disability without the disabled mengacu pada situasi ketika narasi maupun isu tentang disabilitas diangkat ke ruang publik, tetapi tanpa melibatkan penyandang disabilitas itu sendiri.

Dalam industri konten, fenomena ini bisa terlihat saat pembuat konten nondisabilitas mengambil peran penuh sebagai narator atas penderitaan orang lain. Mereka bisa mengarang narasi yang dramatis hingga mengambil keputusan secara sepihak mengenai apa yang terbaik bagi orang yang mereka bicarakan (dalam konteks ini berarti penyandang disabilitas). Representasi yang eksploitatif ini gak hanya membungkam suara penyandang disabilitas, tetapi juga mengembangkan stigma negatif tentang mereka.

5. Melakukan eksploitasi melalui pilihan kata yang dramatis demi mengejar clickbait

ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Ini adalah bentuk eksploitasi yang juga jarang disadari oleh pengguna media sosial. Gak sedikit media yang menggunakan diksi hiperbolis dan bombastis hanya untuk mengejar clickbait. Kata-kata seperti tragis, malang, atau menderita seumur hidup bisa memancing netizen untuk mengklik video atau artikel karena rasa penasaran dan rasa iba yang bercampur.

Pilihan kata-kata tersebut bukan bertujuan untuk mengedukasi publik, melainkan berpotensi membuat penyandang disabilitas ada dalam narasi ketidakberdayaan. Jauh dari ruang digital yang inklusif, bukan?

Berbagai macam fenomena di atas menjadi bukti nyata bahwa ruang digital kita masih sangat jauh dari kata inklusif. Maka, sebagai pengguna media sosial yang cerdas, yuk kita putus rantai eksploitasi ini!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More